A. LATAR BELAKANG
Kota merupakan
suatu tatanan fisik spasial yang terbentuk oleh elemen-elemen fisik yang saling
mempengaruhi. bangunan, pohon, dan juga jalan, taman-taman kota merupakan
elemen-elemen pembentuk kota. Dalam pembentukan kota, elemen-elemen tersebut
dilihat sebagai objek arsitektur yang hampir selalu berubah, seperti pernyataan
berikut : “Kota di pandang sebagai
objek arsitektur yaitu sebagai konsentrasi elemen fisik spasial yang selalu
tumbuh dan berkembang” (Aldo Rossi, 1974) ditambahkan pula, bahwa “Kota merupakan kumpulan elemen-elemen kota
yang kongkrit, bukan sebagai functional zones dan angka-angka saja, mengenai
tipologi bangunan, pohon-pohon dan taman, bukit dan lembah sungai, jalan kereta
api, dan sebagainya” (Sandi Siregar, 1990). Pemahaman kota dilihat
secara mendetail sehingga akan terungkap bahwa suatu kota terbentuk dari
elemen-elemen pembentuknya.
Berjalan kaki pada
awalnya adalah salah satu hal terpenting dalam sirkulasi, namun dalam
perkembangannya seolah sering terlupakan. Ruang jalan dalam ruang publik kota
menjadi begitu diperhatikan akhir-akhir ini karena banyak pihak mulai merasakan
perlunya suatu ruang luar bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai
penghubung (link) antar
bangunan saja, melainkan juga dapat memiliki nilai lebih nilainya sebagai
sebuah tempat beraktivitas.
Pejalan kaki
membutuhkan sebuah ruang pada jalan yang dibentuk secara fisik agar dapat
melakukan aktivitas. Aktivitas ini diharapkan aman dan terlindung dari unsur
lain dari jalan itu sendiri, yaitu kendaraan bermotor cukup jelas bahwa jalur
pejalan kaki sebagai ruang transisi ini bukanlah sekedar sebuah jalur pejalan
kaki ditepi jalan, meski lengkap dengan utilitasnya, yang tidak mendukung
langsung aktivitas secara langsung, melainkan sebagai wujud fisik. Atau dengan
kata lain jalur pejalan kaki harus memenuhi kriteria fisik sebuah jalur pejalan
kaki atau trotoar.
Objek yang
dipelajari adalah Kawasan Pusat Kota Wonosobo, kawasan pusat kota didominasi
oleh kawasan komersil, sehingga menarik untuk dibahas karena :
1.
Pada
kawasan komersil, kegiatan warga kota paling banyak membutuhkan interaksi
sosial dan pergerakan / tranportasi lainnya.
2.
Dominasi
kegiatan fungsional dipusat Kota Wonosobo memiliki intensitas yang tinggi.
3.
Tumbuh
dan berkembang dengan pesat dibandingkan dengan kawasan lain dan merupakan
lokasi yang strategis.
4.
Dikawasan
pusat kota memiliki tempat-tempat fungsional yang memiliki dampak hidupnya suatu
kota (activity support).
5.
Faktor
aksesibilitas dengan jarak capai ke pusat kota dari tempat-tempat fungsional
kota terasa relatif dekat dan tersedianya tranportasi kendaraan umum sebagai
jalur yang berkelanjutan.
Gambaran pusat
kota Wonosobo seperti diatas merupakan awal timbulnya permasalahan Jalur
pejalan kaki yang sering terintervensi oleh kehadiran sektor informal (PKL),
sehingga fungsi trotoar sebagai jalur yang aman untuk pejalan kaki kurang
terpenuhi. Keamanan, kenyamanan pejalan kaki kurang mendapatkan perhatian.
Akibat yang ditimbulkan oleh kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi
pada jalan yang bersebelahan dengan jalur pedestrian. Di lain sisi, penggunaan
jalan sebagai lahan parkir sudah berlebihan, ada yang mencapai 5 baris sehingga
hampir separo jalan di pakai untuk lahan parkir.
B. TUJUAN PENELITIAN
Adapun
yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kebutuhan attribute dan properti yang diinginkan pedagang kaki lima serta
pola-pola setting yang
terbentuk sehubungan dengan perilaku pedagang kaki lima, disepanjang Jalan A.
Yani Wonosobo sekitar komplek Plaza, pasar tradisional sampai alun-alun kota
Wonosobo.
D. TINJAUAN TEORI
Pendekatan
kuantitatif rasionalistik digunakan dalam penelitian ini dengan penggalian data
menggunakan pemetaan perilaku (Person
Centered Mapping dan Place
Centered Mapping).
Penelitian ini
merupakan penelitian perilaku yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dan
lingkungannya (setting). Penelitian
ini diawali dari adanya isu perilaku pedagang informal (PKL) dan fenomena yang
muncul dari interaksi antara pedagang dengan setting. Dalam hal ini penelitian menggali dan mengkaji kaitan
antara fenomena perilaku pedagang informal dengan setting jalur pejalan kaki, untuk mendapatkan indikasi tuntutan
kebutuhan attribute dan property serta faktor-faktor yang
mempengaruhi kebutuhan tersebut. Hal tersebut diperoleh melalui proses analisis
dengan teori-teori.
Berdasarkan
tinjauan pustaka dan uraian tersebut, disusun landasan teori sebagai landasan
penelitian ini sebagai berikut :
1.
Faktor
setting (ruang jalur pejalan
kaki, unsur pendukung dan lingkungannya) mempengaruhi perilaku pedagang
informal.
2.
Hubungan
antar pedagang informal sebagai individu yang memanfaatkan setting dalam melakukan kegiatan
(berdagang, duduk dan berdiri) dalam memenuhi kebutuhannya menghasilkan
fenomena perilaku yang disebut sebagai attribute
serta sesuatu yang memberikan daya tarik dan mendukung intensitas
kegiatan / aktivitas disebut sebagai property.
3.
Attribute yang
digunakan sebagai dasar analisis adalah : indera perangsang, kenyamanan
aktivitas, kesesakan, sosialitas, privasi, kontrol, aksesibilitas,
adaptabilitas dan makna, sedangkan property
yang terbentuk berupa dimensi dan kualitas ruang jalur pejalan kaki dan
benda-benda fungsional yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan.
E. METODE PENELITIAN
Sebagaimana
tujuan penelitian, maka metoda yang dipakai dalam penelitian ini adalah
metodologi penelitian kuantitatif
rasionalistik, dengan penggalian data yang menjelaskan ciri dengan
menggali fenomena lewat pemikiran logik dengan kesesuain yang digunakan
menggunakan pemetaan perilaku (person
centered mapping dan place
centered mapping).
Untuk analisa
data penelitian ini menggunakan analisa statistik deskriptif. Analisa
dengan statistik deskriptif merupakan statistik yang bertugas “mendeskripsikan”
atau “memaparkan” gejala hasil penelitian. Statistik deskriptif sifatnya sangat
sederhana dan tidak pula menggeneralisasikan hasil peneliitian (Indrosaptono,
2003). Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan sifat suatu keadaan
yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa
sebab-sebab dan gejala-gejala tertentu (Sevilla, 1993).
Proses analisa diawali
dengan mengkaji seluruh data, data tersebut kemudian dibandingkan terhadap
beberapa informasi, sesudah itu menyusun dan mengelompokkan berdasarkan
komponen kegiatan aktor, tempat dan waktu dan aspek-aspek yang terkait diatas
terhadap perilaku pada jalur pedestrian. Kemudian melakukan pembahasan terhadap berbagai temuan
tersebut dengan studi pustaka yang telah disusun lewat referensi yang ada dan
hasil akhirnya merupakan suatu kesimpulan
penelitian.
F.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakter Jalur Pejalan Kaki
Jalur
pejalan kaki trotoar Jalan. A Yani
sekitar komplek Plaza, pasar tradisional sampai alun-alun kota Wonosobo terdiri
dari jalan trotoar yang
posisinya sebelah kanan dan kiri sepanjang jalan dan jalur penyebrangan yang posisinya
melintang terhadap jalan raya yang berfungsi juga sebagai penghubung antara
pasar tradisonal Wonosobo dengan komplek pertokoan plaza. Untuk mendapatkan
gambaran tentang karakteristik jalur jalan pejalan kaki di Jalan A Yani yang lebih
rinci, akan dirincikan yaitu tentang :
1. Kondisi dan dimensi jalur pejalan
kaki
Jalur pejalan
kaki di sisi Jalan A Yani lebar 100 – 200 cm, dalam keadaan baik. Jalur trotoar
ini merupakan batas antara bangunan dengan badan jalan.
Jalur pejalan
kaki yang berada di sekitar depan pertokoan, sebaiknya lebih tinggi dari pada
badan jalan guna keamanan pejalan kaki disamping itu pertokoaan tidak
membutuhkan tempat parkir karena sudah adanya tempat parkir yang terpusat dan
tempat parkir di sepanjang jalan A Yani bagian barat. Sebenarnya tempat parkir
seperti itu berpengaruh pada sistem pergerakan kendaraan bermotor maupun
transportasi lainya karena terkadang menghambat proses transportasi di sekitar
jalan A Yani.
Jalur pejalan
kaki yang mengalami kerusakan adalah dibagian sekitar pertokoan plaza atau
lebih tepatnya disekitar tempat penyebrangan antara pertokoan plaza dan juga
pasar tradisional.
2. Tata hijau
Sepanjang jalur pejalan kaki baik disisi barat
maupun timur Jl. A Yani telah ditanam sederetan pohon yang berfungsi sebagai pelindung pejalan kaki
maupun kendaraan bermotor dipinggir jalan raya. Sebagian bangunan menggunakan
tanaman yang ditempatkan di dekat pagar halaman, yang dapat memberikan
kontribusi suasana jalur pejalan kaki. Selain itu juga ditempatkannya pot-pot
bunga yang turut memberikan andil penghijauan.
3. Kelengkapan
jalur pejalan kaki
Beberapa
elemen yang diadakan dijalur pejalan kaki pada Jalan A Yani adalah Pot-pot
Bunga yang terletak di sepanjang pertokoan, bak sampah, lampu jalan. Posisi elemen-elemen
tersebut berada dipinggir jalur pejalan kaki. Disamping itu terdapat tiang
listrik dan beberapa tiang telepon yang letaknya tidak beraturan terhadap jalur
pejalan kaki, yang dapat berpengaruh pada dimensi efektip pemanfaatan jalur
pejalan kaki.
4. Sektor informal
Jenis pedagang
kaki lima bermacam-macam, misalnya pedagang pernak pernik, Celluler, mainan
anak-anak, pedagang makanan dan minuman dan sebagainya. Posisinya bervariasi
ada yang memenuhi jalur pejalan kaki, ada yang menempati sebagian jalur pejalan
kaki, dengan harapan mempunyai akses yang baik bagi pejalan kaki. Sebenarnya
hal ini sangat mengganggu keindahan jalan dan juga mengganggu aktifitas pejalan
kaki.
5. Tempat Parkir
Tempat parkir
terpusat sebenarnya sudah disediakan oleh pemerintah daerah yaitu di sekitar
komplek pertokan plaza lantai paling dasar dan juga disekitar pasar tradisional
juga lantai paling dasar, tempat parkir ini sebenarnya memiliki kapasitas yang
lebih dari cukup hanya saja kalau pada saat hari-hari besar terkadang tempat
parkir selalu penuh sehingga banyak sekali alternative tempat parkir yang
bermunculan, sehingga saat ini banyak ditemukan tempat - tempat parkir di
sepanjang jln. A Yani bagian barat dan depan pertokoan-pertokoan yang ada di
sepanjang jalan A yani.
6. Tempat Penyebrangan
Tempat penyebrangan terdiri dari 2 jenis, pertama tempat penyebrangan
zebra cross dan yang kedua jembatan layang penghubung antara pertokoan plaza
dan juga pasar tradisional. Akan tetapi banyak juga warga masyarakat yang
menyebrang tidak menggunakan fasilitas yang ada, sebenarnya hal ini juga sangat
mengganggu proses transpprtasi karena menyebrang sembarangan bisa mengakibatkan
terjadinya kecelakaan, tempat yang sering dijadikan penyebrangan adalah
dibagian bawah jembatan layang penghubung pertokoan plaza dan pasar tradisional.
7. Pengemis
Disekitar jalan A Yani ini terkadang
juga terdapat pengemis, tempat mangkalnya biasanya disekitar penyebrangan bawah
jembatan penghubung dua pasar, karena disekitar ini merupakan daerah yang sering
dilalui oleh seorang pengunjung pasar.
8. Pangkalan Ojek
Pangkala Ojek ini merupakan salah
satu persatuan Ojek yang ada di sekitar kota, adapun dititik ini ojek lumayan
rame karena ojek juga memiliki pelanggan sendiri karena pengunjung terkadang
memilih akses yang lebih cepat tanpa menunggu semisal menggunakan Angkota, hal
ini Ojek merupakan sebagai alat transportasi alternatif pengunjung disekitar jalan
A Yani.
8. Pengunjung
Pejalan kaki
sebagai pengunjung mempunyai kegiatan bermacam-macam ada yang berjalan, duduk-duduk,
menunggu angkota, berdiri, makan dan banyak lagi aktifitas-aktifitas lainya.
A.
Karakter
Aktivitas Jalan A Yani Wonosobo
Berdasarkan
pengamatan lapangan, dapat digambarkan pola aktivitas pejalan kaki melalui
jumlah pejalan kaki yang melewati jalur trotoar
tepi jalan raya dan menyeberang / melintas jalan raya (di sepanjang
jalan A Yani sekitar plaza, pasar tradisional, pertokoan sampai alun-alun
Wonosobo). Gambaran tentang jumlah pejalan kaki tersebut dapat dilihat dalam
uraian sebagai berikut :
1.
Hampir
setiap hari pejalan kaki mempunyai aktivitas di Jalan A Yani, mulai pagi, sore
dan bahkan terkadang sampai malam hari.
2.
Kepadatan
akan semakin bertambah pada saat hari libur atau hari Minggu, hari besar lainya
dan juga acara besar yang di selenggarakan oleh kabupaten Wonosobo.
3.
Pejalan
kaki lebih memilih berjalan di sisi sebelah Timur.
4.
Setiap
hari penyeberang dari sisi barat ke sisi timur lebih banyak dari pada arah
sebaliknya. Menyeberang dari sisi barat ke sisi timur lebih banyak karena akan
menuju pusat pertokoan komplek plaza dan perbelanjaan Rita swalayan sedangkan
arah sebaliknya lebih banyak mereka yang akan ke pasar tradisional yang masih
sepi sampai saat ini, atau mau pulang naik kendaraan umum dari terminal Angkota.
5.
Pada
hari Minggu atau libur, pejalan kaki akan mulai padat dari pagi hari sampai
sore hari.
6.
Jalan
A Yani merupakan jalan searah yang menuju ke alun-alun kota Wonosobo.
7.
Pengguna
jalan pedestrian terkadang terlihat semrawut karena fasilitas jalan pedestrian
sempit dan juga adanya pedagang=pdagang kali lima yang berada di sekitar jalan
pedestrian.
8.
Pada
hari-hari biasa Terkadang juga sepi di sekitar jalan pedestrian sekitar
menuju alun-alun.
C.
Data dan Analisis Data
1. Data Place Centered Mapping
Berdasarkan
hasi pengamatan melalui Place Centered Mapping, menunjukkan bahwa
terdapat beberapa tempat yang diminati oleh pejalan kaki ialah :
Aktivitas
dominan yang dilakukan pejalan kaki di tempat tersebut berjalan untuk mencari
barang dan mendapat pelayanan jasa, berdiri menunggu agkutan kota serta hanya
lewat dari satu tempal ke tempat yang dituju. Disamping itu, berdasarkan data PIace Centered Mapping, tercatat
bahwa kepadatan yang ditimbulkan oleh PKL, parkir motor yang berada di
sekitar jalan A Yani Wonosobo dan aktivitas pertokoan dapat mempengaruhi
aktivitas pejalan kaki. Dari pengamatan lapangan diatas, sebenarnya semua
lokasi dominan karena pejalan kaki yang
melewati sisi barat maupun sisi timur dikarenakan kondisi trotoar yang ada menuju
langsung ke pusat pertokoan yang berada disepanjang jalan A Yani.
Di bagian
barat perempatan plaza Jl. A Yani, disekitar Pertokoan komplek plasa atau Rita
Dept. Store, Di sekitar mulut Pintu keluar masuk Pasar tradisional dan
pertokoan komplek plaza dan sepanjang
sebelah timur menuju ke arah alun-alun dari arah selatan. Adapun
beberapa titik kepadatannya yaitu :
2. Data Person Centered Mapping
Teknik Person
Centered Mapping menekankan pada pergerakan manusia, pada periode waktu
tertentu (Haryadi B. Setiawan, 1975), teknik tersebut berkaitan dengan tidak
hanya satu tempat tetapi dengan beberapa tempat. Dalam hal ini peneliti
berhadapan dengan seseorang yang khusus diamati.
Langkah yang dilakukan adalah :
a. Memilih
sampel person dan sekelompok pejalan kaki yang sedang melakukan kegiatan di jalan
A Yani.
b. Mengikuti
aktivitas yang dilakukan o!eh pejalan kaki atau sekelompok pejalan kaki yang
diamati.
Dari hasil pengamatan yang kami
poeroleh antara lain :
1.
Pengunjung
hanya berjaln kaki dan berpindah tempat dari satu toko ke toka lainya.
2.
Pejalan
kaki datang dari tempat yang berbeda-beda arah, sehingga terlihat semrawud.
3.
Pejalan
kaki atau pengunjung banyak juga yang berjalan tidak di trotoar melainkan di
jalan raya A Yani karena trotoar banyak yang digunakan oleh PKL.
4.
Hampir
semua pejalan kaki disekitar pertokoan plaza dan pasar tradisional yaitu
melakukan kegiatan yang sama, yaitu menuju ke tempat yang dituju diantaranya
menuju ke tempat perbelanjaan, toko, tempat parkir, dan sebagainya. Karena pada tempat ini terjadi akses ekonomi
masyarakat jual beli.
G.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil pembahasan di atas dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari Hasil pembahasan yang diperoleh melalui
pengamatan jalan A Yani Wonosobo adalah fungsi pedestrian sudah tidak berjalan
sesuai dengan fungsinya. Hal tersebut juga tidak sesuai dengan teori mengenai
jalur pedestrian dan teori mengenai kenyamanan pejalan kaki. Jalur pedestrian
Jalan A Yani Wonosobo banyak digunakan untuk aktivitas-aktivitas lain selain
untuk berjalan.
2.
Dari hasil pengamatan perilaku pejalan kaki di sepanjang Jalan A Yani diperoleh
hasil yaitu perilaku pejalan kaki sudah berubah dengan mengikuti perubahan
lingkungannya. Dalam hal ini perilaku pejalan kaki di Jalan A Yani lebih
memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk berjalan daripada harus berjalan
di sepanjangb trotoar yang kadang penuh
dengan aktivitas berdagang dan berkumpulnya komunitas-komunitas yang berada di
sepanjang Jalan A Yani Wonosobo.
SARAN
Adapun
saran yang dapat diberikan untuk lebih memanfaatkan jalur trotoar sebagaimana
mestinya adalah sebagai berikut:
1.
Bagi masyarakat yang menggunakan jalur trotoar sepanjang Jalan A Yani sebagai
tempat untuk berdagang, sebaiknya tidak menggunakan jalur trotoar sepenuhnya
karena hal ini tidak sesuai dengan tujuan adanya trotoar. Memberikan ruang bagi
pejalan kaki yang melewati jalur trotoar tersebut untuk berjalan dengan nyaman.
2. Bagi
pemerintah dan pihak yang terkait, sebaiknya melakukan revitalisasi terhadap
jalur trotoar di sepanjang Jalan A Yani dengan menertibkan pedagang dan
menertibkan tempat parkir yang dapat mengganggu pejalan kaki di sepanjang jalan
A Yani. Membagi ruang publik yang sesuai dengan aktivitas dan fungsi
kegiatannya masing-masing.
H.
DAFTAR PUSTAKA
- Hakim, Rustam. Hardi Utomo. 2003. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Jakarta : Bumi Aksara.
- Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi V. Jakarta : Rineka Cipta.
- Widjajanti, Retno, 2000, Penataan Fisik Pedagang Kaki Lima pada Kawasan Komersial di Pusat Kota, Studi Kasus : Simpang Lima Semarang, Tesis tidak diterbitkan, Magister Teknik Pembangunan Kota InstitutTeknologi Bandung.
- Sugiyono, 2000, Statistika untuk Penelitian, CV. Alfabeta, Bandung.
- Djojodipuro, Marsudi, 1992, Teori Lokasi, Lembaga Penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
- Arikunto, Suharsimi, 1997, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V, Rineke Cipta, Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar