1.2. LATAR BELAKANG
1.2.1. Umum (Wilayah
Wonosobo)
Kabupaten Wonosobo secara geografis terletak antara,
7.11
dan 7.36 Lintang Selatan, 109.43 dan 110.04 Bujur Timur. Kabupaten Wonosobo
berjarak 120 Km dari Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah dan 520 Km dari Ibu Kota Negara
(Jakarta) dengan ketinggian berkisar antara 270 meter sampai dengan 2.250 meter
di atas permukaan laut.
Luas
wilayah Kabupaten Wonosobo adalah 98.468 ha, dengan kondisi biogeofisik sebagai
berikut: Kemiringan 3-8 % sebesar 54,4 ha, 8-15 % selus 24.769,1 ha, 15-40 %
seluas 42.173,6 ha dan >40 % seluas 31.829,9 ha. Kabupaten Wonosobo secara
umum mempunyai kelembaban kelas lembab.
Jenis
tanah yang ada di Kabupaten Wonosobo terdiri dari tanah Andosol (25%), terdapat
di Kecamatan Kejajar, sebagian Garung, Mojotengah, Watumalang, Kertek dan
Kalikajar; tanah Regosol (40%), terdapat di Kecamatan Kertek, Sapuran,
Kalikajar, Selomerto, Watumalang dan Garung; dan Tanah Podsolik (35%), terdapat
di Kecamatan Selomerto, Leksono, Sukoharjo, Kaliwiro dan Sapuran (Buku Promosi Potensi Investasi, 1997). Kondisi tersebut merupakan potensi yang dimiliki oleh
Kabupaten Wonosobo untuk dikembangkan melalui pengembangan komoditas dan
diversifikasi pertanian, tanaman pangan dan kehutanan serta perkebunan yang
berbasis pada agribisnis.
Sudah saatnya pembangunan ekonomi daerah yang
menyangkut sebagian besar kepentingan ekonomi rakyat banyak tidak berhenti pada
retorika saja, melainkan harus sesegera mungkin diwujudkan dalam aksi nyata dan
dukungan kebijaksanaan makro ekonomi. Hal ini antara lain diwujudkan dengan
penerapan konsep perencanaan dan perancangan Kawasan Agropolitan dan agribisnis
dalam pembangunan ekonomi daerah atau pengembangan ekonomi lokal. Perencanaan
dan perancangan pusat kota tani utama seperti pasar buah dan sebagainya merupakan
kegiatan pembangunan agribisnis dalam suatu Kawasan Agropolitan yang dipadukan
dengan pembangunan wilayah.
Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu aspek
pendukungnya adalah diperlukannya suatu wadah yang akomodatif sebagai pendukung
kelancaran pendistribusian barang dari desa ke kota, dan dalam hal kedudukan
desa sebagai produsen sebagian kebutuhan primer masyarakat kota, maka
diperlukan sebuah pasar sebagai pusat distribusi barang yang secara langsung
maupun tidak langsung pada nantinya akan dimanfaatkan oleh masyarakat secara
umum.
Pengertian pasar itu sendiri merupakan tempat para
penjual dan pembeli dapat dengan mudah saling berhubungan. Pasar dalam artian
luas adalah tempat tertentu dan tetap, pusat memperjualbelikan barang-barang
keperluan sehari-hari. Selain itu pasar sebagai pusat pertemuan produsen dan
konsumen yang sudah banyak dikenal sejak jaman dahulu kala ketika sifat
perdagangan masih berupa pertukaran barang (barter).
Perencanaan dan perancangan pasar buah Sawangan merupakan
salah satu upaya mempercepat pembangunan perdesaan dan pertanian, peran kota
sebagai pusat-pusat kawasan dengan ketersediaan sumberdayanya, tumbuh dan
berkembang dengan mengakses, melayani, mendorong agribisnis di Kawasan Agropolitan
Rojonoto. Keterkaitan dalam sistem dan usaha agribisnis antara kota dan desa
tersebut dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah dan
mengurangi kesenjangan pendapatan antar masyarakat di Kawasan Agropolitan
Kabupeten Wonosobo.
Kabupaten Wonosobo memiliki daerah andalan dengan
produk hasil perkebunan unggulan yang berupa kelapa, salak, tembakau, jagung,
kentang, ubi kayu, kopi, carica dan tanaman teh. Pusat produksinya terdapat di
beberapa kecamatan, yaitu penghasil kentang antara lain Kecamatan Kejajar,
Garung dan Kertek. Sementara penghasil ubi kayu dikecamatan Kaliworo,
Wadaslintang, Garung, Sukoharjo, Watumalang dan Mojotengah. Untuk penghasil
jagung terdapat hampir disemua Kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo. Carica
hanya terdapat di dataran tinggi Dieng, Desa
penghasil kopi terbesar adalah Kapencar, Candimulyo dan Reco serta desa-desa
kawasan atas lainnya seperti Pagerejo, Candiyasan dan Purbosono. Penghasil tembakau antara lain Pagerejo, Reco,
Candiyasan, Kapencar, Purbosono, Tlogomulyo, Candimulyo, Purwojati, Tlogomulyo,
Damarkasiyan dan Sumberdalem, adapun desa-desa penghasil teh, antara lain
Damarkasiyan, Pagerejo, Tlogomulyo, Candiyasan dan Tlogodalem, sedangkan penghasil
kelapa tersebar dikecamatan Kecamatan Selomerto, Leksono, Sukoharjo, Kaliwiro,
Wadaslintang dan Kepil.
Selain itu
Kabupaten Wonosobo juga memiliki potensi lainya untuk dikembangan seperti pariwisata,
seperti halnya wisata alam, wisata religi, wisata budaya dan wisata hiburan.
Dari potensi yang ada selama ini pelaksanaan pengembangan sektor pertanian,
perkebunan, kehutanan maupun periwisata di kabupaten Wonosobo belum
memperhatikan keterpaduan. Oleh karena itu diperlukan keterpaduan dalam perencanaan
dan perancangan serta pengembangan sektor-sektor tersebut melalui pembangunan pasar
buah Sawangan di Kawasan Agropolitan Wonosobo.
1.2.2. Khusus.
(Perkembangan Wilayah kawasan Sawangan)
Kawasan Sawangan
sebagai bagian dari Kabupaten Wonosobo adalah juga merupakan dari komponen-komponen wilayah yang membentuk
suatu system, Sawangan terdapat di Kawasan Agropolitan Wonosobo .
Kawasan Sawangan dengan segala kemudahanya menjadi
sumber daya tarik bagi daerah sekitarnya. Daya tarik itu telah membawa pengaruh
terhadap perkembangan kawasan pada komponen-komponen wilayahnya. Hal ini memang
bisa dimaklumi, bahwa dengan segala macam kemudahan tersebut cenderung menjadi
perangsang orang untuk memanfaatkan kemudahan itu.
Perkembangan itu meliput berbagai sektor kehidupan.
Sementara untuk mencapai hasil perencanaan yang matang, sebenarnya perlu dibuat
rencana jangka pendek maupun rencana jangka panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar