Rabu, 12 September 2012

Pasar Buah Sawangan di Kawasan Agropolitan Wonosobo : LATAR BELAKANG


1.2. LATAR BELAKANG
1.2.1. Umum (Wilayah Wonosobo)
Kabupaten Wonosobo secara geografis terletak antara, 7.11 dan 7.36 Lintang Selatan, 109.43 dan 110.04 Bujur Timur. Kabupaten Wonosobo berjarak 120 Km dari Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah dan 520 Km dari Ibu Kota Negara (Jakarta) dengan ketinggian berkisar antara 270 meter sampai dengan 2.250 meter di atas permukaan laut.
Luas wilayah Kabupaten Wonosobo adalah 98.468 ha, dengan kondisi biogeofisik sebagai berikut: Kemiringan 3-8 % sebesar 54,4 ha, 8-15 % selus 24.769,1 ha, 15-40 % seluas 42.173,6 ha dan >40 % seluas 31.829,9 ha. Kabupaten Wonosobo secara umum mempunyai kelembaban kelas lembab.
Jenis tanah yang ada di Kabupaten Wonosobo terdiri dari tanah Andosol (25%), terdapat di Kecamatan Kejajar, sebagian Garung, Mojotengah, Watumalang, Kertek dan Kalikajar; tanah Regosol (40%), terdapat di Kecamatan Kertek, Sapuran, Kalikajar, Selomerto, Watumalang dan Garung; dan Tanah Podsolik (35%), terdapat di Kecamatan Selomerto, Leksono, Sukoharjo, Kaliwiro dan Sapuran (Buku Promosi Potensi Investasi, 1997). Kondisi tersebut merupakan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Wonosobo untuk dikembangkan melalui pengembangan komoditas dan diversifikasi pertanian, tanaman pangan dan kehutanan serta perkebunan yang berbasis pada agribisnis.
Sudah saatnya pembangunan ekonomi daerah yang menyangkut sebagian besar kepentingan ekonomi rakyat banyak tidak berhenti pada retorika saja, melainkan harus sesegera mungkin diwujudkan dalam aksi nyata dan dukungan kebijaksanaan makro ekonomi. Hal ini antara lain diwujudkan dengan penerapan konsep perencanaan dan perancangan Kawasan Agropolitan dan agribisnis dalam pembangunan ekonomi daerah atau pengembangan ekonomi lokal. Perencanaan dan perancangan pusat kota tani utama seperti pasar buah dan sebagainya merupakan kegiatan pembangunan agribisnis dalam suatu Kawasan Agropolitan yang dipadukan dengan pembangunan wilayah.
Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu aspek pendukungnya adalah diperlukannya suatu wadah yang akomodatif sebagai pendukung kelancaran pendistribusian barang dari desa ke kota, dan dalam hal kedudukan desa sebagai produsen sebagian kebutuhan primer masyarakat kota, maka diperlukan sebuah pasar sebagai pusat distribusi barang yang secara langsung maupun tidak langsung pada nantinya akan dimanfaatkan oleh masyarakat secara umum.
Pengertian pasar itu sendiri merupakan tempat para penjual dan pembeli dapat dengan mudah saling berhubungan. Pasar dalam artian luas adalah tempat tertentu dan tetap, pusat memperjualbelikan barang-barang keperluan sehari-hari. Selain itu pasar sebagai pusat pertemuan produsen dan konsumen yang sudah banyak dikenal sejak jaman dahulu kala ketika sifat perdagangan masih berupa pertukaran barang (barter).
Perencanaan dan perancangan pasar buah Sawangan merupakan salah satu upaya mempercepat pembangunan perdesaan dan pertanian, peran kota sebagai pusat-pusat kawasan dengan ketersediaan sumberdayanya, tumbuh dan berkembang dengan mengakses, melayani, mendorong agribisnis di Kawasan Agropolitan Rojonoto. Keterkaitan dalam sistem dan usaha agribisnis antara kota dan desa tersebut dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah dan mengurangi kesenjangan pendapatan antar masyarakat di Kawasan Agropolitan Kabupeten Wonosobo.
Kabupaten Wonosobo memiliki daerah andalan dengan produk hasil perkebunan unggulan yang berupa kelapa, salak, tembakau, jagung, kentang, ubi kayu, kopi, carica dan tanaman teh. Pusat produksinya terdapat di beberapa kecamatan, yaitu penghasil kentang antara lain Kecamatan Kejajar, Garung dan Kertek. Sementara penghasil ubi kayu dikecamatan  Kaliworo, Wadaslintang, Garung, Sukoharjo, Watumalang dan Mojotengah. Untuk penghasil jagung terdapat hampir disemua Kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo. Carica hanya terdapat di dataran tinggi Dieng,  Desa penghasil kopi terbesar adalah Kapencar, Candimulyo dan Reco serta desa-desa kawasan atas lainnya seperti Pagerejo, Candiyasan dan Purbosono.  Penghasil tembakau antara lain Pagerejo, Reco, Candiyasan, Kapencar, Purbosono, Tlogomulyo, Candimulyo, Purwojati, Tlogomulyo, Damarkasiyan dan Sumberdalem, adapun desa-desa penghasil teh, antara lain Damarkasiyan, Pagerejo, Tlogomulyo, Candiyasan dan Tlogodalem, sedangkan penghasil kelapa tersebar dikecamatan Kecamatan Selomerto, Leksono, Sukoharjo, Kaliwiro, Wadaslintang dan Kepil.
 Selain itu Kabupaten Wonosobo juga memiliki potensi lainya untuk dikembangan seperti pariwisata, seperti halnya wisata alam, wisata religi, wisata budaya dan wisata hiburan. Dari potensi yang ada selama ini pelaksanaan pengembangan sektor pertanian, perkebunan, kehutanan maupun periwisata di kabupaten Wonosobo belum memperhatikan keterpaduan. Oleh karena itu diperlukan keterpaduan dalam perencanaan dan perancangan serta pengembangan sektor-sektor tersebut melalui pembangunan pasar buah Sawangan di Kawasan Agropolitan Wonosobo.
1.2.2. Khusus. (Perkembangan Wilayah kawasan Sawangan)
  Kawasan Sawangan sebagai bagian dari Kabupaten Wonosobo adalah juga merupakan  dari komponen-komponen wilayah yang membentuk suatu system, Sawangan terdapat di Kawasan Agropolitan Wonosobo .
Kawasan Sawangan dengan segala kemudahanya menjadi sumber daya tarik bagi daerah sekitarnya. Daya tarik itu telah membawa pengaruh terhadap perkembangan kawasan pada komponen-komponen wilayahnya. Hal ini memang bisa dimaklumi, bahwa dengan segala macam kemudahan tersebut cenderung menjadi perangsang orang untuk memanfaatkan kemudahan itu.
Perkembangan itu meliput berbagai sektor kehidupan. Sementara untuk mencapai hasil perencanaan yang matang, sebenarnya perlu dibuat rencana jangka pendek maupun rencana jangka panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar