Selasa, 28 Desember 2010

PERILAKU DALAM ARSITEKTUR : JALAN A YANI KOTA WONOSOBO DITINJAU DARI PERILAKU PEJALAN KAKI

A. LATAR BELAKANG

Kota merupakan suatu tatanan fisik spasial yang terbentuk oleh elemen-elemen fisik yang saling mempengaruhi. bangunan, pohon, dan juga jalan, taman-taman kota merupakan elemen-elemen pembentuk kota. Dalam pembentukan kota, elemen-elemen tersebut dilihat sebagai objek arsitektur yang hampir selalu berubah, seperti pernyataan berikut : “Kota di pandang sebagai objek arsitektur yaitu sebagai konsentrasi elemen fisik spasial yang selalu tumbuh dan berkembang” (Aldo Rossi, 1974) ditambahkan pula, bahwa “Kota merupakan kumpulan elemen-elemen kota yang kongkrit, bukan sebagai functional zones dan angka-angka saja, mengenai tipologi bangunan, pohon-pohon dan taman, bukit dan lembah sungai, jalan kereta api, dan sebagainya” (Sandi Siregar, 1990). Pemahaman kota dilihat secara mendetail sehingga akan terungkap bahwa suatu kota terbentuk dari elemen-elemen pembentuknya.
Berjalan kaki pada awalnya adalah salah satu hal terpenting dalam sirkulasi, namun dalam perkembangannya seolah sering terlupakan. Ruang jalan dalam ruang publik kota menjadi begitu diperhatikan akhir-akhir ini karena banyak pihak mulai merasakan perlunya suatu ruang luar bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai penghubung (link) antar bangunan saja, melainkan juga dapat memiliki nilai lebih nilainya sebagai sebuah tempat beraktivitas.
Pejalan kaki membutuhkan sebuah ruang pada jalan yang dibentuk secara fisik agar dapat melakukan aktivitas. Aktivitas ini diharapkan aman dan terlindung dari unsur lain dari jalan itu sendiri, yaitu kendaraan bermotor cukup jelas bahwa jalur pejalan kaki sebagai ruang transisi ini bukanlah sekedar sebuah jalur pejalan kaki ditepi jalan, meski lengkap dengan utilitasnya, yang tidak mendukung langsung aktivitas secara langsung, melainkan sebagai wujud fisik. Atau dengan kata lain jalur pejalan kaki harus memenuhi kriteria fisik sebuah jalur pejalan kaki atau trotoar.
Objek yang dipelajari adalah Kawasan Pusat Kota Wonosobo, kawasan pusat kota didominasi oleh kawasan komersil, sehingga menarik untuk dibahas karena :
1.    Pada kawasan komersil, kegiatan warga kota paling banyak membutuhkan interaksi sosial dan pergerakan / tranportasi lainnya.
2.    Dominasi kegiatan fungsional dipusat Kota Wonosobo memiliki intensitas yang tinggi.
3.    Tumbuh dan berkembang dengan pesat dibandingkan dengan kawasan lain dan merupakan lokasi yang strategis.
4.    Dikawasan pusat kota memiliki tempat-tempat fungsional yang memiliki dampak hidupnya suatu kota (activity support).
5.    Faktor aksesibilitas dengan jarak capai ke pusat kota dari tempat-tempat fungsional kota terasa relatif dekat dan tersedianya tranportasi kendaraan umum sebagai jalur yang berkelanjutan.
Gambaran pusat kota Wonosobo seperti diatas merupakan awal timbulnya permasalahan Jalur pejalan kaki yang sering terintervensi oleh kehadiran sektor informal (PKL), sehingga fungsi trotoar sebagai jalur yang aman untuk pejalan kaki kurang terpenuhi. Keamanan, kenyamanan pejalan kaki kurang mendapatkan perhatian. Akibat yang ditimbulkan oleh kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi pada jalan yang bersebelahan dengan jalur pedestrian. Di lain sisi, penggunaan jalan sebagai lahan parkir sudah berlebihan, ada yang mencapai 5 baris sehingga hampir separo jalan di pakai untuk lahan parkir.

B. TUJUAN PENELITIAN
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kebutuhan attribute dan properti yang diinginkan pedagang kaki lima serta pola-pola setting yang terbentuk sehubungan dengan perilaku pedagang kaki lima, disepanjang Jalan A. Yani Wonosobo sekitar komplek Plaza, pasar tradisional sampai alun-alun kota Wonosobo.
C. ALUR POLA PIKIR
 































D. TINJAUAN TEORI

Pendekatan kuantitatif rasionalistik digunakan dalam penelitian ini dengan penggalian data menggunakan pemetaan perilaku (Person Centered Mapping dan Place Centered Mapping).
Penelitian ini merupakan penelitian perilaku yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan lingkungannya (setting). Penelitian ini diawali dari adanya isu perilaku pedagang informal (PKL) dan fenomena yang muncul dari interaksi antara pedagang dengan setting. Dalam hal ini penelitian menggali dan mengkaji kaitan antara fenomena perilaku pedagang informal dengan setting jalur pejalan kaki, untuk mendapatkan indikasi tuntutan kebutuhan attribute dan property serta faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan tersebut. Hal tersebut diperoleh melalui proses analisis dengan teori-teori.
Berdasarkan tinjauan pustaka dan uraian tersebut, disusun landasan teori sebagai landasan penelitian ini sebagai berikut :
1.    Faktor setting (ruang jalur pejalan kaki, unsur pendukung dan lingkungannya) mempengaruhi perilaku pedagang informal.
2.    Hubungan antar pedagang informal sebagai individu yang memanfaatkan setting dalam melakukan kegiatan (berdagang, duduk dan berdiri) dalam memenuhi kebutuhannya menghasilkan fenomena perilaku yang disebut sebagai attribute serta sesuatu yang memberikan daya tarik dan mendukung intensitas kegiatan / aktivitas disebut sebagai property.
3.    Attribute yang digunakan sebagai dasar analisis adalah : indera perangsang, kenyamanan aktivitas, kesesakan, sosialitas, privasi, kontrol, aksesibilitas, adaptabilitas dan makna, sedangkan property yang terbentuk berupa dimensi dan kualitas ruang jalur pejalan kaki dan benda-benda fungsional yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan.


E. METODE PENELITIAN

Sebagaimana tujuan penelitian, maka metoda yang dipakai dalam penelitian ini adalah metodologi penelitian kuantitatif rasionalistik, dengan penggalian data yang menjelaskan ciri dengan menggali fenomena lewat pemikiran logik dengan kesesuain yang digunakan menggunakan pemetaan perilaku (person centered mapping dan place centered mapping).
Untuk analisa data penelitian ini menggunakan analisa statistik deskriptif. Analisa dengan statistik deskriptif merupakan statistik yang bertugas “mendeskripsikan” atau “memaparkan” gejala hasil penelitian. Statistik deskriptif sifatnya sangat sederhana dan tidak pula menggeneralisasikan hasil peneliitian (Indrosaptono, 2003). Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dan gejala-gejala tertentu (Sevilla, 1993).
Proses analisa diawali dengan mengkaji seluruh data, data tersebut kemudian dibandingkan terhadap beberapa informasi, sesudah itu menyusun dan mengelompokkan berdasarkan komponen kegiatan aktor, tempat dan waktu dan aspek-aspek yang terkait diatas terhadap perilaku pada jalur pedestrian. Kemudian melakukan pembahasan terhadap berbagai temuan tersebut dengan studi pustaka yang telah disusun lewat referensi yang ada dan hasil akhirnya merupakan suatu kesimpulan penelitian.

F. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Karakter Jalur Pejalan Kaki
            Jalur pejalan kaki  trotoar Jalan. A Yani sekitar komplek Plaza, pasar tradisional sampai alun-alun kota Wonosobo terdiri dari jalan trotoar yang posisinya sebelah kanan dan kiri sepanjang jalan  dan jalur penyebrangan yang posisinya melintang terhadap jalan raya yang berfungsi juga sebagai penghubung antara pasar tradisonal Wonosobo dengan komplek pertokoan plaza. Untuk mendapatkan gambaran tentang karakteristik jalur jalan pejalan kaki di Jalan A Yani yang lebih rinci, akan dirincikan yaitu tentang :

1. Kondisi dan dimensi jalur pejalan kaki
Jalur pejalan kaki di sisi Jalan A Yani lebar 100 – 200 cm, dalam keadaan baik. Jalur trotoar ini merupakan batas antara bangunan dengan badan jalan.

             
              Jalur pejalan Kaki/ pedestrian

             
              Sebagian jalur pedestrian yang mengalami kerusakan
Jalur pejalan kaki yang berada di sekitar depan pertokoan, sebaiknya lebih tinggi dari pada badan jalan guna keamanan pejalan kaki disamping itu pertokoaan tidak membutuhkan tempat parkir karena sudah adanya tempat parkir yang terpusat dan tempat parkir di sepanjang jalan A Yani bagian barat. Sebenarnya tempat parkir seperti itu berpengaruh pada sistem pergerakan kendaraan bermotor maupun transportasi lainya karena terkadang menghambat proses transportasi di sekitar jalan A Yani.
Jalur pejalan kaki yang mengalami kerusakan adalah dibagian sekitar pertokoan plaza atau lebih tepatnya disekitar tempat penyebrangan antara pertokoan plaza dan juga pasar tradisional.
2. Tata hijau
 Sepanjang jalur pejalan kaki baik disisi barat maupun timur Jl. A Yani telah ditanam sederetan pohon  yang berfungsi sebagai pelindung pejalan kaki maupun kendaraan bermotor dipinggir jalan raya. Sebagian bangunan menggunakan tanaman yang ditempatkan di dekat pagar halaman, yang dapat memberikan kontribusi suasana jalur pejalan kaki. Selain itu juga ditempatkannya pot-pot bunga yang turut memberikan andil penghijauan.
             

             


             
              Zona Hijau tanaman di sekitar jalur pedestrian

3. Kelengkapan jalur pejalan kaki
Beberapa elemen yang diadakan dijalur pejalan kaki pada Jalan A Yani adalah Pot-pot Bunga yang terletak di sepanjang pertokoan, bak sampah, lampu jalan. Posisi elemen-elemen tersebut berada dipinggir jalur pejalan kaki. Disamping itu terdapat tiang listrik dan beberapa tiang telepon yang letaknya tidak beraturan terhadap jalur pejalan kaki, yang dapat berpengaruh pada dimensi efektip pemanfaatan jalur pejalan kaki.

                            Lampu jalan dan tiang listrik



                      

                      

                      
                       Tempat-tempat sampah Umum
4. Sektor informal
Jenis pedagang kaki lima bermacam-macam, misalnya pedagang pernak pernik, Celluler, mainan anak-anak, pedagang makanan dan minuman dan sebagainya. Posisinya bervariasi ada yang memenuhi jalur pejalan kaki, ada yang menempati sebagian jalur pejalan kaki, dengan harapan mempunyai akses yang baik bagi pejalan kaki. Sebenarnya hal ini sangat mengganggu keindahan jalan dan juga mengganggu aktifitas pejalan kaki.

           
           
           Penjual Pernak pernik, Mainan Anak-anak, makanan dan Minuman
            

            

            
            Celuler, pedagang Bakso dan sebagainya
           
    
           

           
5. Tempat Parkir
Tempat parkir terpusat sebenarnya sudah disediakan oleh pemerintah daerah yaitu di sekitar komplek pertokan plaza lantai paling dasar dan juga disekitar pasar tradisional juga lantai paling dasar, tempat parkir ini sebenarnya memiliki kapasitas yang lebih dari cukup hanya saja kalau pada saat hari-hari besar terkadang tempat parkir selalu penuh sehingga banyak sekali alternative tempat parkir yang bermunculan, sehingga saat ini banyak ditemukan tempat - tempat parkir di sepanjang jln. A Yani bagian barat dan depan pertokoan-pertokoan yang ada di sepanjang jalan A yani.

                        

                      
          Tempat Parkir di sekitar Jalan A Yani
6. Tempat Penyebrangan
                Tempat penyebrangan terdiri dari 2 jenis, pertama tempat penyebrangan zebra cross dan yang kedua jembatan layang penghubung antara pertokoan plaza dan juga pasar tradisional. Akan tetapi banyak juga warga masyarakat yang menyebrang tidak menggunakan fasilitas yang ada, sebenarnya hal ini juga sangat mengganggu proses transpprtasi karena menyebrang sembarangan bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan, tempat yang sering dijadikan penyebrangan adalah dibagian bawah jembatan layang penghubung pertokoan plaza dan pasar tradisional.

             
           Penyebrangan Zebra Cross


             
             Penyebrangan Menggunakan Jembatan Penghubung
            
             Penyebrangan di bawah jembatan penghubung pasar tradisional dan pertokoan plaza, penyebrang sembarangan         yang tidak mengunakan fasilitas yang ada

7. Pengemis
            Disekitar jalan A Yani ini terkadang juga terdapat pengemis, tempat mangkalnya biasanya disekitar penyebrangan bawah jembatan penghubung dua pasar, karena disekitar ini merupakan daerah yang sering dilalui oleh seorang pengunjung pasar.

               
                 Seorang nenek yang memanfaatkan jalan pedestrian untuk mengemis.

8. Pangkalan Ojek
            Pangkala Ojek ini merupakan salah satu persatuan Ojek yang ada di sekitar kota, adapun dititik ini ojek lumayan rame karena ojek juga memiliki pelanggan sendiri karena pengunjung terkadang memilih akses yang lebih cepat tanpa menunggu semisal menggunakan Angkota, hal ini Ojek merupakan sebagai alat transportasi alternatif pengunjung disekitar jalan A Yani.

             
                Persatuan Ojek disekitar Jalan A YAni.

8. Pengunjung
Pejalan kaki sebagai pengunjung mempunyai kegiatan bermacam-macam ada yang berjalan, duduk-duduk, menunggu angkota, berdiri, makan dan banyak lagi aktifitas-aktifitas lainya.

 Salah satu contoh aktifitas Pengunjung
        
Situasi Jalan A Yani Wonosobo, Apabila menjelang hari  besar agama dan apabila ada acara yang di selenggarakn oleh PEMDA Wonosobo.
  
Jalan A Yani Wonosobo pada saat Malam hari

B.   Karakter Aktivitas Jalan A Yani Wonosobo
Berdasarkan pengamatan lapangan, dapat digambarkan pola aktivitas pejalan kaki melalui jumlah pejalan kaki yang melewati jalur trotoar tepi jalan raya dan menyeberang / melintas jalan raya (di sepanjang jalan A Yani sekitar plaza, pasar tradisional, pertokoan sampai alun-alun Wonosobo). Gambaran tentang jumlah pejalan kaki tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut :
1.    Hampir setiap hari pejalan kaki mempunyai aktivitas di Jalan A Yani, mulai pagi, sore dan bahkan terkadang sampai malam hari.
2.    Kepadatan akan semakin bertambah pada saat hari libur atau hari Minggu, hari besar lainya dan juga acara besar yang di selenggarakan oleh kabupaten Wonosobo.
3.    Pejalan kaki lebih memilih berjalan di sisi sebelah Timur.
4.    Setiap hari penyeberang dari sisi barat ke sisi timur lebih banyak dari pada arah sebaliknya. Menyeberang dari sisi barat ke sisi timur lebih banyak karena akan menuju pusat pertokoan komplek plaza dan perbelanjaan Rita swalayan sedangkan arah sebaliknya lebih banyak mereka yang akan ke pasar tradisional yang masih sepi sampai saat ini, atau mau pulang naik kendaraan umum dari terminal Angkota.
5.    Pada hari Minggu atau libur, pejalan kaki akan mulai padat dari pagi hari sampai sore hari.
6.    Jalan A Yani merupakan jalan searah yang menuju ke alun-alun kota Wonosobo.
7.    Pengguna jalan pedestrian terkadang terlihat semrawut karena fasilitas jalan pedestrian sempit dan juga adanya pedagang=pdagang kali lima yang berada di sekitar jalan pedestrian.
8.    Pada hari-hari biasa Terkadang juga sepi di sekitar jalan pedestrian sekitar menuju  alun-alun.

C. Data dan Analisis Data
1. Data Place Centered Mapping
Berdasarkan hasi pengamatan melalui Place Centered Mapping, menunjukkan bahwa terdapat beberapa tempat yang diminati oleh pejalan kaki ialah :
Aktivitas dominan yang dilakukan pejalan kaki di tempat tersebut berjalan untuk mencari barang dan mendapat pelayanan jasa, berdiri menunggu agkutan kota serta hanya lewat dari satu tempal ke tempat yang dituju. Disamping itu, berdasarkan data PIace Centered Mapping, tercatat bahwa kepadatan yang ditimbulkan oleh PKL, parkir motor yang berada di sekitar jalan A Yani Wonosobo dan aktivitas pertokoan dapat mempengaruhi aktivitas pejalan kaki. Dari pengamatan lapangan diatas, sebenarnya semua lokasi  dominan karena pejalan kaki yang melewati sisi barat maupun sisi timur dikarenakan kondisi trotoar yang ada menuju langsung ke pusat pertokoan yang berada disepanjang jalan A Yani.
Di bagian barat perempatan plaza Jl. A Yani, disekitar Pertokoan komplek plasa atau Rita Dept. Store, Di sekitar mulut Pintu keluar masuk Pasar tradisional dan pertokoan komplek plaza dan sepanjang  sebelah timur menuju ke arah alun-alun dari arah selatan. Adapun beberapa titik kepadatannya yaitu :
                               













 





Rounded Rectangular Callout: Titik Kepadatan, keramaina           Jalan A Yani


































 








Pos Polisi
 
                         Jalan A Yani
             
2. Data Person Centered Mapping
Teknik Person Centered Mapping menekankan pada pergerakan manusia, pada periode waktu tertentu (Haryadi B. Setiawan, 1975), teknik tersebut berkaitan dengan tidak hanya satu tempat tetapi dengan beberapa tempat. Dalam hal ini peneliti berhadapan dengan seseorang yang khusus diamati.
Langkah yang dilakukan adalah :
a. Memilih sampel person dan sekelompok pejalan kaki yang sedang melakukan kegiatan di jalan A Yani.
b. Mengikuti aktivitas yang dilakukan o!eh pejalan kaki atau sekelompok pejalan kaki yang diamati.

                   

            Dari hasil pengamatan yang kami poeroleh antara lain :
1.    Pengunjung hanya berjaln kaki dan berpindah tempat dari satu toko ke toka lainya.
2.    Pejalan kaki datang dari tempat yang berbeda-beda arah, sehingga terlihat semrawud.
3.    Pejalan kaki atau pengunjung banyak juga yang berjalan tidak di trotoar melainkan di jalan raya A Yani karena trotoar banyak yang digunakan oleh PKL.
4.    Hampir semua pejalan kaki disekitar pertokoan plaza dan pasar tradisional yaitu melakukan kegiatan yang sama, yaitu menuju ke tempat yang dituju diantaranya menuju ke tempat perbelanjaan, toko, tempat parkir, dan sebagainya.  Karena pada tempat ini terjadi akses ekonomi masyarakat jual beli.

                     
                     
                     
G. KESIMPULAN DAN SARAN
            Dari hasil pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.  Dari Hasil pembahasan yang diperoleh melalui pengamatan jalan A Yani Wonosobo adalah fungsi pedestrian sudah tidak berjalan sesuai dengan fungsinya. Hal tersebut juga tidak sesuai dengan teori mengenai jalur pedestrian dan teori mengenai kenyamanan pejalan kaki. Jalur pedestrian Jalan A Yani Wonosobo banyak digunakan untuk aktivitas-aktivitas lain selain untuk berjalan.
2. Dari hasil pengamatan perilaku pejalan kaki di sepanjang Jalan A Yani diperoleh hasil yaitu perilaku pejalan kaki sudah berubah dengan mengikuti perubahan lingkungannya. Dalam hal ini perilaku pejalan kaki di Jalan A Yani lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk berjalan daripada harus berjalan di  sepanjangb trotoar yang kadang penuh dengan aktivitas berdagang dan berkumpulnya komunitas-komunitas yang berada di sepanjang Jalan A Yani Wonosobo.
                                       
      SARAN
            Adapun saran yang dapat diberikan untuk lebih memanfaatkan jalur trotoar sebagaimana mestinya adalah sebagai berikut:
1. Bagi masyarakat yang menggunakan jalur trotoar sepanjang Jalan A Yani sebagai tempat untuk berdagang, sebaiknya tidak menggunakan jalur trotoar sepenuhnya karena hal ini tidak sesuai dengan tujuan adanya trotoar. Memberikan ruang bagi pejalan kaki yang melewati jalur trotoar tersebut untuk berjalan dengan nyaman.
2. Bagi pemerintah dan pihak yang terkait, sebaiknya melakukan revitalisasi terhadap jalur trotoar di sepanjang Jalan A Yani dengan menertibkan pedagang dan menertibkan tempat parkir yang dapat mengganggu pejalan kaki di sepanjang jalan A Yani. Membagi ruang publik yang sesuai dengan aktivitas dan fungsi kegiatannya masing-masing.
H. DAFTAR PUSTAKA

  1. Hakim, Rustam. Hardi Utomo. 2003. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Jakarta : Bumi Aksara.
  2. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi V. Jakarta : Rineka Cipta.
  3. Widjajanti, Retno, 2000, Penataan Fisik Pedagang Kaki Lima pada Kawasan Komersial di Pusat Kota, Studi Kasus : Simpang Lima Semarang, Tesis tidak diterbitkan, Magister Teknik Pembangunan Kota InstitutTeknologi Bandung.
  4. Sugiyono, 2000, Statistika untuk Penelitian, CV. Alfabeta, Bandung.
  5.  Djojodipuro, Marsudi, 1992, Teori Lokasi, Lembaga Penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
  6. Arikunto, Suharsimi, 1997, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V, Rineke Cipta, Yogyakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar