(di ceritakan oleh 6 nara sumber)
Sekilas perjalanan lurah / kepala desa dari masa ke masa atau periodesasi lurah / kepala Desa
Ki Lurah Pertama :
Ki Lurah Casentana ( --- s/d Th 1887 )
Ki Lurah Casentana ( --- s/d Th 1887 )
Menurut catatan mbah
santawi, Casentana menjadi lurah
pertama di Desa Brengkok yang mulai menjabat tidak ada yang Tahu. Penempatan
nama Casentana yang berasal dari NGAGLIK
ini berdasarkan catatan yang di buat Mbah Asan Miharjo ( mbah santa- gondang ).Casentana yang di maksud ini adalah
kakak Ipar dari Camenggala. Casentana yang di maksud bukan casentana
anak dari camenggala , tetapi casentana yang lain. Kemungkinan ada nama sama
pada masa itu Casentana Bertempat
tinggal di Brengkok. Tidak banyak yang
berhasil di ungkap pada masa pemerintahan Casentana yang Merupakan LURAH
PERTAMA di Desa Brengkok anak cucu casentana yang sekarang masih ada
tidak ada yang tahu.
Ki Lurah Kedua :
Ki Lurah Camenggala ( Th 1888 – 1907 )
Camenggala menjadi lurah kedua Desa
Brengkok setelah ki lurah Casentana .Masa
Jabatan menjadi lurah selama 19 Tahun .Struktur pemerintahan dari sekdes ( atau
sebutan lain ) sampai dengan pembantunya
tidak di ketahui . Camenggala mempunyai anak yang bernama Casentana yang
terkenal dengan Mbah sempok atau mbah bengkok dan menjadi bau
dengan ciri khas kemanapun membawa kasang
untuk Nginang. Menurut cerita mbah miyarto , kasang tersebut sangat
berat dan tidak ada yang kuat membawa selain beliau . Cucu – cucu dari camenggala
antara lain : ahmad dilyas , Ny Ginah , Kramasentana , dan asanwirya .
Situasi
sosial kemasyarakatan pada masa ini masih primitif tradisionalis dan syiar
islam belum di laksanakan menjadi ritual keagamaan dalam hidup sehari hari . Waalupun
demikian pada masa ini sudah mengenal JUMATAN tetapi tidak melaksanakan
solat Jumat seperti sekarang ini , yang ada hanya perayaan jumat dengan cara ADU
TANDING ( Ujung- Ujungan ) antara orang satu dengan orang yang lain,yang di
laksanakan pada hari jumat di Tapal Batas desa dengan warga tangga desa .
Tempatnya di Kalong Gondang sebagai tapal batas Dengan wonokerto dan di Tapal
batas Kalibeleber . Alat yang di gunakan yaitu Bambu yang di rancah di ulir
seperti pecut untuk di
sabetkan kepada lawannya Tidak ada yang menghukumi pada pekelahian
tersebut walaupun terjadi korban sampai meninggal . Camenggala bertempat
tinggal di Brengkok
Perubahan
nama tersebut baru seabatas gagasan /
ide / wacana yang secara pemerintahan belum menjadi keputusan desa sampai masa jabatan beliau habis .
Karya luar biasa dalam
menyejahterakan masyarakat yaitu dengan
membuat saluran wadas gendol untuk
mengairi areal persawahan, atau terkenal dengan nama kegiatan Susuk wadas
Gendol . Legenda yang mengikuti sampai sekarang di masa jabatannya adalah
legenda RONGGENG SARMINI yang
berkaitan erat dengan wadas gendol.
Ki Lurah Ketiga :
Ki Lurah Surawijaya ( 1908 – 1909 )
Sejarah Surawijaya yang
menjadi lurah ketiga di desa Brengkok , sepak terjangnya tidak banyak di ungkap
.Menjabat lurah hanya 1 ( satu ) Tahun .Anak keturunan beliau antara lain : mbah
tarmuji , mbah sadikrama dan haji ahmad (
cerita mbah tamarun )
Pemerintahan
Desa pada masa ini , sudah terdapat aturan mengenai desa yang di terbitkan oleh pemeriintah kolonial
belanda yang di buat Tahun 1906 no 83
yang di sebut Inlandsche Gemeente Ordonanti ( IGO ) yang berlaku
untuk Jawa dan Madura.
Di mana dengan pengaturan ini
Desa – Desa di Jawa Madura tidak mempunyai kesamaan Bentuk pemerintahan ( tidak
Seragam ) yang kemudian Aturan itu di cabut dan tidak di berlakukan lagi
setelah muncul Undang – Undang Nomor 19 Tahun 1965 Tentang Pengaturan Mengenai Desa Praja
.--------------- Sumber : Penjelasan
UU No 5 Th 75 ------
Ki Lurah Keempat :
Ki lurah Muhamad ’ abid ( 1910 – 1911 )
Menurut mbah abdurokhman ,
Muhamad abid alias Mbah dabid menjadi lurah
ke-empat dan menjabat selama 1 ( satu ) Tahun.Semasa Hidupnya Timpat
tinggal beliau di dukuh brengkok.Walau masa jabatannya pendek hanya 1 Tahun tetapi
di masa jabatannya syiar islam sangat
menonjol dan beliau merupakan pejuang
islam pertama di Desa dan merupakan pelopor .ini di buktikan dengan merintis
berdirinya masjid jami di brengkok yang
di didirikan di atas tanah wakaf dari beliau .Syiar islam tersebut juga sampai
di di dukuh Timbang dan Gondang sehingga dukuh brengkok menjadi pusat syiar
islam ( Santren ) .Setelah mendirikan masjid di brengkok ( rejosari sekarang
ini ) jadi , maka Muhamad Abid
mencari sorang kyai untuk menetap di Brengkok yaitu Kyai Jamhari dari
Tegalsari dan beristrikan ny Supi yang merupakan anak dari Muhamad Abid .
Di samping itu juga
memperjuangkan berdirinya musolla /langgar di timbang tepatnya di pekarangan Mubad
junaedi sekarang - yang kayu kayu
nya membawa dari leksana .
Setiap akhir tahun ( Sura ),Muhamad
abid senantiasa menggelar Tledek (
tayub ) sebagai penutupan kegiatan
akhir tahun ( Suran ) .
Anak keturunan beliau yaitu : Marjuki alias Simar , Ny Jamhari ,
Ny Ngalirohmat , Ny Dulah sulur , Ny Yahruji , Damiri dan Giyo .dalam
memperjuangkan Islam Muhamad Abid bersama
– sama dengan Mbah Jangkung , mbah tarmuji dan Mbah asan sahid dan mbah kasanom
Di masa jabatannya di bantu
juru tulis / carik yaitu Trimo yang selanjunya di ganti beliau Mislam dan
wilayah dukuhan di buat 2 ( dua ) kebaon dan di kepalai oleh bau yaitu kebaon brengkok dan kebaon Timbang .
Sedangkan Dukuh gondang merupakan wilayah
ketampingan yang di pimpin oleh Tamping .
Aparat kebaon brengkok
terdiri atas Singadiwirya (bau) , Mustareja ( Bayan ) , Kasanom( lebe) .
Di kebaon timbang terdiri
atas Santika ( bau ) , Sanreja ( bayan ), Ngaliyakin
( lebe – dan merupakan lebe waleh / Wakil Lebe brengkok ) .
di
wilayah tampingan gondang di pimpin oleh tamping Marwikrama dan bayan amad dangnom .
Tokoh di bidang keagamaan di
masing – masing kebaon dan tampingan yaitu Kasanom (Brenkoque ) , Ngaliyakin ( Timbang ) dan Istad ( Gondang ) .
Ketika menjabat lurah , Muhamad
Abid mempunyai semangat dan kemauan kuat
untuk membentuk ahlak masyarakat supaya baik sesuai dengan syariat islam .( mungkin
pada masa ini masyarakat masih melakukan
tabiat buruk secara mayoritas ) , beliau
Mohamad abid alias Mbah dabid
menggagas perubahan Nama Dukuhan
dan Desa karena nama yang ada
berkonotasi kurang bagus. Dan mempunyai arti yang jelek. Sehingga beliau
Menggagas nama dukuhan Brengkok
menjadi Mergosari , Nama dukuhan Timbang menjadi Mangunsari , Nama
dukuhan Gondang Menjadi Karangsari . Sedangkan nama Desa Brengkok di rubah menjadi Desa Mergosari . Konon
Katanya Nama Mergosari yang di gagas
beliau terilhami oleh banyaknya Madu /
Sari Tawon yang banyak di mergosari .
apa benar apa tidak , Menurut cerita sejak dulu ,
yang di sampaikan mbah H. Sukardi , smasing – masing nama dukuhan sebelum di
rubah mempunyai arti yang jelek yaitu :
BRENKOQUE :
Gembreng- gembreng tur pekok
TIMBANG :
Petita – petiti najan ora imbang
GONDANG :
sama dengan Telak , keras , Geden Suara ,
Di maksudkan dalam rangka membentuk masyarakat
yang baik ,nama tersebut diganti
dengan nama :
Mergosari :
Senantiasa di Jalan Yang baik , mengerti kebaikan
Mangunsari :
Pertimbangan yang bagus , diam demi kebaikan
Karangsari :
Keras dalam kebaikan , Teguh dalam pendirian
Ki Lurah Kelima :
Lurah Haji Ahmad ( 1912 – 1944 )
Haji Ahmad bermukim di dukuh brengkok dan merupakan lurah
kelima yang merupakan anak dari ki lurah Surawijaya . .Beliau Merupakan Lurah
yang sangat Berwibawa ( Siwer ) . Masa jabatan beliau selama 32 Tahun . di awal
kepemimpinannya Haji Ahmad mewujudkan gagasan Mohamad Abid alias mbah dabid
untuk merubah nama dukuh dan nama desa dengan di tetapkan dalam selapanan desa Kemungkinan Perubahan nama tersebut .Tepatnya
tahun 1912.Dengan Demikian Nama Resmi MERGOSARI baru terjadi 96 Tahun yang
lalu. tetapi nama sebelumnya
yaitu brengkok , timbang dan gondang masih di gunakan masyarakat .
Anak keturunan beliau yaitu : H. Iskak , Wasito
, Ny Turiyah Dono , Seman , Misnan dan
Toipah . Rokok Kesenangannya adalah Rokok
Klenteng ( Tembakau di bungkus klaras jagung di ikat benang)
Sistem pemilihan pada saat itu menggunakan Sistem
Tongkrongan yaitu para pendukung
calon lurah baris di belakang calon
lurah kemudian di hitung. Yang paling banyak yang ikut antri di belakang (
Tongkrong ) dialah yang jadi . konon bila yang ketahuan berkhianat , maka di
tempat itu juga , bisa di keroyok sama pendukung yang lain .
H. Ahmad
maju dalam sistem tongkrongan bersama dengan Kartareja dan berhasil
mengunggulinya .
Di era kepemimpinannya sang carik / juru tulis
mengalami pergantian 3 ( tiga ) kali . yaitu dari Mislam di ganti Sastro
sudarmo dan di Gantikan lagi oleh Beliau Mukhlas .sedangkan kewilayahan
masing tetap terdiri atas 2 ( dua ) kebaon dan 1 ( satu ) wilayah tampingan
seperti era Mohamad abid.
kebaon
Mergosari terdiri atas : Ahmad dilyas ( bau ) , mustareja ( bayan ) , Kasmo (
lebe ) sedangkan pejuang keagamaan di kebaon mergosari yaitu Ahamad sahid dan
K. Daldiri.
Kebaon Mangunsari terdiri atas Marjuki bin Mohamad
Abid ( Bau ) , Dipaseca yang kemudian di gantikan Wasito miharjo ( bayan ) , Lebe di rangkap oleh Beliau pak marjuki . Pejuang
Keagamaan di kebaon ini yaitu Ali makwar dan Asanwirya .
Di wilayah tampingan Karangsari terdiri atas
Marwikrama ( Tamping ) , manan ( Bayan ) Sedangkan Pejuang keagamaannya yaitu Bukhaeri
yang asli banjarnegara dan Bahri asal Ngaribaya.
Salah
satu peninggalan beliau yaitu merubah jalan Dengok yang dulu melalui jalur
bawah , kemudian di naikkan melalui di atas nya
( Sigugur ).
Ki Lurah Keenam :
Lurah Ahmad Darum ( 1945 – 1963 )
Ahmad Darum bin Khasanraji merupakan Lurah yang ke enam dan menjabat selama 18 Tahun.Semasa hidupnya bertempat tinggal di dukuh Mergosari ( Brengkok ) . Ahmad Darum mempunyai watak yang halus arif dan Bijaksana .Dalam pemilihan lurah yang menggunakan sistem tongkrongan Ahmad Darum berhasil mengungguli Ahmad Sukri , Asanwirya , Marjuki dan Ny Dono .Anak Keturunan Ahmad Darum yaitu : H. Hozali , Hadi Suwarno , sunjiyah , Suwarni, Bendu, Suratmi, dan Sulimah
Pada
Tahun 1981 , di buat lapangan Sepakbola , yang di motori oleh seorang Pemuda
bernama Suharto alias Sudarto bin marjuki.
Ahmad Darum bin Khasanraji merupakan Lurah yang ke enam dan menjabat selama 18 Tahun.Semasa hidupnya bertempat tinggal di dukuh Mergosari ( Brengkok ) . Ahmad Darum mempunyai watak yang halus arif dan Bijaksana .Dalam pemilihan lurah yang menggunakan sistem tongkrongan Ahmad Darum berhasil mengungguli Ahmad Sukri , Asanwirya , Marjuki dan Ny Dono .Anak Keturunan Ahmad Darum yaitu : H. Hozali , Hadi Suwarno , sunjiyah , Suwarni, Bendu, Suratmi, dan Sulimah
Di era kepemimpinannya tidak ada perubahan Kewilayahan , tetap
seperti dahulu . Sedangkan Di bidang Administrasi di bantu oleh carik yaitu Muklas
dono Suwito .
Aparat pemerintahan di kebaon mergosari terdiri
atas : Wirya Reja ( Bau ) , Maksum ( Bayan ) , Dulhamid yang Kemudian di gantikan oleh Sastro Sudarmo
Sebagai Lebe . Di bidang keagamaan tokohnya yaitu Tarmuji , H. Tohir , K. Daldiri
, Sastro Sudarmo dan ahmad Sukri .
Di Kebaon Mangunsari terdiri atas Marjuki ( Bau /
Kamituo ), Istamar( Bayan ) , Ali makwar yang di gantikan oleh asanwirya sebagai lebe .
Di wilayah tampingan karangsari terdiri atas Atmo Miharjo ( Tamping ) , Amad
Kanan yang di gantikan Asanmiharjo ( Bayan ) , K. Sambudi ( Lebe ) . Sedangkan Tokoh Agamanya adalah K Sambudi dan
Afandi .
Beberapa peristiwa semasa kepemimpinannya adalah antara lain :
Tahun 1945 , Ikut membantu TNI dalam perang
kemerdekaan ( Slash Belanda II ) yang
bersama rakyat menyiapkan tempat
penyerangan (Parit ) bagi TNI di Bedali , Mangunsari , Dan sebelah utara tanah
bengkok lurah untuk menyerbu / menghadang Kompeni belanda di jala raya bojanegara
yang datang dari arah banyumas.
kemudian membantu TNI mengangkut senjata ke Tlogo
seusai penyerbuan .Tembakan TNI dari bedali berhasil menewaskan pemimpin Belanda
yang bernama Jenderal Spoor dan mobilnya
terbakar di selatan mangunan .
Tahun 1952, di bidang pertanahan di adakan Klassir tanah
untuk di bukukan dalam buku hak milik
yang terkenal dengan BUKU LETTER C .
Tahun 1953, Di Desa Mempelopori berdirinya NU Sebagai Partai Politik bersama tokoh
seperti Muchlas Dono Suwito , Sastro Sudarmo , Marjuki , Ali Makwaar dan Kyai
Ahmad Syambudi serta ikut mempelopori
berdinya masjid di mangunsari dan di karangsari .
Tahun 1954 , Membangun Pertanian rakyat dengan
program PTP ( Pemberantasan Tanah Bera ) / Ladang dengan tanaman Kopi , Kelapa
, Jagung , Singkong dan Keladi ( busil ) . Di samping itu juga menggiatkan pertanian
paadi dan galengan ( pematang ) dengan
Istilah MHBM ( Meningkatkan hasil Bahan Makan ) . di bidang pertukangan
beliau juga mengilhami banyaknya muncul tukang – tukang kayu profesional pada
saat itu .
Sebagai
seorang pemimpin , beliau juga selalu
banyak inisiatif untuk jalannya pemerintahan dan kemasyarakatan yang baik ,
maka di adakannnya usaha dengan cara selapanan desa
setiap KAMIS MANIS , Kumpulan Dukuhan dan anjangsana lingkungan .
Kegigihanya mendapat tanggapan positif daari
masyarakat. Tutur katanyanya yang sangat khas yaitu “ Tempang – Tempong –
Tempang Timying – Timying paleg ..........
Ndarani Mbokan “ ( Sumber – H Sukardi )
Tahun 1961 , Merintis dan Menggerakkan Pendidikan
di Mergosari di tandai dengan mendirikan Sekolah Dasar ( SD ) Mergosari dalam
Waktu 4 bulan sejumlah 6( enam ) Lokal gedung berukuran 7 x 42 Mete dapat di
selesaikan atas swadaya masyarakat dan hasil
pembanguna tersebut merupakan hasil bangunan terbaik di Wilayah Kcamatan
Leksono .
berdasarkan buku letter C , Pemilik Tanah di
Mergosari kala itu baru : 212 orang Pemilik .sampai periode ini kantor kecamatan masih di namakan Kantor
Asisten Wedana yang di kepalai oleh
seorang asisten Wedana ( Ndoro Stein ) dan Asisten Wedana di bantu oleh sekretaris asisten wedana yang
di sebut Klerek. Mantri polisi pada saat itu di sebut Upas . Bila ada
Bromocorah ( Pencurian ) di desa maka
laporannya ke kantor Ngepelan ( Polsek ) dan BUDM ( koramil ) . Bahasa laporan
menggunakan bahasa jawa krama inggil dan
bila rapat di kantor asisten masih
memakai blangkon dan sorjan lengkap dengan tatanan keraton bila menghadap ndoro
stein.
Ki Lurah Ketujuh :
Lurah Suprapto ke- I ( 1964 – 1988 )
Suprapto bin Kaswari merupakan lurah ke 7 dan ke 8 di sejarah Desa Mergosari . Semasa Hidupnya
tinggal di Dukuh Mergosari . Dalam pemilihan kepala Desa Sudah Menggunakan Sistem
Bitingan yaitu memasukkan Biting ( Lidi ) ke dalam Kotak Bambu ( Bumbung ) . Biting mana yang paling banyak maka di yang
Jadi . Pada saat itu ada 11 orang yang maju dalam sistem bitingan yaitu : Suprapto
, Karto Wardoyo , Sastro Sudarmo, Tukardi , Patori , Asanwirya , Muklas , Wasito
, Dalhari , Atmo Miharjo , Samijo , Ny Dono . dari sebelas calon tersebut
Suprapto berhasil mendapatkan suara paling banyak .
Anak keturunannya yaitu : Edi , Hartati,
Ernawati, Sulwati, Nurfarida , joko,Prapti
Di
masa Kepemimpinan yang pertama Beliau mewujudkan Rencana Pembangunan jembatan gantung
yang sempat di gagas Lurah Ahmad Darum .
Masa Jabatan periode ini selama 24 Tahun . Banyak perubahan Tatanan
pemerintahan yang menyangkut sebutan pemerintah Desa . yaitu salah satunya
peristilahan LURAH di rubah menjadi Kepala Desa sesuai dengan
Perubahan Undang – Undang yaitu munculnya undang undang baru no 5 Tahun 75
tentang pemerintahan Desa .
Periode pertama ini terdapat pergantian Carik dari
Muklas di gantikan oleh Hadi Sucipto yang bertempat tinggal di
karangsari. Di zaman kepemimpinanannya sangat di segani karena pembawaannya
yang tegas .Ini di buktikan dengan salah penegasan Kembali penggunaan Nama Mergosari
, mangunsari dan karangsari untuk senantiasa di pergunakan dalam pembicaraan
resmi maupun tidak resmi oleh masyarakat
. Bila ketahuan maka beliau tidak segan – segan untuk memarahinya .
Wilayah pedusunan masih tetap 2 kebaon dan 1
wilayah tamping .
Wilayah Kebaon mergosari terdiri atas : Wiryareja yang kemudian di gantikan Mirsodi di gantikan lagi Suliyah digantikan
lagi Muhyidin sebagai Bau . Sedangkan Maksum di gantikan Sutarto di gantikan Sucipto
sebagai Bayan . Kemudian Sastro Sudarmo di gantikan Hadi Suwarno di gantikan Muhamad Sodik Sebagai
Lebe . Terdapat Tambahan Aparat Yaitu Maryono
Sebagai Ulu – Ulu .
Di kebaon Mangunsari terdiri atas Marjuki ( Bau
) , Istamar yang di gantikan Durohman sebagai bayan . Sedangkan Asanwirya yg di gantikan miftahudin sebagai lebe
.
Di
wilayah tamping karangsari terdiri atas Atmo Miharjo di gantikan Muhidin
– di gantikan Hadi Sucipto – di gantikan Dulngadim sebagai
Tamping .
Sedangkan Asanmiharjo yang di gantikan Rofiudin
di gantikan Siswandi di gantikan adi
wiyanto alias noto sebagai bayan . sedangkan lebe dari A. Sambudi di
gantikan Sahro wardi di gantikan Siswandi di gantikan Qomaarudin
.
Pada saat kepemimpinannya , Tahun 1965 ( setahun setelah menjabat ) meletuslah
peristiwa G 30 S PKI di Indonesia .Di Desa Beliau secara antusias merespon
bahaya yang mungkin timbul di mergosari karena berpenduduk mayoritas muslm yang
taat . Maka Beliau menggerakkan ronda malam / Jaga malam dan meningkatkan
kewaspadaan akan bahaya yang mucul serta berpartisipasi aktif membantu
pemerintah kecamatan dengan mengirim Anggota WANRA untuk berjaga di Koramil dan
Polsek secara rutin dan bergiliran .
Tahun 1971 , Menlanjutkan Gagasan Kepala Desa
Terdahulu ( Ahmad Darum ) membuat
jembatan Gantung dengan biaya murni masyarakat melalui hasil panen padi sebesar
10 % dari hasil panennya. Dalam pelaksanaan tekhnis lapangannya di
Koordinir oleh carik desa Muchlas Dono suwito .
Tahun 1975 , sesuai dengan kebutuhan masyarakat
yang mendesak maka beliau mendirikan
Gedung Balai Desa .
Tahun 1988 , Atas Prakarsa Pemuda Sudarto Bin
Marjuki , Beliau Mendukung Lembaga pendidikan Maarif dengan berdirinya MI
Maarif Mergosaari Filial Sukoharjo dengan memberikan ijin secara resmi
penggunaan tanah bengkok ( sisa lapangan ) untuk di dirikan Gedung MI . Surat
perijinannya di tanda tangani caamat leksono yaitu Tunggono , Ketua LKMD Sikun
Chobarudin
Di era kepemimpinan Suprapto periode pertama ini
banyak kemajuan yang di capai oleh Desa Mergosari yaitu :
1.
Balai Desa Mergosari
2. SD Inpres Mergosari
3. Jembatan Gantung
4. Pelurusan Jalan Timbang
Setelah periode Habis , Maju lagi dan terpilih kembali menjadi kepala Desa
Mergosari dan sela waktu kekosongan
Kepala Desa di laksanakan oleh Penjabat Dari kecamatan Leksono yaitu Wardoyo .
Ki Lurah KeDelapan :
Kepala Desa Suprapto ke-II ( 1989 – 1997 )
Periode kedua Suprapto ini merupakan lurah
yang kedelapan . Masa Jabatan periode
kedua ini selama 8 Tahun . Dalam periode
kedua ini maju sebagai lurah bersama dengan Sudarto marjuki dan Bisri
alfan , dan beliau berhasil mengungulinya . Sistem pemilihan sudah
menggunakan toblosan dengan kartu yang bertanda gambar buah / Tanaman .
Pada masa periode ini Beliau di angkat Menjadi GLONDONG
Kepala Desa yaitu Kepala Dari Kepala Desa ( Ketua ). Banyak perubahan penting perihal pemerintahan di masa periode II ini.
Perubahan tersebut perubahan total
sebutan aparat desa dan Pemekaran
Wilayah Dusun Mergosari di mekarkan menjadi dusun Rejosari .
Wilayah Dusun Mergosari Terdiri atas Muhyidin (
Kadus ) , Sedaangkan Sucipto yang di gantikan Ahmad Yuswo di
gantikan M Ilyas sebagai Bayan . Sedangkan Ahmad Nudin Sebagai Lebe
Wilayah Kadus Rejosari terdiri atas Tamarun
( Kadus ) , Saefudin yang di
gantikan Muhlisin sebagai Bayan
sedangkan Muh. Sodik Sebagai Lebe .
Wilayah Kadus Mangunsari terdiri atas Durohman
( Kadus ) , Sugito ( Bayan ) dan Miftahudin (Lebe ).
Wilayah Karangsari terdiri atas Muhidin yang di gantikan dulngadim (
Kadus ) , Rofiudin ( Bayan ) , Komarudin ( Lebe )
Dalam menjalankan Kepemimpinannya sejak periode
pertama , Suprapto senang melakukan silaturahmi kepada warga dan jajaran
pemerintahan Desa dan kebiasaan tersebut
tetap di lakukan setelah masa jabatan kepala Desa Habis .
Setelah
masa jabatannya habis ,tugas kepala desa di isi oleh pejabat dari kecamatan
leksono yaitu Mulyono.
Ki Lurah KeSembilan :
Kepala Desa Sucipto ( 1998 – 2006 )
Sucipto bin Kaswar merupakan orang kedelapan yang menjadi kepala
desa mergosari dan menjabat selama 8
Tahun . Maju sebagai kepala desa bersama dengan NY Suliyah Suprapto dan
berhasil mengungulinya.
Secara periode
Sucipto merupakan Kepala Desa periode kesembilan dari urutan periode
kepala desa / Lurah . Beliau bertempat tinggal di Mergosari. Selama masa
jabatannya mengalami banyak perubahan
aturan perundangan pemerintahan seperti
perubahan UU no 5 tahun 1979 menjadi
UU no 22 Tahun 1999 di rubah lagi dengan UU no 32
Tahun 2004 . Masa jabatan beliau berakhir pada 15 Januari 2006 .
Di masa kepemimpinannya, Sekretaris desa
mengalami kekosongan karena Meninggalnya beliau sekdes Hadi Sucipto
karena sakit . Kekosongan tersebut mulai tahun pada tahun 1999 s/d 2001 dan
baru ada sekdes tahun 2001 yaitu sdr. Gatot Sudarto Dengan semangat dan
Keuletannya Era kepemimpinannaya berhasil memajukan Desa setahap demi setahap .
Perubahan Yang mendasar di era kepemimpinannya yaitu Peningkatan Kesejahteraan
Lebe yang semula tidak mengolah
tanah bengkok oleh beliau di beri olahan bengkok , dan Bengkok kepala Dusun
Rejosari di pecah jadi 2 untuk kadus Mergosari dan kadus Rejosari .Sedangkan
perubahan kelembagaan secara undang undang yang terjadi di masa Kepemimpinannya
adalah berdirinya Badan Perwakilan desa
yang di rubah Badan Permusyawaratan Desa
Di
ringkat Kecamatan Terdapat Pemekaran Kecamatan Leksono di mekarkan menjadi
Kecamatan Sukoharjo dan Desa Mergosari Ikut Kecamatan Sukoharjo pada
Tanggal 21 Juli 2001 dengan Camat
Pertama Yaitu Drs. Gatot Hermawan .
Wilayah Dusun tidak ada perubahan , yaitu 4 dusun
Wilayah
Dusun Mergosari Terdiri atas Muhamad
Sodik yang di gantikan Muh. Yuswo ( kadus )
Muh Ilyas ( Kaur pemerintahan ) , Afandi ( Lebe ) .
Wilayah Rejosari terdiri atas H. Sidik Nawawi yang di gantikan
Tamarun ( Kadus ), Muhamad Nudin ( Kesra ) , Muhlisin ( Kaur Pemb. Keuangan )
Wilayah Mangunsaari Terdiri atas Durohman yang di
gantikan Sabar ( Kadus ) , Samsurohman ( Kaur Pembangunan ) , Miftahudin ( Lebe
) , Sugito ( Kaur umum ) , Sukisno ( Kaur Keuangan )
Wilayah Karangsari Terdiri atas Rofiuidin ( Kadus
), Fahrudin ( Pemb. Pemerintahan ),
Komarudin yang di gantikan Mutolib ( Lebe ).
Setelah masa jabatan habis , Pemerintahan desa
di jalankan oleh Pj dari sekdes Gatot sudarto selama 1 Tahun 2 Bulan .
Ki Lurah KeSepuluh :
Kepala Desa H. Bambang Sugiyanto ( 2007 – 2012 )
H. Bambang Sugiyanto Bin H. Hozali Di lantik Tanggl 15 Januari 2007
dengan masa jabatan seuai undang- undang nomor 32 Tahun 2004 selama 6 Tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar