Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2020

BELAJAR (Qur'an Surat al-Falaq) Untuk Kelas 4 SD

Assalamualaikum Wr Wb Anak sholih dan sholihah . . Bagaimana kabarnya ?? Alhamdulillah Semangat Luar Biasa, Senang sekali Bu Eti kembali bisa menemani kalian, apalagi sekarang kalian sudah ada di kelas 4, tentulah kalian menjadi anak anak yang semakin baik . .  mari bersama sama belajar  Q.S al-Falaq

Jumat, 26 Januari 2018

PENGERTIAN FUTSAL

Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim, yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola dengan kaki. Selain lima pemain utama, setiap regu juga diizinkan memiliki pemain cadangan.

Lapangan futsal adalah tempat atau arena untuk bermain olahraga futsal yang berada di dalam ruangan (indoor). Gambar, ukuran dan ketentuan lapangan futsal berdasarkan aturan FIFA adalah sebagai berikut :
  1. Ukuran minimal 25 x 15 meter dan maksimal 42 x 25 meter (untuk pertandingan internasional ukuran minimal 38 x 18 meter dan maksimal 42 x 25 meter).
  2. Lebar garis pembatas 8 cm.
  3. Titik tengah pada garis tengah lapangan dan lingkaran pada titik tengah beradius 3 meter.
  4. Seperempat lingkaran dengan radius 6 meter ditari sebagai pusat di luar dari masing-masing tiang gawang. 
  5. Garis penghubung diatas garis seperempat lingkaran memiliki panjang 3,16 meter sejajar dengan garis gawang. 
  6. Titik penalti dari tengah garis gawang digambarkan 6 meter.
  7. Titik penalti kedua dari titik tengah garis gawang 10 meter.
  8. Seperempat lingkaran sudut lapangan beradius 25 cm.
  9. Zona pergantian pemain dengan panjang 5 meter terletak di depan tempat duduk pemain cadangan. 
  10. Permukaan lapangan mulus dan rata. Sangat dianjurkan menggunakan bahan dari kayu atau bahan buatan lainnya.

Senin, 18 Desember 2017

JANGAN BERHENTI MENUNTUT ILMU

 Pendidikan dan pengajaran kepada manusia agar menjadi insan yang memiliki kompetensi dan kualitas diri unggul merupakan salah satu risalah yang dibawa Alquran.

Adapun pendidikan yang disampaikan Alquran merupakan pelajaran yang sesuai dengan audiensnya yang tak lekang oleh waktu. 

Dalam banyak firman-Nya, Allah kerap mengisyaratkan dengan tegas kepada manusia untuk menimba ilmu, menjadi insan yang terdidik.

Tak sedikit ayat Alquran yang memerintahkan manusia agar senantiasa menjadi manusia yang berpikir. Bahkan, ayat pertama yang Allah turunkan melalui Rasulullah adalah perintah untuk membaca: iqra! 

Risalah Alquran juga mengajarkan tentang hikmah dan menyerukan manusia agar menggunakan nalarnya untuk berpikir yang benar. Mencari kebenaran, dan menjauhi serta meninggalkan yang batil. Hikmah inilah yang kemudian membuka pikiran orang-orang yang buta huruf agar lebih giat dalam mencari ilmu. 

Bahkan secara tegas Allah telah memberikan derajat yang setinggi-tingginya bagi hamba-Nya yang menuntut ilmu. Tingginya derajat orang yang menuntut ilmu berada jauh di atas orang-orang yang tidak memiliki gairah dalam menuntut ilmu.  

Dalam Alquran surah al-Mujadilah ayat 11, Allah SWT berfirman: 

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Ya ayyuhaladzina amanu idza qila lakum tafassahu fil-majalisi fafsahu yafsahillahu lakum wa idza qilan syudzu yansyudzu yarfa'i-llahu alladzina minkum walladzina utul-ilma darojat.Wwallahu bima ta'maluna khabir,".  

Yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan padamu, 'berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,' maka lapangkanlah. Nisacaya Allah akan memberikan kelapangan padamu. Dan apabila dikatakan, 'berdirilah kamu' maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan (hanya) kepada Allah hendaknya orang-orang beriman."  

Selain perintah untuk menuntut ilmu, Alquran sendiri sejatinya merupakan sumber ilmu. Misalnya, Alquran merupakan kitabullah yang mana di dalamnya terdapat mukjizat dari literasi dan sastra yang Mahadahsyat. Salah satu penyempurna kemukjizatan Alquran adalah penggunaan kata-katanya yang ringkas (ijaz) akan tetapi mengandung arti yang begitu luas.

 

Sabtu, 31 Desember 2016

SEJARAH WISUDA || Apa itu Toga? Sudahkah kamu Wisuda Gaes??

WISUDA adalah suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas. Biasanya prosesi wisuda diawali dengan prosesi masuknya rektor dan para pembantu rektor dengan dekan-dekannya guna mewisuda para calon wisudawan. Biasanya setelah acara selesai dilakukan acara foto-foto bersama dengan orang tua, teman-teman serta suami/istri dari wisudawan/wisudawati atau dengan pasangan wisudawan/wisudawati. Dilakukan biasanya setiap akhir semester dalam kalender akademik baik semester genap maupun semester gasal (ganjil). Pada wisuda biasanya memakai pakaian yang ditentukan, pakaian pria menggunakan hem putih dan celana hitam bersepatu hitam, pakaian wanita menggunakan kebaya tradisional tipis dengan kain jarik, tapi secara umum menggunakan baju toga.

Setelah kita berbicara tentang Wisuda panjang lebar, Taukah kita bagaimana sejarah dari Wisuda?

Ternyata sejarah wisuda mempunyai filsafat yang cukup panjang, dimulai dari sejarah koga.

 

Sejarah Toga

Kata toga berasal dari tego, yg dalam bahasa latin bermakna penutup. biarpun umumnya dikaitkan dengan bangsa romawi, toga sesungguhnya berasal dari sejenis jubah yang dikenakan oleh pribumi italia, yaitu bangsa etruskan yang hidup di italia sejak 1200 sm. kala itu, bentuk toga belum berbentuk jubah, namun sebatas kain sepanjang 6 meter yg cara menggunakannya sebatas dililitkan ke tubuh. walau tak praktis, toga adalah satu-satunya pakaian yg dianggap pantas waktu seseorang berada diluar ruangan untuk menutupi tubuh mereka.

Sejarah toga sesudah itu berkembang di romawi waktu toga dijadikan busana orang-orang romawi. waktu itu toga adalah pakaian berupa sehelai mantel wol tebal yang dikenakan sesudah mengenakan cawat atau celemek. toga diyakini telah ada sejak era numapompilius, raja roma yang kedua. toga ditanggalkan bila pemakainya berada di dalam ruangan, atau bila melakukan pekerjaan berat di ladang, tetapi toga dianggap satu-satunya busana yang pantas bila berada di luar ruangan.

Perihal ini terbukti dalam sesuatu cerita cincinnatu yang adalah seorang petani, waktu ia masih membajak ladangnya, ia kedatangan para utusan senat dengan tujuan untuk mengabari dirinya telah dijadikan diktator atau penguasa. diceritakan dalam riwayat itu, begitu cincinnatu lihat mereka, dia serta merta menyuruh isterinya mengambilkan pakaian toganya dari tempat tinggal untuk dikenakannya hingga utusan-utusan itu bisa disambut dengan layak. cerita tentang cincinnatu ini sebenarnya belum dapat diuji validitasnya, namun hadirnya cerita itu justru semakin menunjukkan sentimen penghormatan bangsa romawi terhadap toga.

tetapi, seiring berjalannya waktu, pemakaian toga untuk busana sehari-hari perlahan mulai ditinggalkan. namun tidak bermakna toga hilang begitu saja. sebab sesudah itu bentuknya dimodifikasi menjadi sejenis jubah. akhirnya modifikasi itu mengangkat derajat toga dari pakaian sehari-hari menjadi pakaian resmi seremonial yang mana diantaranya yakni seremonial wisuda.

 

Filosofi Pakaian dan Topi Toga saat wisuda

Setali tiga uang dengan sejarahnya yang panjang, toga pula memempunyai arti filosofis yang kental, salah satunya yakni arti warna hitam pada toga. mengapa toga justru memakai warna hitam yang sering diidentikkan dgn perihal yg misterius serta gelap. mengapa tidak warna putih yang menggambarkan kecerahan serta keindahan yang dipakai?

Ternyata pemilihan warna hitam gelap pada toga adalah simbolisasi yaitu misteri serta kegelapan telah berhasil dikalahkan sarjana waktu mereka menempuh pendidikan di bangku kuliahan, tak hanya itu sarjana pula diharapkan mampu menyibak kegelapan dgn ilmu pengetahuan yg selama ini didapat olehnya. warna hitam pula melambangkan keagungan, sebab itu, tak hanya sarjana, ada hakim serta separuh pemuka agama pula memakai warna hitam pada jubahnya.

Tak hanya warna pada jubah toga yang memuat filosofi mendalam, ternyata ada pula arti filosofis dari bentuk persegi pada topi toga. sudut-sudut persegi pada topi toga menyimbolkan yaitu seorang sarjana dituntut untuk berpikir rasional serta memandang segala sesuatu hal dari beraneka sudut pandang.

Dan juga apa arti dari seremoni kuncir tali di topi toga dipindah dari kiri ke kanan ? seremoni memindahkan kuncir tali toga yg semula berada dikiri menjadi kekanan ternyata berberarti yaitu waktu masa kuliah lebih banyak otak kiri yg digunakan semasa kuliah, diharapkan sesudah lulus, sarjana tak sebatas memakai otak kiri (hardskills) semata, tetapi pula dapat menggunakan otak kanan yang berhubungan dgn aspek kreativitas, imajinasi, serta inovasi, dan aspek softskills lainnya. |Sumber: id.wikipedia.org, viva.co.id

 

Sabtu, 09 Agustus 2014

BEASISWA KERJASAMA UNSIQ – PC IPNU IPPNU WONOSOBO 2014



Dalam rangka memberikan kesempatan kepada Lulusan SMA, SMK, MA Paket C dari kalangan kurang mampu untuk dapat melanjutakan ke jenjang pendidikan tinggi yang murah, mudah dan lokasi terjangkau UNSIQ membuka program beasiswa kerjasama dengan PC IPNU IPPNU WONOSOBO
Mahasiswa yang mengikuti pendidikan hanya membayar sumbangan operasional sebesar Rp. 650.000 (enam ratus lima puluh ribu rupiah) dan Dana Kemahasiswaan Rp.50.000 (lima puluh ribu rupiah) sampai dengan selesai kuliah pada program studi tertentu. Dengan syarat :
1. Berdomisili di Kabupaten Wonosobo dibuktikan dengan melampirkan fotokopi KTP.
2. Telah dinyatakan lulus SMA/ SMK/ MA/ Paket C dibuktikan dengan fotokopi ijazah/ STK yang terlegalisir.
3. Usia maksimal 25 tahun pada tanggal 1 September 2014
4. Sanggup mengikuti pendidikan sebagaimana program studi yang dipilih/ ditawarkan pada saat mendaftar
5. Diberikan rekomendasi ole IPNU IPPNU

PROGRAM STUDI YANG DITAWARKAN
Pendidikan Bahasa Arab, Jenjang S1, quota : 40 Orang
Komunikasi Penyiaran Islam, Jenjang S1, quota : 40 orang
Muamalah, Jenjang S1, quota : 40 orang
Tafsir Hadist, Jenjang S1, quota : 40 orang
Teknik Arsitektur, Jenjang S1, quota : 40 orang
Teknik Mesin, Jenjang D3, quota : 40 orang
Teknik Elektro, Jenjang D3, quota : 40 orang
KETENTUAN PROGRAM BEASISWA :
1. Calon mahasiswa dari program beasiswa siswa miskin melampirkan Surat Tanda Kelulusan
2. Calon mahasiswa dari program beasiswa siswa miskin melampirkan surat keterangan tidak mampu dari Kepala Desa/ Kelurahan sebagai bukti dari keluarga kurang mampu.
3. Pendaftaran wajib melengkapi persyaratan-persyaratan pada saat mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru UNSIQ (persyaratan yang menyurul tidak diterima).
4. Setelah diterima mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat diikutsertakan dalam program beasiswa yang lain baik dari Yayasan maupun pihak luar.
5. Berdasarkan kebutuhan program studi tertentu dan akan dilakukan penjurusan apabila yang bersangkutan menurut penilaian secara akademis maupun pertimbangan tertentu tidak memenuhi syarat pada program studi yang dipilih sebelumnya.
6. Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan :
- Potensi/ prestasi calon mahasiswa
- Kemampuan finansial orang tua mahasiswa
- Keaktifan dalam kegiatan di desa/ organisasi
7. Surat rekomendasi dari Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten
WAKTU DAN SYARAT PENDAFTARAN
1. Pendaftaran dibuka mulai 1 Februari sampai dengan 16 Agustus  2014.
2. Mengisi formulir pendaftaran (yang telah disediakan) dengan lengkap.
3. Melengkapi persyaratan pendaftaran (fotokopi STK terlegalisasir, Fotocopi KTP, Surat Keterangan, Surat Rekomendasi)
4. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp.100.000 (seratus ribu rupiah)
5. Membayar biaya administrasi Rp. 10.000 (sepuluh ribu rupiah)
6. Pendaftaran dan pengambilan formulir bisa dilakukan pada :
Mulai Senin, 10 Februari 2014 jam 14.00 WIB
di Kantor PC IPNU IPPNU Alamat : Gedung PCNU Kab. Wonosobo Lt.2, Jalan Kauman No.13 Wonosobo.

Minggu, 12 Januari 2014

makalah KEPESANTRENAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia yang telah eksis jauh sebelum kedatangan Islam di nusantara. Pada masa pra-Islam pesantren dikenal sebagai pencetak elit agama Hindu - Budha. Pada masa Islam pesantren berkembang menjadi pusat berlangsungnya proses pembelajaran ilmu-ilmu keislaman. Sejak masuknya Islam di Indonesia, pondok pesantren menjadi tempat yang paling potensial untuk menjadi pusat pendidikan Islam dan mencetak kader berprestasi, bertakwa, berahlak mulia. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya diikuti oleh perkembangan sistem pendidikan yang berbasis Islam. Secara pedagogis, pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam, yang di dalamnya terdapat pembelajaran ilmu agama Islam dan juga digunakan sebagai wahana dalam menyiarkan agama Islam. dalam hal ini fungsi pesantren berarti telah banyak berbuat untuk mendidik santri.
Kehadiran pesantren di tengah masyarakat tidak hanya sebagai lembaga pendidikan Islam tetapi juga sebagai lembaga penyiaran agama dan sosial keagamaan, yang dengan sifat kefleksibelannya ternyata mampu mengadaptasikan diri serta memenuhi tuntutan masyarakat. Bagaimanapun juga, semua unsur masyarakat dituntut untuk berperan aktif dalam membangun pesantren agar dapat menjalankan fungsinya sebagai basic sosial contructions. Untuk itu harus ada langkah-langkah modernitas dan perubahan sistem pendidikan. Dan pada saat ini yang mendesak untuk dilakukan pesantren adalah menyusun format instruksional yang adatable dengan perkembangan zaman serta membangun pola pembinaan santri yang value oriented development (berorientasi pada nilai) dan profesionalisme kerja serta menciptakan people based development (pengembangan pembinaan berbasis masyarakat) dengan tetap mempertahankan tradisi kepesantrenan yang ada.
Bersamaan dengan globalisasi, pesantren dihadapkan pada beberapa perubahan sosial budaya yang tak terelakkan. Dan sebagai konsekuensinya mau tidak mau pesantren harus memberikan respon yang mutualistis. Kemajuan teknologi telah menembus benteng budaya pesantren. Dinamika sosial ekonomi (lokal – nasional – internasional) dan sejumlah perkembangan lain yang terbungkus dalam dinamika masyarakat mengharuskan pesantren tampil dengan perubahan sistem pendidikan agar tetap eksis dan lebih diminati masyarakat.

BAB II
KEPESANTRENAN

1.        Pengertian Pesantren
Pesantren sering disebut juga sebagai “Pondok Pesantren” yang berasal dari kata “santri”. Senada dengan pernyataan tersebut Dhofier (1982) menegaskan bahwa kata santri mendapatkan awalan pe- di depan dan akhiran -an berarti tempat tinggal para santri.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) pengertian pesantren adalah asrama dan tempat murid-murid belajar mengaji.
Mengenai asal dari kata santri itu sendiri menurut para ahli, satu dengan yang lain berbeda. Manfred Ziemek menyebutkan bahwa asal etimologi dari pesantren adalah pe-santri-an, “tempat santri”, santri atau murid (umumnya sangat berbeda-beda) mendapat pelajaran dari pemimpin pesantren (kyai) dan oleh para guru (ulama atau ustadz) pelajarannya mencakup berbagai bidang tentang pengetahuan Islam.
Pengertian atau ta’rif pondok pesantren tidak dapat diberikan dengan batasan yang tegas, melainkan terkandung fleksibilitas pengertian yang memenuhi ciri-ciri yang memberikan pengertian Pondok Pesantren, setidaknya ada 5 (lima) ciri yang terdapat pada suatu lembaga pondok pesantren, yakni : kyai, santri, pengajian, asrama dan masjid dengan aktivitasnya. Dengan demikian bila orang menulis tentang pengertian pesantren maka topik-topik yang harus ditulis sekurang-kurangnya adalah :
a.       Kyai pesantren, mungkin mencakup ideal kyai untuk zaman kini dan nanti.
b.      Pondok, akan mencakup syarat-syarat fisik dan non fisik, pembiayaan
tempat, penjagaan, dan lain-lain.
c.       Masjid, cakupannya akan sama dengan pondok.
d.      Santri, melingkupi masalah syarat, sifat dan tugas santri.
e.       Kitab kuning, bila diluaskan akan mencakup kurikulum pesantren
f.       dalam arti yang luas.

Saat sekarang pengertian yang populer dari pesantren adalah :
Suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bertujuan untuk mendalami ilmu agama Islam, dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian (tafaqquh fiddin) dengan menekankan pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat. Pendapat lain mengatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam (Tafaqquh Fiddin) dengan menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari, penyelenggaraan lembaga pendidikan pesantren berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri di bawah pimpinan kyai atau ulama dibantu oleh seorang atau beberapa orang ulama dan atau para ustadz yang hidup bersama ditengah-tengah para santri dengan masjid atau surau sebagai pusat kegiatan peribadatan keagamaan, gedung-gedung sekolah atau ruang-ruang belajar sebagai pusat kegiatan belajar mengajar, serta pondok-pondok sebagai tempat tinggal para santri selama 24 jam dari masa kemasa mereka hidup kolektif antara kyai, ustadz, santri dan para para pengasuh pesantren lainnya, sebagai satu keluarga besar. Sehingga bila dirangkum semua unsur-unsur tersebut dapatlah dibuat suatu pengertian pondok pesantren yang bebas. Adapun yang dimaksud penulis dengan pesantren ialah suatu lembaga pendidikan Islam yang dijadikan tempat tinggal para santri untuk mendalami, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam (Tafaqquh Fiddin) dengan menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari, yang diselenggarakan dengan lima elemen penting, meliputi, kyai, pondok / asrama, masjid, santri, dan pengajian kitab kuning.

2.        Tujuan Pesantren.
Tujuan pendidikan Pesantren tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid-murid dengan penjelasan-penjelasan, tetapi untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajar sikap dan tingkah laku yang bermoral, dan menyiapkan para murid untuk hidup sederhana dan bersih hati. Tujuan pendidikan pesantren yang lebih konprehensif sebagai yang dikutip Ahmad Muthohar dari Mastuhu adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian Muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat dan berkhidmat kepada masyarakat, mampu berdiri sendiri, bebas dan tangguh dalam kepribadian, menyebarkan agama dan menegakkan islam, mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.
Mujammil Qomar mengungkapkan dua tujuan pendidikan pesantren; pertama tujuan umum yaitu membina warga Negara agar berkepribadian Muslim sesuai dengan ajaran-ajaran Islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupannya serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan Negara. Kedua ;
tujuan khusus yaitu:
a.       Mendidik siswa/santri anggota masyarakat untuk menjadi orang Muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, siswa/santri untuk menjadi manusia Muslim selaku kader-kader Ulama dan mubalig, yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam mengamalkan ajaran Islam secara utuh dan dinamis.
b.       Mendidik siswa/santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bertanggung jawab kepada pembangunan bangsa dan Negara.
c.       mendidik tenaga-tenaga penyuluh pembangunan mikro (keluarga) dan regional (pedesaan,/masyarakat lingkungannya.
d.      Mendidik siswa/santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan, khususnya pembangunan mental spiritual.
e.       Mendidik siswa/santri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan  sosial masyarakat lingkungan dalam rangka usaha pembangunan masyarakat bangsa.
 Semua tujuan yang diungkapkan di atas, menegaskan bahwa pendidikan pesantren memiliki posisi strategis dan penting dalam membentuk manusia-manusia Indonesia dengan sumber daya insane yang mapan spiritual, intelektual dan trampil dibingkai dengan akhlak mulia, sensitivitas terhadap lingkungan dan terbuka terhadap kemajuan zaman.

3.        Nilai Pesantren.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam niscaya dalam operasionalnya mengacu pada prinsip-prinsip nilai-nilai yang diajarankan oleh Islam itu sendiri, terutama nilai-nilai kebenaran al-Qur’an dan hadis. Oleh karenanya Ahmad Muthohar menegaskan bahwa pendidikan Pesantren didasari dan digerakkan dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada pada ajaran dasar Islam. Nilai ini secara kontekstual disesuaikan dengan realitas sosial masyarakat. Perpaduan kedua sumber inilah yang membentuk pandangan hidup dan menetapkan tujuan  yang akan dikembangkan oleh Pesantren.  
Nilai-nilai dasar pesantren sebagai yang dikutip Ahmad Muthohar dari Mastuhu digolongkanmenjadi dua kelompok, yaitu:
a.         Nilai-nilai agama yang memiliki nilai-nilai kebenaran mutlak yang bersifat fiqih-sufistik dan berorientasi pada kehidupan ukhrawi.
b.         Nilai-nilai agama yang bernilai relative, bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan menurut hukum agama islam.

4.        Fungsi Pesantren.      
Secara historis fungsi pesantren  selalu berubah sesuai dengan tren masyarakat yang dihadapinya, seperti masa-masa awal berdiri pesantren di zaman Syaikh Maulana Malik Ibrahim, berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penyiaran Islam. Kedua fungsi bergerak saling menunjang. Pendidikan dapat dijadikan bekal dalam mengumandangkan dakwah, sedangkan dakwah dapar dimanfaatkan sebagai sarana dalam membangun sistem pendidikan. Pesantren dimasa awal ini, lebih dominan sebagai lembaga dakwah, sedangkan unsur pendidikan sekedar membonceng misi dakwah.  Saridjo dkk, mempertegas fungsi pesantren pada kurun wali songo adalah mencetak calon ulama dan mubalig yang militant dalam menyiarkan agama islam.
Seiring dengan perkembangan zaman fungsi pesantrenpun ikut bergeser dan berkembang, sejalan dengan perubahan-perubahan sosial kemasyarakatan, di zaman kolonial Belanda fungsi pesantren disamping sebagai pusat pendidikan dan dakwah, juga sebagai benteng pertahanan. Sebagai diungkapkan oleh A. Wahid Zaeni pesantren sebagai basis pertahanan bangsa dalam perang melawan penjajah demi lahirnya kemerdekaan. Maka pesantren berfungsi sebagai pencetak kader bangsa yang benar-benar patriotic; kader yang rela mati demi memperjuangkan bangsa, sanggup mengorbankan seluruh waktu, harta dan jiwanya.
Pesantren juga dapat berfungsi sebagai lembaga Pembina moral dan kultural, yang menurut Ma’shum  ada tiga yaitu
a.         Fungsi relegius (diniyah.
b.          Fungsi sosial  (ijtimaiyah) dan fungsi edukasi.  Ketika fungsi ini, masih berjalan sampai sekarang. Sejalan ketiga fungsi tersebut, Ahmad Jazuli dkk, mempertegaskan lagi bahwa fungsi pertama adalah menyiapkan santri mendalami dan menguasai ilmu agama Islam atau tafaqquh fiddin, yang diharapkan dapat mencetak kader-kader ualama dan turut mencerdaskan bangasa, kedua; dakwah menyebarkan Islam, dan ketiga benteng pertahanan moral bangsa dengan landasan akhlak karimah.
BAB III
PENUTUP


Keanekaragaman lembaga pendidikan Islam yaitu pesantren merupakan khazanah yang perlu dilestarikan. Setiap pesantren mempunyai ciri khas danorientasi masing-masing, namun demikian harus ada satu komitmen, yaitu memberi pemahaman Islam secara kaffah. Dan hal ini juga harus didorong oleh kemauan dari para pengelola pesantren itu sendiri untuk melakukan pembaharuan pada aspek  teknis operasionalnya, bukan pada substansi pendidikan pesantren itu sendiri.