Rabu, 12 September 2012

Pasar Buah Sawangan di Kawasan Agropolitan Wonosobo : TINJAUN UMUM KAWASAN SAWANGAN


3.2.  TINJAUN UMUM KAWASAN SAWANGAN
Sawangan merupakan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) Kawasan Agropolitan Rojonoto. Letaknya sangat strategis, berada pada simpul transportasi lokal antar kecamatan yang menghubungkan Sawangan dengan Sukoharjo, Leksono, Selomerto, Kaliworo, Wadaslintang dan sebagian Watumalang, dimana kesemuanya itu adalah sentra dari beberapa produksi pertanian terutama buah-buahan dan pertanian.
Hubungan antara kawasan Sawangan dengan daerah sekitarnya adalah merupakan hubungan timbal balik, yang berkaitan satu dengan yang lainya. Kawasan sawangan memberikan pengaruh pada daerah sekitarnya, dengan dampak perkembangan, tetapi daerah sekitar juga memberikan pengaruh pada perkembangan kawasan Sawangan.
Pemerintah kabupaten Wonosobo telah menetapkan suatu rencana pembangunan Kabupaten di dalam RTRW dan Renstrada Wonosobo 2002-2007. Didalam rencananya, telah ditetapkan bahwa kawasan Sawangan adalah direncanakan menjadi daerah pusat pertumbuhan, artinya bahwa kawasan Sawangan akan terlihat ciri khas pertumbuhan perekonomian daerah khususnya ciri khas kabupaten Wonosobo.
 
3.2.1.    Kondisi Dasar Wilayah Perencanaan
Sawangan merupakan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) Kawasan Agropolitan Rojonoto. Letaknya sangat strategis, berada pada simpul transportasi lokal antar kecamatan yang menghubungkan Sawangan dengan Sukoharjo, Leksono, Selomerto, Kaliworo, Wadaslintang dan sebagian Watumalang, dimana kesemuanya itu adalah sentra dari beberapa produksi pertanian terutama buah-buahan dan pertanian. Lingkup perencanaan Agropolitan Sawangan mencakup kawasan Rojonoto diantaranya antara lain : Kecamatan Kaliwiro, kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Leksono, Kecamatan Selomerto.
Pembangunan Pasar Buah Sawangan ini direncanakan berlokasi di Jalan Raya Banyumas Km 15 Wonosobo. Lokasi yang direncanakan untuk Pasar Buah berada di barat Sub Terminal Sawangan. Didukung letaknya yang sangat strategis serta potensi daerah-daerah pendukungnya (hinterland), menjadikan Sawangan cepat berkembang. Untuk mendukung pengembangan wilayah serta kegiatan pertanian yang ada, salah satu sarana infrastruktur yang dibutuhkan Pasar Buah Sawangan di Kawasan Agropolitan Wonosobo.

3.2.2.    Potensi Perkembangan Kawasan Sawangan
Kecenderungan perkembangan suatu daerah adalah disamping adanya daya pendorong juga adanya kesempatan atau potensi. Pengaruh Kawasan Sawangan menjadi pendorong, dimana banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan berkaitan dengan keberadaan Kawasan Sawangan. Kawasan ini (sekitar Kawasan Sawangan), dari segi fisik dan non fisik punya potensi, maka muncullah berbagai usaha yang dilakukan, sehingga timbul penggunaan lahan untuk dagang, terminal dan lain-lain.
a.    Potensi Kawasan Sawangan
Kawasan Sawangan sebagai pusat pertumbuhan, secara umum mempunyai potensi, baik potensi yang memberikan cirri khas daerah Kabupaten Wonosobo maupun potensi yang membawa perkembangan daerah sekitarnya. Kawasan Sawangan dengan berbagai macam fasilitas yang ada (satu dengan yang lainya saling mendukung) memberikan ciri khas Desa Sawangan yang tidak dimiliki oleh daerah lain.
Di Kawasan Sawangan terdapat berbagai macam aktifitas seperti aktifitas di sub terminal dan lain-lain. Kesatuan itu direncanakan memberikan bentuk khas kegiatan dimana orang dapat melakukan berbagai macam kegiatan berurutan dalam satu waktu kegiatan. Terlebih lagi pada malam hari, Kawasan Sawangan direncanakan menjadi tempat yang sangat khas untuk berekreasi dan berbelanja. Di Kawasan Sawangan dan sekitarnya direncanakan masyarakat berdatangan untuk menikmati suasana malam yang indah di Kawasan Sawangan.
Di Kawasan Sawangan itu, orang akan dapat melakukan rekreasi dan belanja tanpa harus mengeluarkan dana / biaya yang banyak, sebab dari tempat tinggalnya dapat ditempuh dengan sarana yang murah seperti sepeda, sepeda motor atau angkutan umum. Disamping berekreasi dan berbelanja, orang dapat melakukan pendidikan informal pada anak-anaknya melalui medan yang ada, misalnya dengan melihat gedung-gedung, lampu-lampu, mobil dan lain-lain, akan memberikan daya cipta dan daya fisik yang lebih maju bagi perkembangan anak.
Jadi terutama bagi sebagian pengunjung Kawasan Sawangan yang kebanyakan adalah golongan ekonomi lemah dan sedang, tempat ini menjadi tempat yang berarti bagi keperluan hidupnya. Dimana keperluan hidupnya itu, tidak didaptkan ditempat dimana dia tinggal. Bersumber dari pengunjung Kawasan Sawangan menjadi sebab pula Kawasan Sawangan sebagai fasilitas penyediaan lapangan pekerjaan, yaitu bagi pedagang kaki lima. Karena pada dasarnya yang membutuhkan pedagang kaki lima adalah juga para pengunjung Kawasan Sawangan.
Jadi jelaslah bahwa potensi kawasan Sawangan adalah merupakan rangkaian dari berbagai macam sebab dan akibat. Dimana satu dengan yang lainya tidak terpisahkan sebagi satu mata rantai kegiatan.
b.    Pengunjung Kawasan Sawangan
Pengunjung Kawasan Sawangan yang selanjutnya kita sebut sebagai konsumen adalah berfariasi, baik dari tinjauan umur, income perkapita maupun golongan. Tetapi dari macam yang dikunjungi dapat kita bedakan, itupun menurut cara empiris.
Tapi secara umum dapat dikatakan bahwa bila kita katakan Kawasan Sawangan sebagai sub urban, maka pengunjung itu berasal dari daerah rural. Di sini kemudian timbul persoalan bahwa apapun yang berada di Kawasan Sawangan tetap akan dituntut apa yang ada di daerah asalnya. Pada pagi hari dan siang hari, konsumen Kawasan Sawangan mengunjungi kegiatan yang ada disekitar Kawasan Sawangan, misalnya berbelanja di Pasar Buah, terminal dan sebagainya.
Dari segi tuntutan, mereka butu hiburan / rekreasi karena mereka tetap juga memerlukanya. Tetapi dari segi biaya, mereka butuh yang murah. Dari hal tersebut diatas, jelaslah bahwa Kawasan Sawangan memang betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat, terutama golongan ekonomi lemah dan sedang, dimana di dalamnya masyarakat bisa mendapatkan suasana rekreatif yang diperlukanya.
Barang kali, bila terjadi perubahan keadaan Kawasan Sawangan, sehingga masyarakat tidak bisa menikmati rekreasi, adalah hal yang sangat merugikan sehingga hal itu bisa mengaburkan cirri khas pusat pertumbuhan Kawasan Sawangan seperti yang bisa kita lihat sekarang. Namun satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah karena pengunjung Kawasan Sawangan begitu padat, sedangkan jalan begitu ramainya, maka hal ini sangat membahayakan. Sebab perlu di ingat bahwa mereka datang dari peradaban yang tidak sekompleks di pusat pertumbuhan sebagai daerah urban, maka baik sikap, tingkah laku dan cara serta kebutuhanya adalah meyesuaikan dengan dimana dia berasal yaitu pedesaan / rural.
c.    Integritas Kawasan Sawangan dan Sekitarnya
Seperti telah dijelaskan dimuka, bahwa antara Kawasan sawangan dan Sekitarnya merupakan suatu integritas timbal balik dimana satu dengan lainya adalah saling pengaruh mempengaruhi.
1.    kawasan Sawangan sebagai pusat kegiatan
Kawasan Sawangan dengan beraneka ”penyediaan” yang ada, menjadi kawasan Sawangan menjadi pusat kegiatan. Dari hal tersebut, dimana di dalamnya orang bisa melakukan kegiatan apa saja, maka mengalirlah masyarakat untuk datang ke kawasan sawangan.
Mereka datang ke Kawasan sawangan dengan maksud yang bermacam-macam. Dengan demikian, maka di dalam Kawasan Sawangan, tertumpah berbagai macam jenis pendatang dan berbagai macam jenis tujuan. Maka ciri khas pusat kegiatan Kawasan sawangan direncanakan adanya bermacam-macam kegiatan di dalamnya. Ada perdagangan, terminal dan sebagainya.
2.    Asesibilitas kawasan sawangan
Kawasan Sawangan merupakan daerah yang amat strategis kedudukanya di Kabupaten Wonosobo. Daerah ini disamping  dekat pusat-pusat kegiatan lainya, juga merupakan penghubung antara Kabupaten Banjarnegara. Kebumen dengan Kabupaten Wonosobo.
Kedudukanyang strategis ini memungkinkan Kawasan Sawangan mudah dicapai dari daerah-daerah pemukiman di Kabupaten Wonosobo dan sekitarnya. Apabila kita melihat bahwa sebagian pengunjung Kawasan Sawangan, adalah mereka yang termasuk golongan ekonomi lemah dan sedang, maka jelaslah bahwa pencapaian ke Kawasan Sawangan bukan menjadi hal yang berat. Dengan demikian, maka tujuan datang ke Kawasan sawangan menjadi hal yang mudah dilakukan dan meringankan.
3.    Masyarakat Sekitar  Kawasan Sawangan
Masyarak sekitar Kawasan Sawangan sangat beragam, mulai dari golongan tinggi, menengah, sedang dan lemah. Tetapi mayoritas dari mereka adalah golongan lemah dan sedang. Satu hal yang dibutuhkan mereka adalah kebutuhan konsumsi akan hidup, diantaranya adalah pasar dan terminal. Pasar itupun bermacam-macam, hal itu menyangkut jenis dan skala pelayanan.
Dari kebutuhan itu muncullah tuntutan untuk mendapatkannya di Kawasan Sawangan yang ternyata memberikan apa yang mereka cari. Di kawasan Sawangan diharapkan orang bisa mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan dasar baik bagi penjual maupun pembeli. Dengan demikin, maka jelaslah bahwa satu segi masyarakat memerlukan pasar dan bangunan pendukung lainya bagai kebutuhan hidupnya dan di satu segi, Kawasan Sawangan mampu memberikan apa yang diperlukan masyarakat.

3.2.3.    Gejala Perkembangan
Lingkungan suatu daerah adalah terdiri dari satu kesatuan komponen yang saling mendukung satu dengan yang lainya. Komponen-komponen itu meliputi : ekologi, teknologi dan Sosial. Tercakupnya tiga hal tersebut akan mendukung perkembangan suatu daerah, dengan demikian juga akan membantu perkembangan Kawasan Sawangan dan sekitarnya.
Gejala perkembangan Kawasan Sawangan dan sekitarnya meliputi :
a.    Aspek Fisik
Secara fisik Kawasan Sawangan mempengaruhi daerah sekitarnya, sehingga tumbuh gejala perkembangan. Demikian juga daerah sekitarnya menjadi pengaruh timbulnya gejala perkembangan Kawasan Sawangan. Gejala perkembangan (dari segi fisik) itu mencakup unsure - unsur tata guna lahan, kondisi bangunan, transportasi dan utilitas kerja. Perkembangan itu disebabkan karena aktifitas yang bertambah.
Suatu prediksi aktivitas yang menonjol adalah aktivitas perdagangan dan tranportasi. Bisa dimaklumi, karena investasi yang menjaring konsumen hilir mudik ke Kawasan Sawangan. Dengan demikian jelaslah bahwa gejala perkembangan fisik adalah merupakan jarring - jaring sebab akibat.
Sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut ;
Pengaruh Kawasan sawangan memberikan daya tarik orang datang ke Kawasan Sawangan. Kedatangan itu membentuk suatu alur lalu lintas dan usaha berdagang, sedang untuk kebutuhan itu diperlukan lahan dan bangunan. Dari situlah muncul pemanfaatan lahan dan pendirian bangunan yang selanjutnya menuntut perluasan karena perkembangan. Akibat dari semakin kompleksnya suatu lingkungan akibat perkembangan tersebut, maka muncullah tuntutan tuntutan akan utilitas untuk kepentingan umum.
b.    Aspek Sosial Budaya
Perkembangna terhadap aspek sosial budaya adalah menyangkut tata hidup masyarakat sekitar Kawasan Sawangan, yaitu perkembangan pada perubahan struktur sosial budayanya akibat pengaruh Kawasan Sawangan.
Rencana perkembangan menjadi daerah perdagangan, dimana kehidupan cenderung berbentuk konsumtif, membawa perubahan kehidupan sosial. Perubahan itu cenderung pada tujuan mengutamakan kepentingan pribadi dari pada kepentingan sosial. Bentuk kehidupan cenderung tidak menunjukan tata cara hidup sosial, Tata hidup sosial itu misalnya gotong royong, silaturahmi dan lain sebagainya. Tampaknya perkembangan membentuk tata cara kehidupan urban tidak akan bisa dibendung. Perkembangan ini akan berjalan terus. Dengan demikian maka perkembangan sosial budaya adalah menjadi faktor perubahan, dimana dalam usaha pengendalian adalah mengendalikan terhadap perkembangan-perkembangan yang lain.
c.    Aspek Ekonomi
Rencana perkembangan terhadap aspek ekonomi adalah manyangkut income perkapita masyarakat. Namun demikian, income perkapita inipun merupakan nilai yang empiris (karena standarnya yang berbeda-beda).
Pengaruh perkembangan Kawasan Sawangan memang memberikan banyak peluang akan lapangan kerja, yang secara otomatis akan menentukan income perkapita / penghasilan masyarakat sekitar. Peluang akan lapangan kerja itu bisa berupa jasa, perdagangan / jual beli atau yang lain. Peluang ini membawa gejala yang cepat sekali, bagaikan jamur tumbuh gejala perkembangan sektor ekonomi dilingkungan sekitar Kawasan Sawangan. Dengan demikian maka jelaslah bahwa pengaruh Kawasan Sawangan memberikan peluang adanya lapangan kerja yang terbuka bagi orang di sekitar Kawasan Sawangan.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan secara umum bahwa gejala perkembangan Kawasan Sawangan dan sekitarnya adalah faktor pendorong dan potensi pendukung. Faktor pendorong adalah adanya Kawasan Sawangan yang menyerap pengunjung dari berbagai arah, sedang potensi pendukung adalah tersedianya lahan dan kesempatan bagi daerah sekitar untuk memanfaatkan eksistensi Kawasan Sawangan.
Aspek-aspek yang terkandung dalam perkembangan itu adalah aspek teknologi, sosial budaya dan ekonomi. Dimana ketiganya merupakan komponen yang saling tekait satu dengan lainya membentuk suatu perkembangan.

3.2.4.    Tinjauan Perkembangan Fisik Lingkungan
Tata fisik lingkungan adalah sarana yang akan menunjang kelancaran aktivitas, karena diatasnya dengan berbagai macam fasilitasnya orang akan dapat melakukan kegiatan. Di dalam rencana awal telah ditetapkan mengenai pembentukan daerah tertentu. Tetapi kenyataanya memang menjadi lain. Hal ini memang mungkin karena ada hal-hal yang belum dipertimbangkan sehingga rencana itu kurang terarah. Seperti halnya Pasar Hewan yang pada perkembangannya tidak seperti yang diharapkan. Hal ini karena tidak adanya fasilitas kegiatan pendukung.
a.    Tata guna Lahan
Segi tata guna lahan terjadi alih fungsi dari lahn pertanian menjadi fungsi perdagangan, jasa dan transportasi. Alih fungsi ini sesuai dengan arahan yang terdapat pada potensi SWP IV Kecamatan Leksono, yaitu sebagai pengembangan fungsi perdagangan, infra struktur dan lain-lain.
1.    Penyediaan Lahan
Akibat perkembangan penggunaan lahan, maka lahan yang dibutuhkan menjadi semakin banyak. Apabila kita lihat makin lama antara kebutuhan dan penyediaan tidak akan seimbang lagi. Padahal tuntutan akan lahan akan terus mendesak, akibat perlombaan memanfaatkan kesempatan yang ada. Dalam hal ini lahan yang tersedia 4,5 ha.
2.    Nilai Lahan
Tuntutan yang tinggi dengan penyediaan yang tidak memadai, akan menimbulkan persaingan untuk mendapatkan lahan. Kesempaatan itu ialah adanya kecenderungan naiknya nilai tanah, yang dapat kita katakan sebagai tingginya harga tanah.
Pemanfaatan terhadap nilai tanah yang tinggi, tentunya harus merupakan pemanfaatan yang sifatnya produktif / menghasilkan. Satu hal yang paling memungkinkan dilakukan ternyata adalah perdagangan. Dengan demikian, ada banyak kaitan kuat terhadap kecenderungan  perkembangan untuk pemanfaatan lahan sebagi fungsi perdagangan karena nilai tanah yang semakin tinggi.  
3.    Kelestarian Alam
Keccenderungan untuk memanfaatkan lahan seoptimal mungkin mengarah pada pemanfaatan keseluruhan dari lahan yang ada sehingga seluruh permukaan lahan dimanfaatkan untuk fungsi kegiatan dan semakin kecil lahan yang terbuka. Semakin sempitnya lahan yang terbuka, maka semakin sempitnya permukaan tanahnya.
Padahal permukaan tanah yang ditumbuhi vegetasi sangat berguna untuk penyerapan air tanah dan penyejuk lingkungan, maka apabila tidak ada lagi tanah terbuka dan vegetasi, akibat air tanah tidak terserap tanah dan mengalir kepermukaan tanah yang lain.
4.    Kepadatan lahan
Umumnya daerah sekitar pusat kegiatan semacam terminal dan pasar akan dipadati dengan bangunan multi fungsi yang berfungsi disamping sebagi untuk bekerja dan juga sebagai tempat tinggal. Dengan demikian maka timbullah kepadatan lahan yang sangat tinggi.
Kepadatan yang tinggi, yang melampaui batas daya tampung lahan akan manimbulkan banyak kesulitan. Daerahnya menjadi gersang, panas dan ramai sehingga tidak lagi memenuhi syarat. Dilihat dari kondisinya sebagai tempat untuk bertempat tinggal.
b.    Kondisi Bangunan
Bangunan disekitar Kawasan Sawangan adalah bangunan permanen. Sebagai lanjutan dari tuntutan akan hambatan karena penyediaan lahan yang terbatas.
1.    Fungsi Bangunan
Fungsi bangunan utama, adalah sebagai fungsi pusat perdagangan dan terminal. Kecenderungan pertambahan dan alih fungsi adalah akibat dari perkembangan Kawasan Sawangan. Bahkan beberapa bangunan diprediksi banyak bermunculan. Misalnya adanya bangunan yang dimanfaatkan untuk fungsi perkantoran. Tetapi kecenderungan yang tampak adalah adanya penambahan fungsi bangunan untuk berdagang.
Problem yang timbul, misalnya makin sempitnya lahan yang terbuka akan mengakibatkan masalah gangguan lingkungan, jadi walaupun ada penambahan fungsi bangunan, tetap member/menyediakan ruang terbuka yang cukup. Penambahan fungsi sebagai bangunan komersial, juga menimbulkan masalah pada masalah parkir. Karena terjadinya parkir di tepi jalan desebabkan fasilitas yang tersedia tidak mencukupi. Jangan sampai tampak bahwa tidak adanya perencanaan yang integrated antara penambahan ruang bangunan dengan kelestarian atas keseimbangan lingkungan.
2.    Bentuk bangunan
Berdasarkan data adanya kecenderungan mengarah pada fungsi perdagangan, bersamaan dengan itu pula munculnya persaingan dalam menarik minat pembeli/konsumen. Satu hal diantaranya adalah melalui bentuk bangunan yang cenderung menonjol/menarik.
Akibatnya bentuk bangunan menjadi beraneka ragam. Karena satu dengan lainya menjadi berbeda sama sekali. Sehingga bila diperlukan tampak adanya kepincangan-kepincangan visual karena adanya peloncatan bentuk bangunan-bangunan. Gejala inipun diprediksi akan terus dibarengi dengan pemasangan reklame yang beraneka warna. Gejala ini bila dibiarkan saja akan mengakibatkan semua ciri khas lingkungan menjadi ciri khas perdagangan. Dengan demikian, gejala ini akan menjadi preseden bagus/baik terhadap rencana menetukan Kawasan Sawangan menjadi pusat pertumbuhan serta embrio pusat kota baru.
c.    Transportasi
Sistem transportasi sebagai prasarana dan sarana mendapatkan pengaruh langsung dari gejala perkembangan lingkungan Kawasan Sawangan.
1.            Transportasi sebagai Satu Sistem
Perkembangan lingkungan akibat pengaruh Kawasan Sawangan memberikan pengaruh langsung terhadap system transportasi. Di dalam system itu terkandung komponen-komponen : Jalan (lebar, pembagian jalur), Fasilitas jalan dan Utilitas jalan.
Secara singkat dijelaskan bahwa perkembangan akan member pengaruh pada kualitas / volume kendaraan. Hal ini disebabkan karena pemakaiannya bertambah. Dengan demikian, pertambahan volume pemakai akan menuntut sarana yang bertambah.
2.    Kondisi Jalan
Masalah kondisi jalan itu menyangkut : lebar jalan dan pembagian jalur jalan.  Volume lalu lintas bertambah terus dan relative besar tambahnya. Dari gejala yang ada, akibat volume yang makin banyak ini adalah adanya pemadatan  lalu lintas dengan timbulnya pusat kegiatan perdagangan di Kawasan Sawangan. Namun demikian, pemadatan ini bukan hanya karena pertambahan volume pemakai. Penyebab lain diantaranya :
§  Banyak kegiatan yang menyita lebar jalan (parker di jalan dan lain sebagainya).
§  Bercampurnya penggunaan jalur untuk semua jenis kendaraan tanpa adanya pembagian.
3.    Fasilitas Jalan
 Makin ramainya jalan harus diimbangi dengan kelengkapan fasilitas jalan seperti : Halte, Rambu-rambu lalu lintas dan lain-lain. Tetapi kondisi yang sekarang ada, fasilitas –fasillitas seperti itu relative kurang. Terlebih lagi justru banyak fasilitas-fasilitas ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Angkutan kota (bus dan minibus) tidak selalu berhenti pada tempat yang ditentukan. Dari sudut ini, maka dapat pula diambil sebagi faktor penyebab gangguan lalu lintas. Dengan demikian, kelengkapan fasilitas jalan dan polisi yang tepat akan ikut menunjang dalam mengurangi problem lalu lintas jalan.
d.    Daerah Jalur hijau
Perkembangan fungsi kegiatan akan mengarah pada pemadatan lahan dengan menggunakan perkerasan. Gejala ini jelas akan menyebabkan semakin berkurangnya daerah atau lahan terbuka untuk vegetasi. Dalm hal ini (tinjauan jalan) vegetasi itu tidak hanya yang ada dipekarangan, tapi juga yang ada di jalur hijau tepian jalan. Jalur ini sangat perlu karena jalur hijau berguna sekali untuk mendukung lingkungan jalan.
1.    Manfaat Jalur Hijau
Jalur hijau dilingkungan Kawasan Sawangan berfungsii sebagai : Peneduh, penahan debu, pengarah jalan, pembatas dan lain-lain. Untuk daerah –daerah yang sudah ada jalur pembagian jalanya, jalur hijau ini sangat berguna, yaitu sebagi pemisah antara jalur satu dengan lainya sekaligus sebagi unsur hiasan jalan.
2.    Kondisi Jalur Hijau
Unsur pengaturan fisik rasanya sangatlah perlu untuk menjadi pengendali dimana orang tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan yang seharusnya tidak dilakukan di jalur hijau. Sebab, bila kecenderungan itu berjalan terus akan semakin rusaklah keadaan jalur hijau tersebut.
Kebiasaan yang tejadi pada kawasan pusat perbelanjaan dan terminal bahwa jalur hijau dipakai : Parkir mobil dan tempat berjualan para pedagang kaki lima (PKL). Dengan demikian, jelaslah bahwa penyimpangan penggunaan akan menyebabkan terjadinya kerusakan daerah jalur hijau yang sesungguhnya sangat diperlukan untuk kelengkapan system transportasi jalan raya.

3.2.5.    Tinjauan Non Fisik
Perkembangan ini menyangkut tata, perilaku dan latar belakang hidup masyarakat sekitar Kawasan sawangan. Sebab perkembangan itu tentu akan mempengaruhi eksistensi manusia sebagai makhluk individu sosial. Perkembangan ini mengarah pada bentuk masyarakt urban. Masyarakat yang mata pencahariannya bukan lagi agraris, melainkan memberikan jasa pada orang lain. Dengan begitu, maka masyarakt ini sangat menekankan pada efisiensi dan efektivitas kerjanya.
Bagi masyarak urban tidak ada waktu yang berulang (lain dengan rural yang mengenal sistem tanam berkala). Sebab itulah perkembangan itu membawa kecenderungan pada nilai-nilai tradisional kedalam nilai yang lebih modern.
Apalagi didukung pada perkembangan menjadi daerah perdagangan, gejala ini akan semakin teras. Dimana setiap kerja sama/interaksi satu dengan lainya adalah diperhitungkan sebagai suatu jasa. Dengan demikian tampaknya kecenderungan perkembangan daerah sekitar Kawasan Sawangan akan membawa perubahan-perubahan pada tata cara kehidupan tradisional kepada tat cara kehidupan urban.
a.    Sosial Budaya Masyarakat Sekitar Kawasan Sawangan
Perkembangan daerah sekitar Kawasan Sawangan yang cenderung mengarah pada bentuk - bentuk kegiatan komunikatif, berpengaruh sekali terhadap perilaku sosial budaya masyarakat.
Bila kita tinjau lebih lanjut, hal ini akan menjadi tantangan yang baru bagi usaha menetapkan Kawasan Sawangan sebagai pusat kegiatan perdagangan dan tranportasi.
Satu sisi, rencana menetapkan Kawasan Sawangan sebagai pusat perdagangan dan tranportasi dimana nilai fisik dan juga nilai non fisik masyarakat (khususnya Kabupaten Wonosobo) tetap dilestarikan.
Dengan gejala perkembangan, bentuk masyarakatnya mengarah pada bentuk kehidupan konsumtif. Dimana nilai uang menjadi ukuran terhadap suatu kerja. Bentuk kehidupan gotong royong, silaturahmi dan lain-lain jangan sampai hilang / pudar. Hal ini yang akan membuktikan bahwa maasyarakat berpegang teguh pada nilai-nilai budaya tradisional dan tidak cenderung pada bentuk kehidupan yang lebih mengutamakan individu.
Dengan demikian tampaknya menjadi satu hal penting dalam upaya mengkordinasikan dengan usaha menjadikan Kawasan Sawangan sebagai pusat perdagangan dan transportasi. Dilihat dari gejala perkembangan daerah sekitar Kawasan Sawangan merupakan gejala perkembangan yang konstan.
Perkembangan itu berjalan terus, dan perkembangan itu membawa pengaruh pada perubahan kehidupan sosial masyarakatnya. Dengan demikian satu alternatif aalah menciptakan citra Kawasan Sawangan sebagai pusat perdagangan dan transportasi, dimana nilai-nilai tradisional sejauh mungkin bisa dipertahankan untuk mengimbangi perubahan - perubahan sekitarnya.    
b.    Ekonomi Masyarakat Sekitar Kawasan Sawangan
Seperti  telah dijelaskan didepan bahwa ekonomi masyarakat sekitar Kawasan Sawangan adalah bermacam - macam dilihat dari golongan ekonomi lemah dan sedang. Pada daerah tepi lingkungan jalan kebanyakan adalah golongan ekonomi menengah dan atas.
Kebanyakan dari pemakai Kawasan Sawangan adalah masyarakat rural, tentunya bahwa mereka sebenarnya bukanlah dari masyarakat urban. Maka walaupun mereka berada pada daerah yang berkarakter rural, apa yang dibutuhkan dan dapat dijangkau adalah seperti apa yang ada di daerah dimana dia berasal.
Motivasi tersebut menjadi stimultan, munculnya para pedagang / penjual jasa yang melayani orang-orang tersebut. Pelayanan akan apa yang dibutuhkan seperti didaerah asalnya dan jangkauan harga / upah yang relatif rendah. Kebanyakan dari penjual jasa itu adalah pedagang kaki lima. Dengan demikian, gejala perkembangan urban akan mengikat terhadap masyarakat sekkitar, apa yang dia butuhkan akan hidupnya sebagai pendatang dari daerah belakang ( rural ).

3.3.6.   Kawasan Sawangan sebagai Pusat Kegiatan pendukung Kota
Bila kita lihat pengertian Kawasan Sawangan sebagai calon/embrio pusat kota dari beberapa kondisi adalah sebagai berikut :
a.    Kawasan Sawangan dilihat dari segi Sosial
Dimana di Kawasan Sawangan terdapat berbagai macam bentuk kehidupan sosial (yang heterogen). Tinjauan terhadap perilaku sosial adalah tinjauan terhadap masyarakat calon pemakai Kawasan Sawangan.
Satu hal yang penting bahwa Kawasan Sawangan adalah suatu bentuk heterogenitas. Heterogen yang dimaksud adalah :
1.    Heterogen dalam Derajat Ekonominya.
2.    Heterogen dalam Kesukaannya.
3.    Heterogen dalam Komposisi.
4.    Heterogen dalam Kualitas.
5.    Heterogen dalam Lapangan Kerja.
6.    Dan Lain-lain.
Sifat yang heterogen ini tentu akan menunjukan perbedaan - perbedaan dalam perilaku dan tuntutan dalm kehidupan sosialnya.
b.    Kawasan Sawangan dilihat dari Segi Ekonomi
Kawasan Sawangan adalah pusat dari aktifitas ekonomi. Di dalamnya terdapat berbagai macam potensi yang berhubungan dengan masalah ekonomi, misalnya perdagangan, perbelanjaan, pekerjaan dan lain-lain.
Kegiatan ekonomi, sebagai salah satu sektor kehidupan yang ada di Kawasan Sawangan, menjadi faktor yang sangat penting dalam menunjang Kawasan Sawangan sebagai pusat kegiatan kota. Sebab dalam kehidupan manusia memerlukan barang-baarang untuk kebutuhan hidupnya.
Keberadan fasilitas perdagangan di Kawasan Sawangan juga menjadi sebab tumbuhnya lapangan kerja yang tentunya berguna bagi sebagian pemakai Kawasan sawangan.
c.    Kawasan Sawangan dilihat dari Segi Fisik
Dilingkungan Kawasan Sawangan terdapat berbagai sarana dan prasarana yang cukup dan dapat berkembang, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Adanya Terminal di Kawasan Sawangan merupakan ciri dari suatu pusat pertumbuhan. Demikian juga jalan-jalan dan fasilitasnya menunjang Kawasan Sawangan sebagi embrio pusat kota, terlebih lagi bahwa banyak jalan yang menuju langsung ke Kawasan Sawangan.
Bila dilihat secara umum, pada dasarnya Kawasan Sawangan terbentuk dari suatu bentuk segitiga, dimana titik-titik sudutnya merupakan titik magnit utama kota.
Titik-titik magnit utama kota itu adalah :
1.    Pintu masuk dari Kabupaten Banjarnegara.
2.    Pintu masuk dari Kabupaten kebumen.
3.    Pintu masuk dari pusat kota Wonosobo. 
Didalam segitiga tersebut, juga ditambah dengan satu titik magnit, yaitu jalan tembus dari Kecamatan Leksono yang merupakan pusat SWP IV. Embrio pusat kota yang berbentuk segitiga tersebut, intensitas maupun frekuensinya sudah cukup padat. Sehingga kawasan itu telah mencapai kondisi siap dikembangkan.

3.3.7. Kawasan Sawangan Sebagai Daerah Interaksi Antar Kota Dengan Perbatasan.
Jalur penghubung yang penting antara kota Wonosobo denngan Wilayah Perbatasan adalah Jalur koridor Aktif. Jalur koridor aktif tesebut jadi sangat penting karena pusat-pusat kegiatan utama kota banyak terdapat di Jalur Koridor Aktif tersebut.
Fasilitas-fasilitas ini menjadi kondisi yang menyebabkan arus lalu lintas manusia mengalir ke daerah ini. Lebih-lebih pada hari-hari tertentu (Minggu). Arus pengunjung diharapkan banyak ke kawasan Sawangan.

3.3.8. Kawasan Sawangan Sebagai Ciri Kawasan Perbatasan.
Kawasan Sawangan, secara keseluruhan terletak di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, adanya rencana pusat perdagangan dan terminal, mempunyai kedudukan yang sangat istimewa, baik secara strategi perkotaan maupun bagi masyarakat / warga sekitarnya. Kedudukan ini disebabkan Kawasan Sawangan telah menjadi multi fungsi yang beragam. Fungsi-fungsi yang beragam itu dapat dirinci sebagai berikut :
a.    Kawasan Sawangan sebagai Pusat Pertumbuhan.
Seperti kita ketahui bahwa kawasan Sawangan merupakan lokasi berciri pusat pertumbuhan. Unsur ini sangat penting bagi suatu lingkungan, karena pusat pertumbuhan ini akan menggantikan pusat-pusat kota yang sudah ada.
b.Kawasan Sawangan sebagai sub Terminal.
Pada faktanya di Kawasan Sawangan pada hari-hari biasa atau hari-hari penting lainya menjadi pusat pergantian tranportasi baik lokal maupun regional, disamping Kawasan Sawangan menjadi alternatif utama sebagi tempat pemberangkatan bus AKAP. Sehingga dalm hal ini Kawasan Sawangan menempati posisinya sebagai sub terminal yang mempunyai prospek baik.

3.3.9. Kawasan Sawangan sebagi pusat penyangga ekonomi kabupaten Wonosobo.
            Seperti yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Wonosobo, menetapkan Kawasan Sawangan sebagi daerah pusat pertumbuhan SWP IV. Dari kondisi yang ada seperti yang dijelaskan didepan, tampaknya Kawasan Sawangan cenderung menjadi pusat pertumbuhan yang bentuknya pusat perdagangan, karena sebagian dari kegiatanya adalh kegiatan rekreatif. Bila kita perhatikan, maka Kawasan Sawangan mempunyai 2 rung kegiatan :
a.    Rung kegiatan perdagangan / perbelanjaan.
Ruang kegiatan ini adalah bagian-bagian orang yang memang betul-betul berbelanja atau sekedar rekreasi. Ruang kegiatan ini meliputi pasar konvensional dan sebaginya, dimana kegiatanya adalah kegiatan komersial.
b.    Ruang Kegiatan Terminal
Ruang kegiatan ini adalah tempat dimana dilangsungkan kegiatan penurunan dan pemberangkatan penumpang.
Dari kedua pembagian ruang kegiatan ini tampaknya bahwa ada semacam kegiatan Pusat pertumbuhan yang sifatnya khas yaitu penyangga ekonomi suatu kawasan.

3.3.10. Daerah Asal Pemakai Kawasan Sawangan.
Kebanyakan dari pemakai Kawasan Sawangan adalah mereka yang berasal daari SWP IV dan Kabupaten Banjarnegara. Mereka yang datang ke Kawasan Sawangan dalam rangka mencari kegiatan perdagangan, terminal dan rekreasi. Pengaruh urban (kota), sedikit banyak menambah atau mempengaruhi cara hidup dan tuntutan hidup. Satu diantaranya adalah kebutuhan akan rekreasi/hiburan.
Pengaruh adat dan kebiasaan di lingkungan rural (perdesaan), tampaknya tidak dapat di hilangkan walupun mereka sudah bersifat perkotaan. Pengaruh itu adalah menyangkut masalah fasilitas atau sarana yang diperlukan seperti yang didapatkan di daerah rural. Misalnya dengan cara berekreasi, terlihat adanya usaha membawa semua kerabat yang datang. Mereka sekeluarga berbondong-bondong datang ke kawasan Sawangan, berbelanja, rekreasi dan lain sebagainya.

3.3.11. Tinjauna Fisik
a.    Tata Guna Lahan
Bahwa tata guna lahan untuk Sawangan Pasar Buah nantinya merupakan alih fungsi dari lahan bengkok Desa Sawangan yang berupa lahan pertanian serta lahan kegiatan terminal dan pasar hewan yang pada akhirnya nanti digunakan untuk berbagai macam kegiatan lainya. Pemanfaatan ini cenderung pasti dan tidak bisa dirubah. Tetapi dari segi pemanfaatan fungsi bangunan, bisa menjadi bertambah (fungsi ganda).
Tata guna lahan tersebut ternyata memberi pengaruh terhadap penggunaan lahan lainya di kawasan Sawangan yang diprediksi terjadi penyimpangan dari fungsi pertama. Pengaruh dan penyimpangan itu antar lain untuk penggunaan jalur tranportasi. Peruntukan pertama untuk jalur pejalan kaki, tetapi dalam perkembanganya terjadi penyimpangan pengguna untuk pedagang Kaki Lima (PKL). Apabila penyimpangan ini ternyata berkembang dan penyimpangan ini dibiarkan. Tentu akan menjadi persoalan yang tidak mudah penanganannya, apabila tidak sedini mungkin penyimpangan ini diarahkan.
Dengan demikian jelaslah bahwa perkembangan itu mengarah pada penyimpangan peruntukan lahan. Untuk melakukan tindakan pencegahan, rasanya sulit sebab sifatnya yang kompleks menyangkut masyarakt banyak. Satu alternatif yang bisa di lakukan adalah usaha pengendalian untuk mengarahkan terhadap gejala perkembangan yang terjadi di Kawasan sawangan, dalam hal ini pengendalian terhadap penggunaan lahan.
b.    Macam dan Fungsi Bangunan.
Dalam rencana ini dijelaskan mengenai macam dan fungsi bangunan yaitu :
1.    Sub Terminal : berfungsi sebagi tempat pergantian moda tranportasi bagi pengunjung yang datang dan meninggalkan Kawasan Sawangan Aggricultural Trade Center.
2.    Pasar Buah : berfungsi sebagai tempat pusat perdagangan hasil bumi berupa buah-buahan dari kawasan Agropolitan Rojonoto.
3.    Bangunan Pendukung lainya :  berfungsi sebagai bangunan pendukung kegiatan lainya pada Pasar buah Sawangan.
Dalam perencanaan fungsi bangunan-bangunan tersebut saling berinteraksi / integrasi, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
§  Integrasi fungsi – fungsi bangunan
Dalam lingkungan kawasan Sawangan, antara fungsi bangunan satu dengan lainya adalah saling berkaitan mendukung. Misalnya antaara funsi perdagangan (dalm hal ini pasar konvensional) dan fungsi terminal serta bangunan pendukung lainya adalah merupakan fungsi yang saling mendukung. Satu pihak orang dapat bebas berekreasi belanja tanpa kuatir harus terlambat melanjutkan perjalanan karena sudah ada fasilitas di dekatnya.
§  Gejala Perubahan Fungsi
Dalam rencana ini dijelaskan bahwa ada perubahan fungsi sebagai fungsi bangunan antara lain : Pasar Buah sebagi pusat perdagangan, tetapi dalm perkembanganya, dari perdagangan ke pameran dan sebagainya.
c.    Transportasi
Gejala perkembangan yang diprediksi paling terasa pada lingkungan Kawasan Sawangan adalah pada sektor transportasi. Kelancaran sistem transportasi akan memberikan pengaruh kelancaran pada sistem-sistem yang lain. Kelancaran sistem transportasi tersebut menyangkut :
1.    Sistem pembagian jalan kendaraan.
2.    Keseimbangan antaara kuantitas kendaraan / pejalan kaki dengan lebar jalan.
3.    Rambu-rambu lalu lintas dan kesadaran masyarakat.
4.    Sistem parkir.
d.    Penghijauan
Fungsi penghijaun, seperti dibahas dimuka adalh berfungsi peneduh, pengarah, pembatas dan menetralisir polusi dari kendaraan yang ada.
Dalam rencana telah dijelaskan mengenai macam jalur hijau di Kawasan Sawangan sebagai Pasar Buah adalah :
1.    Macam Vegetasi
Dalam rencana ini dijelaskan macam vegetasi yang digunakan : rumput, pohon Palm, Pohon Cemara dan lain sebagainya.
2.    Vegetasi sebagi Unsur Peneduh
Kondisi vegetasi Kawasan Sawangan sebagi peneduh, lebih banyak difungsikan. Hal ini karena macam tumbuhannya yang memang jenis rindang.
3.    Vegetasi sebagai Unsur pengarah
Fungsi vegetasi sebagai unsur pengarah misalnya pohon palm atau cemara. Hal ini disebabkan karena kondisinya yang tinggi dan lurus.
4.    Vegetasi sebagai Unsur Pembatas
Fungsi ini yang dimaksud adalah pembatas antara jalur cepat dengan jalur lambat. Vegetasi jenis ini direncanakan guna memberi kesan sebagi pembatas.
5.    Vegetasi sebagai Unsur Menetralisir Polusi Udara
Keberadaan vegetasi jenis ini sebagai unsur penetral polusi udara. Semakin rindang maka banyak unsur oksigen yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat untuk menetralisir polusi udara yang terjadi di sekitar kawasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar