Kamis, 15 Juli 2010

Sang Pembesar Desa Mergosari


(di ceritakan oleh 6 nara sumber) 

Sekilas perjalanan lurah / kepala desa dari masa ke masa atau periodesasi lurah / kepala Desa
 
                     Ki Lurah Pertama : 
         Ki Lurah Casentana ( --- s/d Th 1887 )
Menurut catatan mbah santawi,  Casentana menjadi lurah pertama di Desa Brengkok yang mulai menjabat tidak ada yang Tahu. Penempatan nama Casentana yang berasal dari NGAGLIK  ini berdasarkan catatan yang di buat Mbah  Asan Miharjo ( mbah santa- gondang  ).Casentana yang di maksud ini adalah kakak Ipar dari Camenggala. Casentana yang di maksud bukan casentana anak dari camenggala , tetapi casentana yang lain. Kemungkinan ada nama sama pada masa itu  Casentana Bertempat tinggal di Brengkok.  Tidak banyak yang berhasil di ungkap pada masa pemerintahan Casentana yang Merupakan LURAH PERTAMA  di Desa Brengkok  anak cucu casentana yang sekarang masih ada tidak  ada yang tahu.

Ki Lurah Kedua :
         Ki Lurah Camenggala  ( Th 1888 – 1907 )
Camenggala menjadi lurah kedua Desa Brengkok  setelah ki lurah Casentana .Masa Jabatan menjadi lurah selama 19 Tahun .Struktur pemerintahan dari sekdes ( atau sebutan lain ) sampai dengan  pembantunya tidak di ketahui . Camenggala mempunyai anak yang bernama Casentana yang terkenal dengan Mbah sempok atau mbah bengkok dan menjadi bau dengan ciri khas kemanapun membawa kasang  untuk Nginang. Menurut cerita mbah miyarto , kasang tersebut sangat berat dan tidak ada yang kuat membawa selain beliau . Cucu – cucu dari camenggala antara lain : ahmad dilyas , Ny Ginah , Kramasentana , dan asanwirya .
       Situasi sosial kemasyarakatan pada masa ini masih primitif tradisionalis dan syiar islam belum di laksanakan menjadi ritual keagamaan  dalam hidup sehari hari . Waalupun demikian pada masa ini sudah mengenal JUMATAN tetapi tidak melaksanakan solat Jumat seperti sekarang ini , yang ada hanya perayaan jumat dengan cara ADU TANDING ( Ujung- Ujungan ) antara orang satu dengan orang yang lain,yang di laksanakan pada hari jumat di Tapal Batas desa dengan warga tangga desa . Tempatnya di Kalong Gondang sebagai tapal batas Dengan wonokerto dan di Tapal batas Kalibeleber . Alat yang di gunakan yaitu Bambu yang di rancah di ulir seperti pecut untuk di
sabetkan kepada lawannya  Tidak ada yang menghukumi pada pekelahian tersebut walaupun terjadi korban sampai meninggal . Camenggala bertempat tinggal di Brengkok
Karya luar biasa dalam menyejahterakan masyarakat yaitu dengan  membuat  saluran wadas gendol untuk mengairi areal persawahan, atau terkenal dengan nama kegiatan Susuk wadas Gendol . Legenda yang mengikuti sampai sekarang di masa jabatannya adalah legenda RONGGENG SARMINI  yang berkaitan erat dengan wadas gendol.

 Ki Lurah Ketiga :
          Ki Lurah Surawijaya  ( 1908 – 1909 )
Sejarah Surawijaya yang menjadi lurah ketiga di desa Brengkok , sepak terjangnya tidak banyak di ungkap .Menjabat lurah hanya 1 ( satu ) Tahun .Anak keturunan beliau antara lain : mbah tarmuji , mbah sadikrama dan haji ahmad  ( cerita mbah tamarun )
Pemerintahan Desa pada masa ini , sudah terdapat aturan mengenai desa  yang di terbitkan oleh pemeriintah kolonial belanda yang di buat Tahun 1906 no 83  yang di sebut Inlandsche Gemeente Ordonanti ( IGO ) yang berlaku untuk Jawa dan Madura.
Di mana dengan pengaturan ini Desa – Desa di Jawa Madura tidak mempunyai kesamaan Bentuk pemerintahan ( tidak Seragam ) yang kemudian Aturan itu di cabut dan tidak di berlakukan lagi setelah muncul Undang – Undang Nomor 19 Tahun 1965 Tentang  Pengaturan Mengenai Desa Praja .--------------- Sumber : Penjelasan  UU No 5 Th 75 ------ 

 Ki Lurah Keempat :
          Ki lurah Muhamad ’ abid  ( 1910 – 1911 )
Menurut mbah abdurokhman , Muhamad abid alias Mbah dabid menjadi lurah  ke-empat dan menjabat selama             1 ( satu ) Tahun.Semasa Hidupnya Timpat tinggal beliau di dukuh brengkok.Walau masa jabatannya pendek hanya 1 Tahun tetapi di masa jabatannya syiar  islam sangat menonjol dan  beliau merupakan pejuang islam pertama di Desa dan merupakan pelopor .ini di buktikan dengan merintis berdirinya masjid jami di brengkok  yang di didirikan di atas tanah wakaf dari beliau .Syiar islam tersebut juga sampai di di dukuh Timbang dan Gondang sehingga dukuh brengkok menjadi pusat syiar islam ( Santren ) .Setelah mendirikan masjid di brengkok ( rejosari sekarang ini ) jadi , maka  Muhamad Abid mencari sorang kyai untuk menetap di Brengkok yaitu Kyai Jamhari dari Tegalsari dan beristrikan ny Supi yang merupakan anak dari Muhamad Abid . 
Di samping itu juga memperjuangkan berdirinya musolla /langgar di timbang tepatnya di pekarangan Mubad junaedi sekarang -  yang kayu kayu nya membawa dari leksana .
Setiap akhir tahun ( Sura ),Muhamad abid senantiasa menggelar Tledek  ( tayub )  sebagai penutupan kegiatan akhir tahun ( Suran ) .
Anak  keturunan beliau  yaitu : Marjuki alias Simar , Ny Jamhari , Ny Ngalirohmat , Ny Dulah sulur , Ny Yahruji , Damiri dan Giyo .dalam memperjuangkan Islam  Muhamad Abid bersama – sama dengan Mbah Jangkung , mbah tarmuji dan Mbah asan sahid  dan mbah kasanom
Di masa jabatannya di bantu juru tulis / carik yaitu Trimo  yang selanjunya di ganti beliau Mislam dan wilayah dukuhan di buat 2 ( dua ) kebaon dan di kepalai oleh bau  yaitu kebaon brengkok dan kebaon Timbang . Sedangkan Dukuh gondang merupakan wilayah  ketampingan yang di pimpin oleh Tamping .
Aparat kebaon brengkok terdiri atas Singadiwirya (bau) , Mustareja ( Bayan ) , Kasanom( lebe) .
Di kebaon timbang terdiri atas Santika ( bau ) , Sanreja  ( bayan ),  Ngaliyakin  ( lebe – dan merupakan lebe waleh / Wakil Lebe brengkok ) .
di wilayah tampingan gondang di pimpin oleh tamping Marwikrama  dan bayan amad dangnom .
Tokoh di bidang keagamaan di masing – masing kebaon dan tampingan yaitu Kasanom (Brenkoque ) , Ngaliyakin ( Timbang ) dan Istad ( Gondang ) .
Ketika menjabat lurah , Muhamad Abid mempunyai semangat dan  kemauan kuat untuk membentuk ahlak masyarakat supaya baik sesuai dengan syariat islam .( mungkin pada masa ini masyarakat masih  melakukan tabiat buruk  secara mayoritas ) , beliau Mohamad abid alias Mbah dabid  menggagas perubahan Nama  Dukuhan dan Desa karena nama yang ada  berkonotasi kurang bagus. Dan mempunyai arti yang jelek. Sehingga beliau Menggagas  nama dukuhan Brengkok menjadi Mergosari , Nama dukuhan Timbang menjadi Mangunsari , Nama dukuhan Gondang Menjadi Karangsari . Sedangkan nama Desa Brengkok  di rubah menjadi Desa Mergosari . Konon Katanya Nama Mergosari yang di  gagas beliau terilhami oleh  banyaknya Madu / Sari Tawon yang banyak di mergosari .
apa benar apa tidak , Menurut cerita sejak dulu , yang di sampaikan mbah H. Sukardi , smasing – masing nama dukuhan sebelum di rubah mempunyai  arti yang jelek  yaitu :
BRENKOQUE   : Gembreng- gembreng tur pekok
TIMBANG        : Petita – petiti najan ora imbang
GONDANG      : sama dengan Telak , keras , Geden Suara ,
 
Di maksudkan dalam rangka membentuk masyarakat yang baik ,nama tersebut diganti  dengan nama :
Mergosari     : Senantiasa di Jalan Yang baik , mengerti kebaikan
Mangunsari : Pertimbangan yang bagus , diam demi kebaikan
Karangsari    : Keras dalam kebaikan , Teguh dalam pendirian

Perubahan nama tersebut  baru seabatas gagasan / ide / wacana yang secara pemerintahan belum menjadi  keputusan desa  sampai masa jabatan beliau habis .
             Ki Lurah Kelima :

             Lurah Haji Ahmad  ( 1912 – 1944 )
Haji Ahmad bermukim di dukuh brengkok dan merupakan lurah kelima yang merupakan anak dari ki lurah Surawijaya . .Beliau Merupakan Lurah yang sangat Berwibawa ( Siwer ) . Masa jabatan beliau selama 32 Tahun . di awal kepemimpinannya Haji Ahmad mewujudkan  gagasan Mohamad Abid alias mbah dabid untuk merubah nama dukuh dan nama desa dengan di  tetapkan  dalam selapanan desa  Kemungkinan Perubahan nama tersebut .Tepatnya tahun 1912.Dengan Demikian Nama Resmi MERGOSARI baru terjadi 96 Tahun yang lalu.  tetapi nama sebelumnya yaitu brengkok , timbang dan gondang masih di gunakan masyarakat .
Anak keturunan beliau yaitu : H. Iskak , Wasito , Ny Turiyah Dono , Seman , Misnan  dan Toipah . Rokok Kesenangannya adalah  Rokok Klenteng ( Tembakau di bungkus klaras jagung di ikat benang)
Sistem pemilihan pada saat itu menggunakan Sistem Tongkrongan  yaitu para pendukung calon lurah  baris di belakang calon lurah kemudian di hitung. Yang paling banyak yang ikut antri di belakang ( Tongkrong ) dialah yang jadi . konon bila yang ketahuan berkhianat , maka di tempat itu juga , bisa di keroyok sama pendukung yang lain .
 H. Ahmad maju dalam sistem tongkrongan bersama dengan Kartareja dan berhasil mengunggulinya .
Di era kepemimpinannya sang carik / juru tulis mengalami pergantian 3 ( tiga ) kali . yaitu dari Mislam di ganti Sastro sudarmo dan di Gantikan lagi oleh Beliau Mukhlas .sedangkan kewilayahan masing tetap terdiri atas 2 ( dua ) kebaon dan 1 ( satu ) wilayah tampingan seperti era Mohamad abid.
kebaon Mergosari terdiri atas : Ahmad dilyas ( bau ) , mustareja ( bayan ) , Kasmo ( lebe ) sedangkan pejuang keagamaan di kebaon mergosari yaitu Ahamad sahid dan K. Daldiri.
Kebaon Mangunsari terdiri atas Marjuki bin Mohamad Abid ( Bau ) , Dipaseca yang kemudian di gantikan Wasito miharjo    ( bayan ) , Lebe  di rangkap oleh Beliau pak marjuki . Pejuang Keagamaan di kebaon ini yaitu Ali makwar dan Asanwirya .
Di wilayah tampingan Karangsari terdiri atas Marwikrama ( Tamping ) , manan ( Bayan ) Sedangkan Pejuang keagamaannya yaitu Bukhaeri yang asli banjarnegara dan Bahri asal Ngaribaya.
          Salah satu peninggalan beliau yaitu merubah jalan Dengok yang dulu melalui jalur bawah , kemudian di naikkan melalui di atas nya  ( Sigugur ).  
             Ki Lurah Keenam :
Lurah Ahmad Darum  ( 1945 – 1963 )
         Ahmad Darum  bin Khasanraji merupakan Lurah yang ke enam dan menjabat selama 18 Tahun.Semasa hidupnya bertempat tinggal di dukuh Mergosari ( Brengkok ) . Ahmad Darum mempunyai watak yang  halus arif dan Bijaksana  .Dalam pemilihan lurah yang menggunakan sistem tongkrongan  Ahmad Darum berhasil mengungguli  Ahmad Sukri , Asanwirya , Marjuki dan Ny Dono .Anak Keturunan Ahmad Darum yaitu : H. Hozali , Hadi Suwarno , sunjiyah , Suwarni, Bendu, Suratmi, dan Sulimah
       Di era kepemimpinannya  tidak ada perubahan Kewilayahan , tetap seperti dahulu . Sedangkan Di bidang Administrasi di bantu oleh carik yaitu Muklas dono Suwito .
Aparat pemerintahan di kebaon mergosari terdiri atas : Wirya Reja ( Bau ) , Maksum ( Bayan ) , Dulhamid  yang Kemudian di gantikan oleh Sastro Sudarmo Sebagai Lebe . Di bidang keagamaan tokohnya yaitu Tarmuji , H. Tohir , K. Daldiri , Sastro Sudarmo  dan ahmad Sukri .
Di Kebaon Mangunsari terdiri atas Marjuki ( Bau / Kamituo ), Istamar( Bayan ) , Ali makwar yang di gantikan oleh  asanwirya sebagai lebe .
Di wilayah tampingan karangsari  terdiri atas Atmo Miharjo ( Tamping ) , Amad Kanan yang di gantikan Asanmiharjo ( Bayan ) , K. Sambudi ( Lebe ) .  Sedangkan Tokoh Agamanya adalah K Sambudi dan Afandi .
Beberapa peristiwa  semasa kepemimpinannya adalah antara lain :  
Tahun 1945 , Ikut membantu TNI dalam perang kemerdekaan ( Slash Belanda II )  yang bersama rakyat menyiapkan  tempat penyerangan (Parit ) bagi TNI di Bedali , Mangunsari , Dan sebelah utara tanah bengkok lurah untuk menyerbu / menghadang Kompeni belanda di jala raya bojanegara yang datang dari arah banyumas.
kemudian membantu TNI mengangkut senjata ke Tlogo seusai penyerbuan .Tembakan TNI dari bedali berhasil menewaskan pemimpin Belanda yang bernama Jenderal Spoor  dan mobilnya terbakar di selatan mangunan .
Tahun 1952,  di bidang pertanahan di adakan Klassir tanah untuk  di bukukan dalam buku hak milik yang terkenal dengan BUKU LETTER C .
Tahun 1953, Di Desa Mempelopori berdirinya  NU Sebagai Partai Politik bersama tokoh seperti Muchlas Dono Suwito , Sastro Sudarmo , Marjuki , Ali Makwaar dan Kyai Ahmad Syambudi  serta ikut mempelopori berdinya masjid di mangunsari dan di karangsari .
Tahun 1954 , Membangun Pertanian rakyat dengan program PTP ( Pemberantasan Tanah Bera ) / Ladang dengan tanaman Kopi , Kelapa , Jagung , Singkong dan Keladi ( busil )  . Di samping itu juga menggiatkan pertanian paadi dan galengan ( pematang ) dengan  Istilah MHBM ( Meningkatkan hasil Bahan Makan ) . di bidang pertukangan beliau juga mengilhami banyaknya muncul tukang – tukang kayu profesional pada saat itu .
Sebagai seorang pemimpin , beliau juga  selalu banyak inisiatif untuk jalannya pemerintahan dan kemasyarakatan yang baik , maka di adakannnya usaha dengan cara selapanan desa
setiap KAMIS MANIS , Kumpulan Dukuhan  dan anjangsana lingkungan .
Kegigihanya mendapat tanggapan positif daari masyarakat. Tutur katanyanya yang sangat khas yaitu “ Tempang – Tempong – Tempang  Timying – Timying paleg .......... Ndarani Mbokan “ ( Sumber – H Sukardi )
Tahun 1961 , Merintis dan Menggerakkan Pendidikan di Mergosari di tandai dengan mendirikan Sekolah Dasar ( SD ) Mergosari dalam Waktu 4 bulan sejumlah 6( enam ) Lokal gedung berukuran 7 x 42 Mete dapat di selesaikan atas swadaya masyarakat dan hasil  pembanguna tersebut merupakan hasil bangunan terbaik di Wilayah Kcamatan Leksono .
 berdasarkan buku letter C , Pemilik Tanah di Mergosari kala itu baru  :        212 orang Pemilik  .sampai periode ini  kantor kecamatan masih di namakan Kantor Asisten Wedana yang  di kepalai oleh seorang asisten Wedana ( Ndoro Stein )  dan Asisten Wedana  di bantu oleh sekretaris asisten wedana yang di sebut Klerek. Mantri polisi pada saat itu di sebut Upas . Bila ada Bromocorah ( Pencurian ) di desa  maka laporannya ke kantor Ngepelan ( Polsek ) dan BUDM ( koramil ) . Bahasa laporan menggunakan bahasa jawa krama inggil  dan bila rapat di  kantor asisten masih memakai blangkon dan sorjan lengkap dengan tatanan keraton bila menghadap ndoro stein.

Ki Lurah Ketujuh :
          Lurah Suprapto ke- I  ( 1964 – 1988 )
Suprapto bin Kaswari merupakan lurah ke 7 dan ke 8   di sejarah Desa Mergosari . Semasa Hidupnya tinggal di Dukuh Mergosari . Dalam pemilihan kepala Desa Sudah Menggunakan Sistem Bitingan yaitu memasukkan Biting ( Lidi ) ke dalam Kotak Bambu ( Bumbung )  .  Biting mana yang paling banyak maka di yang Jadi . Pada saat itu ada 11 orang yang maju dalam sistem bitingan yaitu : Suprapto , Karto Wardoyo , Sastro Sudarmo, Tukardi , Patori , Asanwirya , Muklas , Wasito , Dalhari , Atmo Miharjo , Samijo , Ny Dono . dari sebelas calon tersebut Suprapto berhasil mendapatkan suara paling banyak .
Anak keturunannya yaitu : Edi , Hartati, Ernawati, Sulwati, Nurfarida , joko,Prapti
            Di masa Kepemimpinan yang pertama Beliau mewujudkan Rencana Pembangunan jembatan gantung  yang sempat di gagas Lurah Ahmad Darum . Masa Jabatan periode ini selama 24 Tahun . Banyak perubahan Tatanan pemerintahan yang menyangkut sebutan pemerintah Desa . yaitu salah satunya peristilahan LURAH di rubah menjadi Kepala Desa sesuai dengan Perubahan Undang – Undang yaitu munculnya undang undang baru no 5 Tahun 75 tentang pemerintahan Desa .
Periode pertama ini terdapat pergantian Carik dari Muklas di gantikan oleh Hadi Sucipto yang bertempat tinggal di karangsari. Di zaman kepemimpinanannya sangat di segani karena pembawaannya yang tegas .Ini di buktikan dengan salah penegasan Kembali penggunaan Nama Mergosari , mangunsari dan karangsari untuk senantiasa di pergunakan dalam pembicaraan resmi maupun tidak resmi  oleh masyarakat . Bila ketahuan maka beliau tidak segan – segan untuk memarahinya .
Wilayah pedusunan masih tetap 2 kebaon dan 1 wilayah tamping .
Wilayah  Kebaon mergosari terdiri atas : Wiryareja  yang kemudian di gantikan Mirsodi  di gantikan lagi Suliyah digantikan lagi Muhyidin sebagai Bau .  Sedangkan Maksum  di gantikan Sutarto di gantikan Sucipto sebagai Bayan . Kemudian Sastro Sudarmo di gantikan Hadi Suwarno  di gantikan Muhamad Sodik Sebagai Lebe .  Terdapat Tambahan Aparat Yaitu Maryono Sebagai Ulu – Ulu .
Di kebaon Mangunsari terdiri atas Marjuki ( Bau ) , Istamar yang di gantikan Durohman sebagai bayan .  Sedangkan Asanwirya  yg di gantikan miftahudin sebagai lebe .
Di wilayah tamping karangsari terdiri atas Atmo Miharjo di gantikan Muhidin – di gantikan Hadi Sucipto – di gantikan Dulngadim sebagai Tamping .
Sedangkan Asanmiharjo yang di gantikan Rofiudin di gantikan Siswandi  di gantikan adi wiyanto alias noto sebagai bayan .  sedangkan lebe dari A. Sambudi di gantikan Sahro wardi di gantikan Siswandi di gantikan Qomaarudin .
Pada saat kepemimpinannya , Tahun 1965  ( setahun setelah menjabat ) meletuslah peristiwa G 30 S PKI di Indonesia .Di Desa Beliau secara antusias merespon bahaya yang mungkin timbul di mergosari karena berpenduduk mayoritas muslm yang taat . Maka Beliau menggerakkan ronda malam / Jaga malam dan meningkatkan kewaspadaan akan bahaya yang mucul serta berpartisipasi aktif membantu pemerintah kecamatan dengan mengirim Anggota WANRA untuk berjaga di Koramil dan Polsek secara rutin dan bergiliran .
Tahun 1971 , Menlanjutkan Gagasan Kepala Desa Terdahulu  ( Ahmad Darum ) membuat jembatan Gantung dengan biaya murni masyarakat melalui hasil panen padi sebesar 10 %  dari hasil panennya.  Dalam pelaksanaan tekhnis lapangannya di Koordinir oleh carik desa Muchlas Dono suwito .
Tahun 1975 , sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang mendesak maka beliau mendirikan  Gedung Balai Desa .

Pada Tahun 1981 , di buat lapangan Sepakbola , yang di motori oleh seorang Pemuda bernama Suharto alias Sudarto bin marjuki.
Tahun 1988 , Atas Prakarsa Pemuda Sudarto Bin Marjuki , Beliau Mendukung Lembaga pendidikan Maarif dengan berdirinya MI Maarif Mergosaari Filial Sukoharjo dengan memberikan ijin secara resmi penggunaan tanah bengkok ( sisa lapangan ) untuk di dirikan Gedung MI . Surat perijinannya di tanda tangani caamat leksono yaitu Tunggono , Ketua LKMD Sikun Chobarudin
Di era kepemimpinan Suprapto periode pertama ini banyak kemajuan yang di capai oleh Desa Mergosari yaitu :
1.  Balai Desa Mergosari
2.  SD Inpres Mergosari
3.  Jembatan Gantung
4.  Pelurusan Jalan Timbang 
        Setelah periode Habis , Maju lagi dan  terpilih kembali menjadi kepala Desa Mergosari  dan sela waktu kekosongan Kepala Desa di laksanakan oleh Penjabat Dari kecamatan Leksono yaitu Wardoyo .

          Ki Lurah KeDelapan :
         Kepala Desa Suprapto ke-II   ( 1989 – 1997 )
Periode kedua Suprapto ini merupakan lurah yang kedelapan . Masa Jabatan  periode kedua ini selama 8 Tahun  . Dalam periode kedua ini maju sebagai lurah bersama dengan Sudarto marjuki dan Bisri alfan , dan beliau berhasil mengungulinya . Sistem pemilihan sudah menggunakan toblosan dengan kartu yang bertanda gambar buah / Tanaman .
Pada masa periode ini Beliau di angkat Menjadi GLONDONG Kepala Desa yaitu Kepala Dari Kepala Desa ( Ketua ).  Banyak perubahan penting  perihal pemerintahan di masa periode II ini. Perubahan tersebut  perubahan total sebutan  aparat desa dan Pemekaran Wilayah Dusun Mergosari di mekarkan menjadi dusun Rejosari .
Wilayah Dusun Mergosari Terdiri atas Muhyidin ( Kadus ) , Sedaangkan Sucipto yang di gantikan Ahmad Yuswo di gantikan M Ilyas sebagai Bayan .  Sedangkan Ahmad Nudin Sebagai Lebe
Wilayah Kadus Rejosari terdiri atas Tamarun ( Kadus ) , Saefudin  yang di gantikan Muhlisin sebagai Bayan  sedangkan Muh. Sodik Sebagai Lebe .
Wilayah Kadus Mangunsari terdiri atas Durohman ( Kadus ) , Sugito ( Bayan ) dan Miftahudin  (Lebe ).
Wilayah Karangsari terdiri atas  Muhidin yang di gantikan dulngadim ( Kadus ) , Rofiudin ( Bayan ) , Komarudin ( Lebe )
Dalam menjalankan Kepemimpinannya sejak periode pertama , Suprapto senang melakukan silaturahmi kepada warga dan jajaran pemerintahan Desa  dan kebiasaan tersebut tetap di lakukan setelah masa jabatan kepala Desa Habis .
 Setelah masa jabatannya habis ,tugas kepala desa di isi oleh pejabat dari kecamatan leksono yaitu Mulyono.

   Ki Lurah KeSembilan :
       Kepala Desa Sucipto ( 1998 – 2006 )
Sucipto bin Kaswar merupakan orang kedelapan yang menjadi kepala desa  mergosari dan menjabat selama 8 Tahun . Maju sebagai kepala desa bersama dengan NY Suliyah Suprapto dan berhasil mengungulinya.
Secara periode  Sucipto merupakan Kepala Desa periode kesembilan dari urutan periode kepala desa / Lurah . Beliau bertempat tinggal di Mergosari. Selama masa jabatannya  mengalami banyak perubahan aturan perundangan pemerintahan   seperti perubahan UU no 5 tahun 1979 menjadi
UU no 22 Tahun 1999 di rubah lagi dengan UU no 32 Tahun 2004 . Masa jabatan beliau berakhir pada 15 Januari  2006 .
Di masa kepemimpinannya, Sekretaris desa mengalami kekosongan karena Meninggalnya beliau sekdes Hadi Sucipto karena sakit . Kekosongan tersebut mulai tahun pada tahun 1999 s/d 2001 dan baru ada sekdes tahun 2001 yaitu sdr. Gatot Sudarto Dengan semangat dan Keuletannya Era kepemimpinannaya berhasil memajukan Desa setahap demi setahap . Perubahan Yang mendasar di era kepemimpinannya yaitu Peningkatan Kesejahteraan Lebe  yang semula tidak mengolah tanah bengkok oleh beliau di beri olahan bengkok , dan Bengkok kepala Dusun Rejosari di pecah jadi 2 untuk kadus Mergosari dan kadus Rejosari .Sedangkan perubahan kelembagaan secara undang undang yang terjadi di masa Kepemimpinannya adalah  berdirinya Badan Perwakilan desa yang di rubah Badan Permusyawaratan Desa
Di ringkat Kecamatan Terdapat Pemekaran Kecamatan Leksono di mekarkan menjadi Kecamatan Sukoharjo dan Desa Mergosari Ikut Kecamatan Sukoharjo pada Tanggal 21 Juli 2001  dengan Camat Pertama Yaitu Drs. Gatot Hermawan  .
Wilayah Dusun tidak ada perubahan , yaitu 4 dusun
 Wilayah Dusun Mergosari Terdiri atas  Muhamad Sodik yang di gantikan Muh. Yuswo ( kadus )  Muh Ilyas ( Kaur pemerintahan ) , Afandi ( Lebe ) .
Wilayah Rejosari  terdiri atas H. Sidik Nawawi yang di gantikan Tamarun ( Kadus ), Muhamad Nudin ( Kesra  ) , Muhlisin            ( Kaur Pemb. Keuangan  )
Wilayah Mangunsaari Terdiri atas Durohman yang di gantikan Sabar ( Kadus ) , Samsurohman ( Kaur Pembangunan ) , Miftahudin ( Lebe ) , Sugito ( Kaur umum ) , Sukisno ( Kaur Keuangan )
Wilayah Karangsari Terdiri atas Rofiuidin ( Kadus ), Fahrudin ( Pemb. Pemerintahan  ), Komarudin yang di gantikan Mutolib ( Lebe ).
            Setelah masa jabatan habis , Pemerintahan desa di jalankan oleh Pj dari sekdes Gatot sudarto selama 1 Tahun 2 Bulan . 
 
 Ki Lurah KeSepuluh :
          Kepala Desa H. Bambang Sugiyanto  ( 2007 –  2012 )
        H. Bambang Sugiyanto Bin H. Hozali Di lantik Tanggl 15 Januari 2007 dengan masa jabatan seuai undang- undang nomor 32 Tahun 2004 selama 6 Tahun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar