Jumat, 21 Mei 2010

Peradaban Islam Abad Ke Tujuh ( Agama 4)

Pendahuluan
Al-quran memang bukan buku peradaban, namun di dalamnya sarat dengan nilai-nilai dan bukti-bukti peradaban sejarah islam. Al-quran, dengan demikian, telah memberi pelajaran kepada umat islam tentang betapa pentingnya sejarah peradaban islam. Bagi umat islam, sejarah semestinya menjadi pengingat (tazkirah), tauladan (ibrah), dan renungan (tafakur). Karena, dengan memanfaatkan sejarah, umat Islam akan mengetahui dan menyelami keadaan umat terdahulu, baik yang telah memperoleh rahmat maupun yang mendapatkan azab. Perenungan terhadap makna sejarah pada pendahulunya secara kritis dan apresiatif, semestinya menjadi pemicu bagi umat Islam untuk secara bertahap merefleksikan dan mengaktualisasikanya dalam konteks kekinianya dalam bentuk amal saleh, demi masa depan sejarahnya sendiri dan generasi berikutnya : 

            Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan di kembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu di beritakan-Nya kepad kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Ataubah,9:105)

          Karena begitu pentingnya makna peradaban sejarah Islam, bagi umat Islam sejak awal penyebaran Islam sejarah sudah merupakan bagian hidup sehari-hari. Apalagi tradisi bangsa Arab jahiliyah sebelumnya yang berkaitan dengan upaya pengapresiasian sejarah begitu kuat mengakar. Hal itu dapat di lihat dari kebiasaan bangsa Arab Jahiliah dalam mengagungkan sejarah leluhur mereka. Bahkan, sejarah peperangan antara suku mereka di abadikan dalam syair-syair yang dinamakan Ayammul Arab. Selain itu, merka juga mengembangkan system nasab (keturunan) sehingga silsilah mereka terurai lengkap, menjadi rangkaian sebuah sejarah system nasab ini telah mengawali penulisan biografi di kalangan umat Islam.

Permasalahan
Peradaban Islam yana terjadi pada abad ketujuh, dan pada masa kekhalifahan :
  1. Abu Bakar (573-634)
  2. Ali bin Abi Thalib (600-680)
Pembahasan

ABU BAKAR
573-634 M.
Abu Bakar termasuk seorang laki-laki yang pertama kali masuk Islam, selain seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah sebelum dan sesudahnya. Dia juga menemani Rasulullah ketika berhijrah ke kota Madinah, dan mengikuti berbagai peperangan bersama Rasulullah. Dia di gelari al-shiddiq karena senantiasa membenarkan semua hal yang dibawa oleh Muhammad, atau karena dia tidak pernah berkata kecuali yang benar. Abu Bakar juga merupakan mertua Nabi saw. Karena putrinya, Aisyah, dinikahi Nabi. Nabi pernah mengutusnya memimpin kaum Muslim melakukan ibadah haji sebagai penggantinya pada tahun kesembilan Hijriyah. Selain itu, dia juga pernah menggantikan kedudukan Nabi menjadi imam shalat ketika Nabi sakit. Itulah antara lain yang mendorong kaum Muslim memilihnya sebagai khalifah setelah Rasulullah saw. wafat. Dialah khalifah pertama di antara para al-Khulafa’ al-Rasyidun.

            Sebelum masuk Islam, Abu Bakar adlah seorang pedagang. Setelah masuk Islam, dia begitu cepat menjadi anggota yang paling menonjol dalam jamaah Islam setelah Nabi. Dia terkenal karena keteguhan pendirian, kekuatan iman, kesetiaan, dan kebijakan pendapatnya. Kalaupun dia hanya satu atau dua kali diangkat sebagai panglima perang oleh Nabi tidak seperti Ali bin Abi Thalib yang sangat lincah dalam memimpin peperangan hal itu barangkali di sebabkan Nabi menghendaki agar Abu Bakar mendampinginya untuk bertukar pendapat atau berunding.

            Kebijakan dan keteguhanya tampak pada hari-hari yang sangat kritis sepeninggal Rasulullah saw. Ketika sebagian orang antara lain Umar tidak percaya bahwa Nabi telah wafat, Abu Bakar membenarkanya. Abu Bakar pada saat itu menyampaikan khotbahnya yang sangat terkenal. Isinya antara lain, “Ketahuilah, siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Dan barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah maha hidup, tidak mati.” Abu Bakar mengingatkan mereka bahwa sesungguhnya dakwahnya hanya untuk Allah semata, untuk melaksanakan syarikat-Nya, dan untuk mengesakan-Nya. Sedangkan, Rasulullah adlah seorang manusiayang memberi peringatan dan kabar gembira. Kalaupun Rasulullah meninggal dunia, ajaran-ajaran yang dibawanya tidak akan mati.  

            Tatkala para mujahirin dan anshar bertikai mengenai pengganti Rasulullah pertikaian itu hampir saja menyulut pembunuhan dan perpecahan di antara mereka peran Abu Bakar sangat besar dalam meredakan kekhawatiran orang anshar terhadap tindakan semena-mena kaum muhajirin. Dia berhasil mendamiakan mereka agar tetap hidup bersatu, menyingkirkan perpecahan dan permusuhan demi tegaknya agama Islam.

            Ketika sebagaian kabilah bangsa Arab enggan mengeluarkan zakat, dua minggu setelah beliau diangkat sebagai khalifah, Abu Bakar berpendapat bahwa orang yang tidak mau mengeluarkan zakat itu murtad. Karena itu, barang siapa mengingkari yakat sebagai rukun Islam, hal itu akan berlanjut kepada pengingkaran yang lebih besar. Oleh karena itu, Abu Bakar merencanakan peperangan terhadap mereka meskipun sebagian sahabat menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk itu, bahkan menakuti Abu Bakar bahwa jumlah musuh lebih banyak sehingga setan akan menungganginya sebagaimana layaknya sebagaimana dia menaiki tunggangan. “Demi Allah, jika mereka mencegahku untuk melakukan itu, aku akan tetap memerangi mereka. Uku akan meminta pertolongan kepada Allah. Karena, sesungguhnya Dia sebaik-baik penolong,” tekad Abu Bakar.

            Betapa banyak golongan yang jumlahnya sedikit tetapi mereka mampu mengalahkan golongan yang jumlahnya banyak dengan izin Allah. Dan Allah akan beserta orang-orang yang sabar. (QS 2:249).   

            Ketika banyak orang yang kembali kepada kepercayaanya semula setelah Rasulullah saw. meninggal dunia, dan muncul beberapa orang yang mengaku sebagai nabi, dengan segera Abu BAkar mengirimkan pasukan perang untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Apabila mereka enggan menerima ajakan itu, pasukan itu akan menyerang mereka dan tidak menerima siapa pun kecuali dia telah msuk Islam. Dengan tindakan ini, khalifah yang selalu dikenal dengan sifat kasih saying dan kelembutanya, kini menampakan keberanian, kekerasan, kemauan yang dahsyat, agar kelemahan tidak merasuk ke dalam jiwa kaum Muslim. Negara baru yang masih sangat muda usianya telah menghadapi kendala berat yang hampir melemahkan dan membunuhnya.

            Dengan kebijakanya, Abu Bakar menyadari bahwa jika Islam hendak disebarkan di antara kabilah-kabilah bangsa Arab, dia harus mengerahkan pasukannya untuk membuka daerah baru. Karena itu, pada masa kekhalifahannya dimulailah ekspedisi pasukan Islam secara besar-besaran. Dia mengutus pasukan yang di pimpin oleh Khalid bin al-Walid dan Mutsanna bin Haritsah ke irak beserta Yazid bin Abu Sufyan, Syurahbil bin Hasanah, dan ‘Amr bin ‘Ash ke Syam.

            Abu Bakar meninggal dunia pada saat berkecamuknya perang Yarmuk yang berlangsung selama tiga bulan dengan kemenangan di tangan kaum Muslim atas bangsa Romawi. Ketika dia menghawatirkan kaum Muslim akan kembali bertikai dan bertengkar mengenai pengganti pengganti dirinya sebagai khalifah, maka sebelum wafat, dia telah menetepkan ‘Umar bin al-Khathab sebagai khalifah kaum Muslim setelah dirinya.

            Selama hayat hingga masa-masa menjadi khalifah, Abu Bakar dapat dijadikan sebagai teladan dalam kesederhanaan, kerendahan hati, kehati-hatian, dan kelemah- lembutan pada saat dia kaya dan memiliki jabatan yang tinggi. Dengan sikap seperti itu, dia mendapat penghormatan dan kepercayaan dari kaum Muslim. Sejarah akan tetap mengenangnya karena dia juga menjadi “penyambung lidah” Nabi. Selain itu, pada masa kekhalifahannya tidak lebih dari dua tahun dia mampu menegakan tiang-tiang islam, termasuk di luar jazirah Arabia yang lebih luas. Dia dapat di kategorikan sebagai orang yang memulai babak baru dalam mendirikan imperium Arabia.

ALI BIN ABI THALIB
600-661 M.

            Ali adalah Khalifah keempat atau yang terakhir diantara empat khalifah rasyidin lainya. Ali adalah putra paman Nabi saw. dan suami putri Nabi, Fatimah. Dialah anak kecil yang pertama kali memeluk islam. Tentang diri Ali, Al-Jahizh berkata, “Tidak ada orang yang patut disebut masuk islam paling dini kecuali Ali. Tidak ada yang pantas disebutkan melebur dirinya dengan Islam kecuali Ali. Ketika disebutkan orang yang paling memahami maslah agama, dan ketika disebutkan tentang kezuhudan pada saat manusia memperebutkan dunia, maka hanya Ali yang pantas disebutkan untuk itu semua.”

            Dia sangat gemilang dan senantiasa memperoleh kemenangan dalam berbagai peperangan di zaman Nabi saw. Karena Ali menurut riwayat yang berasal dari Syi’ah dan juga Ahleusunah kaum Muslim kerapkali memenangkan peperangan. Namun, karena satu hal, dia tidak mau ikut serta dalam peperangan serta penakhlukan wilayah baru sepeninggal Nabi saw. Barangkali hal itu disebabkan oleh keraguan yang dialami ketiga khalifah pertama bahwa Ali berupaya menuntut kekhalifahan pada saat dia sendiri berada di salah satu kota. Karena itu, mereka menyuruhnya tinggal di kawasan Hijaz yang tidak jauh dari mereka.

            Tatkala Ali menjabat khalifah setelah mereka, fitnah pun bermunculan. Banyak orang (termasuk sebagian besar para sahabat Nabi, bahkan isteri Nabi, A’isyah) tidak rela dengan kedudukan Ali. Dia sendiri tidak mungkin memaksa orang untuk taat kepadanya, apalagi memerangi mereka dengan harapan dia ditaati. Ali ingin menjaga persatuan umat Islam. Namun, persoalanya semakin rumit, kedudukannya semakin lemah, dan umat pun berpecah bela. Pada akhirnya kekhalifahannya menjadi lemah, dan berbuah seperti sebuah kerajaan.

            Ali adlah orang yang dikaruniayi pemahaman yang sangat baik terhadp agama dan dunia. Pada saat yang sama dia di hadapkan kepada Mu’awiyah, musuhnya dalam dunia politik dan pemikiran. Musuh-musuhnya sering mengomentari Ali sebagai penduduk bumi yang paling taat melakukan ibadah, paling zuhud, paling pandai, dan paling takut kepada Allah. Dia adalah khalifah yang paling baik kalau saja dia manjabat sebagai khalifah pada saat yang tepat. Ali ingin mengembalikan manusia kepada jalan yang di tempuh oleh Nabi dan dua orang pendahulunya. Namun, mereka tidak menuruti keinginannya dan tidak percaya sepenuhnya kepadanya. Mereka melihat bahwa Ali adalah khalifah lama yang mengatur generasi baru. Mereka melihat bahwa Ali adalah orang aneh yang hidup ditengah-tengah mereka. Orang-orang kaya menjadi benci kepadanya, karena mereka mengetahui bahwa Ali tidak membawa ketenangan dalam hidup mereka. Ali selalu menghitung-hitung yang di peroleh mereka, dan menjatuhkan hukuman kepada mereka yang berlebihan. Mereka tidak dapat hidup tamak terhadap harta kekayaan ketika kekhalifahan berada di tangan Ali. Akhirnya, orang-orang kaya itu mengkhianati Ali dan menyokong musuh-musuhnya.
            Ringkasnya, satu hal yang amat tregis terjadi ketika dia tidak kuasa lagi meyakinkan bahwa dirinya adalah teladan, dari segi ketakwaan dan ketetapanya terhadap kebenaran yang diyakininya. Dia tidak memberi toleransi terhadap uasana yaman yang dia hidup di dalamnya, dan tidak memberi kelonggaran terhadap tuntutan yaman dan orang-orang yang hidup pada masa itu. Dunia menuntut dirinya, sampaipun pada saat-saat kekhalifahannya, adalah tempat sementara dan bukan tempat yang abadi. Ketika dia sedang mendekatkan diri kepada Allah swt., tidak ada seorang pun yang mampu menirunya. Dia sangat keras dalam menjalankan urusan polituk. Setelah penakhlukan di zaman dua khalifah pertama, Abu Bakar dan Umar, mata orang Arab terbuka terhadap peradaban luar. Selain itu, mereka mulai terpesonadengan perkembangan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh orang luar. Mereka mengumpulkan harta kekayaan untuk membangkitkan kembali hal-hal yang telah terlupakan, dan memenuhi segala hasrat mereka yang baik ataupun yang tidak baik. Sedikit sekali Ali termasuk didalamnya orang yang hidup pada akhir zaman yang menempatkan urusan agama di atas segalanya. Ali telah benar-benar berupaya, pada masa kekhalifahannya, mengembalikan manusia kepada suasana keruhanian sebelum melakukan penakhlukan berbagai wilayah. Akan tetapi, ai tidak berhasil melakukanya.

            Musuh-musuhnya menjuluki Ali sebagai orang yang terukung, berwawasan sempit. Mereka menilai Ali tidak mampu membawa dirinya sesui dengan perubahan zaman, sangat keras dalam menerapkan hokum-hukum Islam, dan keengganan menerima pendapat sahabat-sahabatnya yang mengatakan bahwa zaman telah berubah dan tidak sama dengan zaman Nabi saw. Meskipun demikian, Ali telah meninggalkan kesanh bagi orang yang hidup sezaman dengannya bahwa dia adalah orang kuat, sehingga banyak orang yang menghormati dan mengikutinya. Bahkan sebagian orang mengkultuskanya. Sayangnya terdapat jurang pemisah antara pengikutnya dan musuh-musuhnya. Hal itu telah mengakibatkan terjadinya peperangan pada zaman kekhalifahanya. Pembunuhan atas dirinya merupakan noda hitam dalam sejarah Islam dan persatuan kaum Muslim, yang masih kita rasakan hingga saat kini.                                                                                                                                                              
Penutup

          Dengan demikian, melalui makalah ini semata-mata ingin menunjukan pada umumnya betapa tokoh-tokoh Islam telah banyak memberikan sumbangan dalam berbagai lingkup kehidupan, dan menandai zaman masa keemasan Islam yang pernah diraihnya. Dengan demikian, kenyataan peran sejarah mereka dengan Islam sebagai jiwanya dapat memunculkan, dan pemutarbalikan fakta sejarah seolah-olah Islam tidak banyak berperan, dan baratlah pusat segala kemajuan bisa di hindari.
            Makalah ini, Insya Allah, akan menambah perbendaharaan referensi kita dalam upaya penelaahan dan pengajian terhadap perjalanan karir tokoh sejarah Muslim khususnya dan sejarah Islam di muka bumi pada umumnya.
            Terakhir, Melalui makalah ini kita ditantang untuk tidak kenal lelahmenelaah perjalanan para pendahulu kita secara jernih. Mengambil hikmah dari kebaikan dan kelemahan mereka pada masa lampau merupakan media introspeksi bagi kita semua , sebagai umat Islam.
          
Daftar Pustaka
  1. A. Amin Husyain 2001. Al-Mi’ah al-A’zham fi Tarikh al-Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar