3.2.
TINJAUN UMUM KAWASAN SAWANGAN
Sawangan
merupakan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) Kawasan Agropolitan Rojonoto. Letaknya
sangat strategis, berada pada simpul transportasi lokal antar kecamatan yang
menghubungkan Sawangan dengan Sukoharjo, Leksono, Selomerto, Kaliworo,
Wadaslintang dan sebagian Watumalang, dimana kesemuanya itu adalah sentra dari
beberapa produksi pertanian terutama buah-buahan dan pertanian.
Hubungan antara kawasan Sawangan dengan daerah
sekitarnya adalah merupakan hubungan timbal balik, yang berkaitan satu dengan
yang lainya. Kawasan sawangan memberikan pengaruh pada daerah sekitarnya,
dengan dampak perkembangan, tetapi daerah sekitar juga memberikan pengaruh pada
perkembangan kawasan Sawangan.
Pemerintah kabupaten Wonosobo telah menetapkan suatu
rencana pembangunan Kabupaten di dalam RTRW dan Renstrada Wonosobo 2002-2007.
Didalam rencananya, telah ditetapkan bahwa kawasan Sawangan adalah direncanakan
menjadi daerah pusat pertumbuhan, artinya bahwa kawasan Sawangan akan terlihat
ciri khas pertumbuhan perekonomian daerah khususnya ciri khas kabupaten
Wonosobo.
3.2.1. Kondisi Dasar
Wilayah Perencanaan
Sawangan
merupakan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) Kawasan Agropolitan Rojonoto. Letaknya
sangat strategis, berada pada simpul transportasi lokal antar kecamatan yang
menghubungkan Sawangan dengan Sukoharjo, Leksono, Selomerto, Kaliworo,
Wadaslintang dan sebagian Watumalang, dimana kesemuanya itu adalah sentra dari
beberapa produksi pertanian terutama buah-buahan dan pertanian. Lingkup
perencanaan Agropolitan Sawangan mencakup kawasan Rojonoto diantaranya antara
lain : Kecamatan Kaliwiro, kecamatan Sukoharjo, Kecamatan
Leksono, Kecamatan Selomerto.
Pembangunan
Pasar Buah Sawangan ini direncanakan berlokasi di Jalan Raya Banyumas Km 15
Wonosobo. Lokasi yang direncanakan untuk Pasar Buah berada di barat Sub
Terminal Sawangan. Didukung letaknya yang sangat strategis serta potensi
daerah-daerah pendukungnya (hinterland),
menjadikan Sawangan cepat berkembang. Untuk mendukung pengembangan wilayah
serta kegiatan pertanian yang ada, salah satu sarana infrastruktur yang
dibutuhkan Pasar Buah Sawangan di Kawasan Agropolitan Wonosobo.
3.2.2. Potensi
Perkembangan Kawasan Sawangan
Kecenderungan perkembangan suatu daerah adalah
disamping adanya daya pendorong juga adanya kesempatan atau potensi. Pengaruh
Kawasan Sawangan menjadi pendorong, dimana banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan
berkaitan dengan keberadaan Kawasan Sawangan. Kawasan ini (sekitar Kawasan
Sawangan), dari segi fisik dan non fisik punya potensi, maka muncullah berbagai
usaha yang dilakukan, sehingga timbul penggunaan lahan untuk dagang, terminal
dan lain-lain.
a. Potensi Kawasan Sawangan
Kawasan Sawangan sebagai pusat pertumbuhan, secara
umum mempunyai potensi, baik potensi yang memberikan cirri khas daerah
Kabupaten Wonosobo maupun potensi yang membawa perkembangan daerah sekitarnya. Kawasan
Sawangan dengan berbagai macam fasilitas yang ada (satu dengan yang lainya
saling mendukung) memberikan ciri khas Desa Sawangan yang tidak dimiliki oleh
daerah lain.
Di Kawasan Sawangan terdapat berbagai macam aktifitas
seperti aktifitas di sub terminal dan lain-lain. Kesatuan itu direncanakan
memberikan bentuk khas kegiatan dimana orang dapat melakukan berbagai macam
kegiatan berurutan dalam satu waktu kegiatan. Terlebih lagi pada malam hari,
Kawasan Sawangan direncanakan menjadi tempat yang sangat khas untuk berekreasi
dan berbelanja. Di Kawasan Sawangan dan sekitarnya direncanakan masyarakat
berdatangan untuk menikmati suasana malam yang indah di Kawasan Sawangan.
Di Kawasan Sawangan itu, orang akan dapat melakukan rekreasi
dan belanja tanpa harus mengeluarkan dana / biaya yang banyak, sebab dari
tempat tinggalnya dapat ditempuh dengan sarana yang murah seperti sepeda,
sepeda motor atau angkutan umum. Disamping berekreasi dan berbelanja, orang
dapat melakukan pendidikan informal pada anak-anaknya melalui medan yang ada, misalnya dengan melihat
gedung-gedung, lampu-lampu, mobil dan lain-lain, akan memberikan daya cipta dan
daya fisik yang lebih maju bagi perkembangan anak.
Jadi terutama bagi sebagian pengunjung Kawasan
Sawangan yang kebanyakan adalah golongan ekonomi lemah dan sedang, tempat ini
menjadi tempat yang berarti bagi keperluan hidupnya. Dimana keperluan hidupnya
itu, tidak didaptkan ditempat dimana dia tinggal. Bersumber dari pengunjung
Kawasan Sawangan menjadi sebab pula Kawasan Sawangan sebagai fasilitas penyediaan
lapangan pekerjaan, yaitu bagi pedagang kaki lima. Karena pada dasarnya yang membutuhkan
pedagang kaki lima
adalah juga para pengunjung Kawasan Sawangan.
Jadi jelaslah bahwa potensi kawasan Sawangan adalah
merupakan rangkaian dari berbagai macam sebab dan akibat. Dimana satu dengan
yang lainya tidak terpisahkan sebagi satu mata rantai kegiatan.
b. Pengunjung Kawasan Sawangan
Pengunjung Kawasan Sawangan yang selanjutnya kita
sebut sebagai konsumen adalah berfariasi, baik dari tinjauan umur, income perkapita maupun golongan. Tetapi
dari macam yang dikunjungi dapat kita bedakan, itupun menurut cara empiris.
Tapi secara umum dapat dikatakan bahwa bila kita
katakan Kawasan Sawangan sebagai sub
urban, maka pengunjung itu berasal dari daerah rural. Di sini kemudian timbul persoalan bahwa apapun yang berada
di Kawasan Sawangan tetap akan dituntut apa yang ada di daerah asalnya. Pada
pagi hari dan siang hari, konsumen Kawasan Sawangan mengunjungi kegiatan yang
ada disekitar Kawasan Sawangan, misalnya berbelanja di Pasar Buah, terminal dan
sebagainya.
Dari segi tuntutan, mereka butu hiburan / rekreasi
karena mereka tetap juga memerlukanya. Tetapi dari segi biaya, mereka butuh
yang murah. Dari hal tersebut diatas, jelaslah bahwa Kawasan Sawangan memang
betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat, terutama golongan ekonomi lemah dan
sedang, dimana di dalamnya masyarakat bisa mendapatkan suasana rekreatif yang
diperlukanya.
Barang kali, bila terjadi perubahan keadaan Kawasan Sawangan,
sehingga masyarakat tidak bisa menikmati rekreasi, adalah hal yang sangat
merugikan sehingga hal itu bisa mengaburkan cirri khas pusat pertumbuhan
Kawasan Sawangan seperti yang bisa kita lihat sekarang. Namun satu hal yang
perlu dipertimbangkan adalah karena pengunjung Kawasan Sawangan begitu padat,
sedangkan jalan begitu ramainya, maka hal ini sangat membahayakan. Sebab perlu
di ingat bahwa mereka datang dari peradaban yang tidak sekompleks di pusat
pertumbuhan sebagai daerah urban,
maka baik sikap, tingkah laku dan cara serta kebutuhanya adalah meyesuaikan
dengan dimana dia berasal yaitu pedesaan / rural.
c. Integritas Kawasan Sawangan dan Sekitarnya
Seperti telah dijelaskan dimuka, bahwa antara Kawasan
sawangan dan Sekitarnya merupakan suatu integritas timbal balik dimana satu
dengan lainya adalah saling pengaruh mempengaruhi.
1. kawasan
Sawangan sebagai pusat kegiatan
Kawasan Sawangan dengan beraneka
”penyediaan” yang ada, menjadi kawasan Sawangan menjadi pusat kegiatan. Dari
hal tersebut, dimana di dalamnya orang bisa melakukan kegiatan apa saja, maka
mengalirlah masyarakat untuk datang ke kawasan sawangan.
Mereka datang ke Kawasan sawangan dengan
maksud yang bermacam-macam. Dengan demikian, maka di dalam Kawasan Sawangan, tertumpah
berbagai macam jenis pendatang dan berbagai macam jenis tujuan. Maka ciri khas
pusat kegiatan Kawasan sawangan direncanakan adanya bermacam-macam kegiatan di
dalamnya. Ada
perdagangan, terminal dan sebagainya.
2. Asesibilitas
kawasan sawangan
Kawasan Sawangan merupakan daerah yang
amat strategis kedudukanya di Kabupaten Wonosobo. Daerah ini disamping dekat pusat-pusat kegiatan lainya, juga
merupakan penghubung antara Kabupaten Banjarnegara. Kebumen dengan Kabupaten
Wonosobo.
Kedudukanyang strategis ini memungkinkan
Kawasan Sawangan mudah dicapai dari daerah-daerah pemukiman di Kabupaten
Wonosobo dan sekitarnya. Apabila kita melihat bahwa sebagian pengunjung Kawasan
Sawangan, adalah mereka yang termasuk golongan ekonomi lemah dan sedang, maka
jelaslah bahwa pencapaian ke Kawasan Sawangan bukan menjadi hal yang berat. Dengan
demikian, maka tujuan datang ke Kawasan sawangan menjadi hal yang mudah dilakukan
dan meringankan.
3. Masyarakat
Sekitar Kawasan Sawangan
Masyarak sekitar Kawasan Sawangan sangat
beragam, mulai dari golongan tinggi, menengah, sedang dan lemah. Tetapi
mayoritas dari mereka adalah golongan lemah dan sedang. Satu hal yang
dibutuhkan mereka adalah kebutuhan konsumsi akan hidup, diantaranya adalah
pasar dan terminal. Pasar itupun bermacam-macam, hal itu menyangkut jenis dan
skala pelayanan.
Dari kebutuhan itu muncullah tuntutan
untuk mendapatkannya di Kawasan Sawangan yang ternyata memberikan apa yang
mereka cari. Di kawasan Sawangan diharapkan orang bisa mendapatkan apa yang
menjadi kebutuhan dasar baik bagi penjual maupun pembeli. Dengan demikin, maka
jelaslah bahwa satu segi masyarakat memerlukan pasar dan bangunan pendukung
lainya bagai kebutuhan hidupnya dan di satu segi, Kawasan Sawangan mampu
memberikan apa yang diperlukan masyarakat.
3.2.3.
Gejala
Perkembangan
Lingkungan suatu daerah adalah terdiri dari
satu kesatuan komponen yang saling mendukung satu dengan yang lainya.
Komponen-komponen itu meliputi : ekologi, teknologi dan Sosial. Tercakupnya
tiga hal tersebut akan mendukung perkembangan suatu daerah, dengan demikian
juga akan membantu perkembangan Kawasan Sawangan dan sekitarnya.
Gejala
perkembangan Kawasan Sawangan dan sekitarnya meliputi :
a. Aspek
Fisik
Secara fisik Kawasan Sawangan
mempengaruhi daerah sekitarnya, sehingga tumbuh gejala perkembangan. Demikian
juga daerah sekitarnya menjadi pengaruh timbulnya gejala perkembangan Kawasan
Sawangan. Gejala perkembangan (dari segi fisik) itu mencakup unsure - unsur
tata guna lahan, kondisi bangunan, transportasi dan utilitas kerja.
Perkembangan itu disebabkan karena aktifitas yang bertambah.
Suatu prediksi aktivitas yang menonjol
adalah aktivitas perdagangan dan tranportasi. Bisa dimaklumi, karena investasi
yang menjaring konsumen hilir mudik ke Kawasan Sawangan. Dengan demikian
jelaslah bahwa gejala perkembangan fisik adalah merupakan jarring - jaring
sebab akibat.
Sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut ;
Pengaruh Kawasan sawangan memberikan
daya tarik orang datang ke Kawasan Sawangan. Kedatangan itu membentuk suatu
alur lalu lintas dan usaha berdagang, sedang untuk kebutuhan itu diperlukan
lahan dan bangunan. Dari situlah muncul pemanfaatan lahan dan pendirian
bangunan yang selanjutnya menuntut perluasan karena perkembangan. Akibat dari
semakin kompleksnya suatu lingkungan akibat perkembangan tersebut, maka
muncullah tuntutan tuntutan akan utilitas untuk kepentingan umum.
b. Aspek
Sosial Budaya
Perkembangna terhadap aspek sosial
budaya adalah menyangkut tata hidup masyarakat sekitar Kawasan Sawangan, yaitu
perkembangan pada perubahan struktur sosial budayanya akibat pengaruh Kawasan
Sawangan.
Rencana perkembangan menjadi daerah
perdagangan, dimana kehidupan cenderung berbentuk konsumtif, membawa perubahan
kehidupan sosial. Perubahan itu cenderung pada tujuan mengutamakan kepentingan
pribadi dari pada kepentingan sosial. Bentuk kehidupan cenderung tidak
menunjukan tata cara hidup sosial, Tata hidup sosial itu misalnya gotong
royong, silaturahmi dan lain sebagainya. Tampaknya perkembangan membentuk tata
cara kehidupan urban tidak akan bisa dibendung. Perkembangan ini akan berjalan
terus. Dengan demikian maka perkembangan sosial budaya adalah menjadi faktor
perubahan, dimana dalam usaha pengendalian adalah mengendalikan terhadap
perkembangan-perkembangan yang lain.
c. Aspek
Ekonomi
Rencana perkembangan terhadap aspek
ekonomi adalah manyangkut income perkapita
masyarakat. Namun demikian, income perkapita
inipun merupakan nilai yang empiris (karena standarnya yang berbeda-beda).
Pengaruh perkembangan Kawasan Sawangan
memang memberikan banyak peluang akan lapangan kerja, yang secara otomatis akan
menentukan income perkapita /
penghasilan masyarakat sekitar. Peluang akan lapangan kerja itu bisa berupa jasa,
perdagangan / jual beli atau yang lain. Peluang ini membawa gejala yang cepat
sekali, bagaikan jamur tumbuh gejala perkembangan sektor ekonomi dilingkungan
sekitar Kawasan Sawangan. Dengan demikian maka jelaslah bahwa pengaruh Kawasan
Sawangan memberikan peluang adanya lapangan kerja yang terbuka bagi orang di
sekitar Kawasan Sawangan.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan
secara umum bahwa gejala perkembangan Kawasan Sawangan dan sekitarnya adalah
faktor pendorong dan potensi pendukung. Faktor pendorong adalah adanya Kawasan
Sawangan yang menyerap pengunjung dari berbagai arah, sedang potensi pendukung
adalah tersedianya lahan dan kesempatan bagi daerah sekitar untuk memanfaatkan
eksistensi Kawasan Sawangan.
Aspek-aspek yang terkandung dalam
perkembangan itu adalah aspek teknologi, sosial budaya dan ekonomi. Dimana ketiganya
merupakan komponen yang saling tekait satu dengan lainya membentuk suatu
perkembangan.
3.2.4.
Tinjauan
Perkembangan Fisik Lingkungan
Tata fisik lingkungan adalah sarana yang akan
menunjang kelancaran aktivitas, karena diatasnya dengan berbagai macam
fasilitasnya orang akan dapat melakukan kegiatan. Di dalam rencana awal telah
ditetapkan mengenai pembentukan daerah tertentu. Tetapi kenyataanya memang
menjadi lain. Hal ini memang mungkin karena ada hal-hal yang belum
dipertimbangkan sehingga rencana itu kurang terarah. Seperti halnya Pasar Hewan
yang pada perkembangannya tidak seperti yang diharapkan. Hal ini karena tidak
adanya fasilitas kegiatan pendukung.
a. Tata
guna Lahan
Segi tata guna lahan terjadi alih fungsi
dari lahn pertanian menjadi fungsi perdagangan, jasa dan transportasi. Alih
fungsi ini sesuai dengan arahan yang terdapat pada potensi SWP IV Kecamatan
Leksono, yaitu sebagai pengembangan fungsi perdagangan, infra struktur dan lain-lain.
1. Penyediaan
Lahan
Akibat perkembangan penggunaan lahan,
maka lahan yang dibutuhkan menjadi semakin banyak. Apabila kita lihat makin
lama antara kebutuhan dan penyediaan tidak akan seimbang lagi. Padahal tuntutan
akan lahan akan terus mendesak, akibat perlombaan memanfaatkan kesempatan yang
ada. Dalam hal ini lahan yang tersedia 4,5 ha.
2. Nilai
Lahan
Tuntutan yang tinggi dengan penyediaan
yang tidak memadai, akan menimbulkan persaingan untuk mendapatkan lahan.
Kesempaatan itu ialah adanya kecenderungan naiknya nilai tanah, yang dapat kita
katakan sebagai tingginya harga tanah.
Pemanfaatan terhadap nilai tanah yang
tinggi, tentunya harus merupakan pemanfaatan yang sifatnya produktif /
menghasilkan. Satu hal yang paling memungkinkan dilakukan ternyata adalah
perdagangan. Dengan demikian, ada banyak kaitan kuat terhadap kecenderungan perkembangan untuk pemanfaatan lahan sebagi
fungsi perdagangan karena nilai tanah yang semakin tinggi.
3. Kelestarian
Alam
Keccenderungan untuk memanfaatkan lahan
seoptimal mungkin mengarah pada pemanfaatan keseluruhan dari lahan yang ada
sehingga seluruh permukaan lahan dimanfaatkan untuk fungsi kegiatan dan semakin
kecil lahan yang terbuka. Semakin sempitnya lahan yang terbuka, maka semakin
sempitnya permukaan tanahnya.
Padahal permukaan tanah yang ditumbuhi
vegetasi sangat berguna untuk penyerapan air tanah dan penyejuk lingkungan,
maka apabila tidak ada lagi tanah terbuka dan vegetasi, akibat air tanah tidak
terserap tanah dan mengalir kepermukaan tanah yang lain.
4. Kepadatan
lahan
Umumnya daerah sekitar pusat kegiatan
semacam terminal dan pasar akan dipadati dengan bangunan multi fungsi yang
berfungsi disamping sebagi untuk bekerja dan juga sebagai tempat tinggal.
Dengan demikian maka timbullah kepadatan lahan yang sangat tinggi.
Kepadatan yang tinggi, yang melampaui
batas daya tampung lahan akan manimbulkan banyak kesulitan. Daerahnya menjadi
gersang, panas dan ramai sehingga tidak lagi memenuhi syarat. Dilihat dari
kondisinya sebagai tempat untuk bertempat tinggal.
b. Kondisi
Bangunan
Bangunan disekitar Kawasan Sawangan
adalah bangunan permanen. Sebagai lanjutan dari tuntutan akan hambatan karena
penyediaan lahan yang terbatas.
1. Fungsi
Bangunan
Fungsi bangunan utama, adalah sebagai
fungsi pusat perdagangan dan terminal. Kecenderungan pertambahan dan alih
fungsi adalah akibat dari perkembangan Kawasan Sawangan. Bahkan beberapa
bangunan diprediksi banyak bermunculan. Misalnya adanya bangunan yang
dimanfaatkan untuk fungsi perkantoran. Tetapi kecenderungan yang tampak adalah
adanya penambahan fungsi bangunan untuk berdagang.
Problem yang timbul, misalnya makin
sempitnya lahan yang terbuka akan mengakibatkan masalah gangguan lingkungan,
jadi walaupun ada penambahan fungsi bangunan, tetap member/menyediakan ruang
terbuka yang cukup. Penambahan fungsi sebagai bangunan komersial, juga
menimbulkan masalah pada masalah parkir. Karena terjadinya parkir di tepi jalan
desebabkan fasilitas yang tersedia tidak mencukupi. Jangan sampai tampak bahwa
tidak adanya perencanaan yang integrated antara
penambahan ruang bangunan dengan kelestarian atas keseimbangan lingkungan.
2. Bentuk
bangunan
Berdasarkan data adanya kecenderungan
mengarah pada fungsi perdagangan, bersamaan dengan itu pula munculnya persaingan
dalam menarik minat pembeli/konsumen. Satu hal diantaranya adalah melalui
bentuk bangunan yang cenderung menonjol/menarik.
Akibatnya bentuk bangunan menjadi
beraneka ragam. Karena satu dengan lainya menjadi berbeda sama sekali. Sehingga
bila diperlukan tampak adanya kepincangan-kepincangan visual karena adanya peloncatan bentuk bangunan-bangunan. Gejala
inipun diprediksi akan terus dibarengi dengan pemasangan reklame yang beraneka
warna. Gejala ini bila dibiarkan saja akan mengakibatkan semua ciri khas
lingkungan menjadi ciri khas perdagangan. Dengan demikian, gejala ini akan
menjadi preseden bagus/baik terhadap rencana menetukan Kawasan Sawangan menjadi
pusat pertumbuhan serta embrio pusat kota
baru.
c. Transportasi
Sistem transportasi sebagai prasarana dan
sarana mendapatkan pengaruh langsung dari gejala perkembangan lingkungan
Kawasan Sawangan.
1.
Transportasi sebagai Satu
Sistem
Perkembangan lingkungan akibat pengaruh
Kawasan Sawangan memberikan pengaruh langsung terhadap system transportasi. Di
dalam system itu terkandung komponen-komponen : Jalan (lebar, pembagian jalur),
Fasilitas jalan dan Utilitas jalan.
Secara singkat dijelaskan bahwa
perkembangan akan member pengaruh pada kualitas / volume kendaraan. Hal ini
disebabkan karena pemakaiannya bertambah. Dengan demikian, pertambahan volume
pemakai akan menuntut sarana yang bertambah.
2. Kondisi
Jalan
Masalah kondisi jalan itu menyangkut :
lebar jalan dan pembagian jalur jalan.
Volume lalu lintas bertambah terus dan relative besar tambahnya. Dari
gejala yang ada, akibat volume yang makin banyak ini adalah adanya pemadatan lalu lintas dengan timbulnya pusat kegiatan
perdagangan di Kawasan Sawangan. Namun demikian, pemadatan ini bukan hanya
karena pertambahan volume pemakai. Penyebab lain diantaranya :
§ Banyak
kegiatan yang menyita lebar jalan (parker di jalan dan lain sebagainya).
§ Bercampurnya
penggunaan jalur untuk semua jenis kendaraan tanpa adanya pembagian.
3. Fasilitas
Jalan
Makin ramainya jalan harus diimbangi dengan
kelengkapan fasilitas jalan seperti : Halte, Rambu-rambu lalu lintas dan
lain-lain. Tetapi kondisi yang sekarang ada, fasilitas –fasillitas seperti itu
relative kurang. Terlebih lagi justru banyak fasilitas-fasilitas ini tidak
berfungsi sebagaimana mestinya. Angkutan kota
(bus dan minibus) tidak selalu berhenti pada tempat yang ditentukan. Dari sudut
ini, maka dapat pula diambil sebagi faktor penyebab gangguan lalu lintas.
Dengan demikian, kelengkapan fasilitas jalan dan polisi yang tepat akan ikut
menunjang dalam mengurangi problem lalu lintas jalan.
d. Daerah
Jalur hijau
Perkembangan fungsi kegiatan akan
mengarah pada pemadatan lahan dengan menggunakan perkerasan. Gejala ini jelas
akan menyebabkan semakin berkurangnya daerah atau lahan terbuka untuk vegetasi.
Dalm hal ini (tinjauan jalan) vegetasi itu tidak hanya yang ada dipekarangan,
tapi juga yang ada di jalur hijau tepian jalan. Jalur ini sangat perlu karena
jalur hijau berguna sekali untuk mendukung lingkungan jalan.
1. Manfaat
Jalur Hijau
Jalur hijau dilingkungan Kawasan
Sawangan berfungsii sebagai : Peneduh, penahan debu, pengarah jalan, pembatas
dan lain-lain. Untuk daerah –daerah yang sudah ada jalur pembagian jalanya,
jalur hijau ini sangat berguna, yaitu sebagi pemisah antara jalur satu dengan
lainya sekaligus sebagi unsur hiasan jalan.
2. Kondisi
Jalur Hijau
Unsur pengaturan fisik rasanya sangatlah
perlu untuk menjadi pengendali dimana orang tidak memungkinkan untuk melakukan
kegiatan yang seharusnya tidak dilakukan di jalur hijau. Sebab, bila
kecenderungan itu berjalan terus akan semakin rusaklah keadaan jalur hijau
tersebut.
Kebiasaan yang tejadi pada kawasan pusat
perbelanjaan dan terminal bahwa jalur hijau dipakai : Parkir mobil dan tempat
berjualan para pedagang kaki lima
(PKL). Dengan demikian, jelaslah bahwa penyimpangan penggunaan akan menyebabkan
terjadinya kerusakan daerah jalur hijau yang sesungguhnya sangat diperlukan
untuk kelengkapan system transportasi jalan raya.
3.2.5.
Tinjauan
Non Fisik
Perkembangan ini menyangkut tata, perilaku
dan latar belakang hidup masyarakat sekitar Kawasan sawangan. Sebab
perkembangan itu tentu akan mempengaruhi eksistensi manusia sebagai makhluk
individu sosial. Perkembangan ini mengarah pada bentuk masyarakt urban. Masyarakat yang mata
pencahariannya bukan lagi agraris, melainkan memberikan jasa pada orang lain.
Dengan begitu, maka masyarakt ini sangat menekankan pada efisiensi dan
efektivitas kerjanya.
Bagi masyarak urban tidak ada waktu yang berulang (lain dengan rural yang mengenal sistem tanam
berkala). Sebab itulah perkembangan itu membawa kecenderungan pada nilai-nilai
tradisional kedalam nilai yang lebih modern.
Apalagi didukung pada perkembangan menjadi
daerah perdagangan, gejala ini akan semakin teras. Dimana setiap kerja sama/interaksi
satu dengan lainya adalah diperhitungkan sebagai suatu jasa. Dengan demikian
tampaknya kecenderungan perkembangan daerah sekitar Kawasan Sawangan akan
membawa perubahan-perubahan pada tata cara kehidupan tradisional kepada tat
cara kehidupan urban.
a. Sosial
Budaya Masyarakat Sekitar Kawasan Sawangan
Perkembangan daerah sekitar Kawasan
Sawangan yang cenderung mengarah pada bentuk - bentuk kegiatan komunikatif,
berpengaruh sekali terhadap perilaku sosial budaya masyarakat.
Bila kita tinjau lebih lanjut, hal ini
akan menjadi tantangan yang baru bagi usaha menetapkan Kawasan Sawangan sebagai
pusat kegiatan perdagangan dan tranportasi.
Satu sisi, rencana menetapkan Kawasan
Sawangan sebagai pusat perdagangan dan tranportasi dimana nilai fisik dan juga
nilai non fisik masyarakat (khususnya Kabupaten Wonosobo) tetap dilestarikan.
Dengan gejala perkembangan, bentuk
masyarakatnya mengarah pada bentuk kehidupan konsumtif. Dimana nilai uang
menjadi ukuran terhadap suatu kerja. Bentuk kehidupan gotong royong,
silaturahmi dan lain-lain jangan sampai hilang / pudar. Hal ini yang akan
membuktikan bahwa maasyarakat berpegang teguh pada nilai-nilai budaya
tradisional dan tidak cenderung pada bentuk kehidupan yang lebih mengutamakan
individu.
Dengan demikian tampaknya menjadi satu
hal penting dalam upaya mengkordinasikan dengan usaha menjadikan Kawasan
Sawangan sebagai pusat perdagangan dan transportasi. Dilihat dari gejala
perkembangan daerah sekitar Kawasan Sawangan merupakan gejala perkembangan yang
konstan.
Perkembangan itu berjalan terus, dan
perkembangan itu membawa pengaruh pada perubahan kehidupan sosial
masyarakatnya. Dengan demikian satu alternatif aalah menciptakan citra Kawasan
Sawangan sebagai pusat perdagangan dan transportasi, dimana nilai-nilai
tradisional sejauh mungkin bisa dipertahankan untuk mengimbangi perubahan - perubahan
sekitarnya.
b. Ekonomi
Masyarakat Sekitar Kawasan Sawangan
Seperti
telah dijelaskan didepan bahwa ekonomi masyarakat sekitar Kawasan
Sawangan adalah bermacam - macam dilihat dari golongan ekonomi lemah dan
sedang. Pada daerah tepi lingkungan jalan kebanyakan adalah golongan ekonomi
menengah dan atas.
Kebanyakan dari pemakai Kawasan Sawangan
adalah masyarakat rural, tentunya
bahwa mereka sebenarnya bukanlah dari masyarakat urban. Maka walaupun mereka berada pada daerah yang berkarakter rural, apa yang dibutuhkan dan dapat
dijangkau adalah seperti apa yang ada di daerah dimana dia berasal.
Motivasi tersebut menjadi stimultan,
munculnya para pedagang / penjual jasa yang melayani orang-orang tersebut.
Pelayanan akan apa yang dibutuhkan seperti didaerah asalnya dan jangkauan harga
/ upah yang relatif rendah. Kebanyakan dari penjual jasa itu adalah pedagang
kaki lima.
Dengan demikian, gejala perkembangan urban akan mengikat terhadap masyarakat
sekkitar, apa yang dia butuhkan akan hidupnya sebagai pendatang dari daerah
belakang ( rural ).
3.3.6.
Kawasan Sawangan sebagai Pusat Kegiatan
pendukung Kota
Bila kita lihat pengertian Kawasan Sawangan
sebagai calon/embrio pusat kota
dari beberapa kondisi adalah sebagai berikut :
a. Kawasan
Sawangan dilihat dari segi Sosial
Dimana di Kawasan Sawangan terdapat
berbagai macam bentuk kehidupan sosial (yang heterogen). Tinjauan terhadap
perilaku sosial adalah tinjauan terhadap masyarakat calon pemakai Kawasan
Sawangan.
Satu hal yang penting bahwa Kawasan Sawangan adalah suatu
bentuk heterogenitas. Heterogen yang dimaksud adalah :
1. Heterogen
dalam Derajat Ekonominya.
2. Heterogen
dalam Kesukaannya.
3. Heterogen
dalam Komposisi.
4. Heterogen
dalam Kualitas.
5. Heterogen
dalam Lapangan Kerja.
6. Dan
Lain-lain.
Sifat yang heterogen ini tentu akan menunjukan perbedaan
- perbedaan dalam perilaku dan tuntutan dalm kehidupan sosialnya.
b. Kawasan
Sawangan dilihat dari Segi Ekonomi
Kawasan Sawangan adalah pusat dari
aktifitas ekonomi. Di dalamnya terdapat berbagai macam potensi yang berhubungan
dengan masalah ekonomi, misalnya perdagangan, perbelanjaan, pekerjaan dan lain-lain.
Kegiatan ekonomi, sebagai salah satu
sektor kehidupan yang ada di Kawasan Sawangan, menjadi faktor yang sangat
penting dalam menunjang Kawasan Sawangan sebagai pusat kegiatan kota. Sebab dalam
kehidupan manusia memerlukan barang-baarang untuk kebutuhan hidupnya.
Keberadan fasilitas perdagangan di
Kawasan Sawangan juga menjadi sebab tumbuhnya lapangan kerja yang tentunya
berguna bagi sebagian pemakai Kawasan sawangan.
c. Kawasan
Sawangan dilihat dari Segi Fisik
Dilingkungan Kawasan Sawangan terdapat berbagai
sarana dan prasarana yang cukup dan dapat berkembang, baik dari segi kualitas
maupun kuantitas.
Adanya Terminal di Kawasan Sawangan
merupakan ciri dari suatu pusat pertumbuhan. Demikian juga jalan-jalan dan
fasilitasnya menunjang Kawasan Sawangan sebagi embrio pusat kota, terlebih lagi bahwa banyak jalan yang
menuju langsung ke Kawasan Sawangan.
Bila dilihat secara umum, pada dasarnya
Kawasan Sawangan terbentuk dari suatu bentuk segitiga, dimana titik-titik
sudutnya merupakan titik magnit utama kota.
Titik-titik magnit utama kota itu adalah :
1. Pintu
masuk dari Kabupaten Banjarnegara.
2. Pintu
masuk dari Kabupaten kebumen.
3. Pintu
masuk dari pusat kota
Wonosobo.
Didalam segitiga tersebut, juga ditambah
dengan satu titik magnit, yaitu jalan tembus dari Kecamatan Leksono yang
merupakan pusat SWP IV. Embrio pusat kota
yang berbentuk segitiga tersebut, intensitas maupun frekuensinya sudah cukup
padat. Sehingga kawasan itu telah mencapai kondisi siap dikembangkan.
3.3.7.
Kawasan Sawangan Sebagai Daerah Interaksi Antar Kota Dengan Perbatasan.
Jalur penghubung yang penting antara kota Wonosobo denngan
Wilayah Perbatasan adalah Jalur koridor Aktif. Jalur koridor aktif tesebut jadi
sangat penting karena pusat-pusat kegiatan utama kota banyak terdapat di Jalur Koridor Aktif
tersebut.
Fasilitas-fasilitas ini menjadi kondisi yang
menyebabkan arus lalu lintas manusia mengalir ke daerah ini. Lebih-lebih pada
hari-hari tertentu (Minggu). Arus pengunjung diharapkan banyak ke kawasan
Sawangan.
3.3.8.
Kawasan Sawangan Sebagai Ciri Kawasan Perbatasan.
Kawasan Sawangan, secara keseluruhan terletak
di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, adanya rencana pusat
perdagangan dan terminal, mempunyai kedudukan yang sangat istimewa, baik secara
strategi perkotaan maupun bagi masyarakat / warga sekitarnya. Kedudukan ini
disebabkan Kawasan Sawangan telah menjadi multi fungsi yang beragam.
Fungsi-fungsi yang beragam itu dapat dirinci sebagai berikut :
a. Kawasan
Sawangan sebagai Pusat Pertumbuhan.
Seperti kita ketahui bahwa kawasan
Sawangan merupakan lokasi berciri pusat pertumbuhan. Unsur ini sangat penting
bagi suatu lingkungan, karena pusat pertumbuhan ini akan menggantikan
pusat-pusat kota
yang sudah ada.
b.Kawasan
Sawangan sebagai sub Terminal.
Pada faktanya di Kawasan Sawangan pada
hari-hari biasa atau hari-hari penting lainya menjadi pusat pergantian
tranportasi baik lokal maupun regional, disamping Kawasan Sawangan menjadi
alternatif utama sebagi tempat pemberangkatan bus AKAP. Sehingga dalm hal ini
Kawasan Sawangan menempati posisinya sebagai sub terminal yang mempunyai
prospek baik.
3.3.9.
Kawasan Sawangan sebagi pusat penyangga ekonomi kabupaten Wonosobo.
Seperti yang tertuang dalam RTRW
Kabupaten Wonosobo, menetapkan Kawasan Sawangan sebagi daerah pusat pertumbuhan
SWP IV. Dari kondisi yang ada seperti yang dijelaskan didepan, tampaknya
Kawasan Sawangan cenderung menjadi pusat pertumbuhan yang bentuknya pusat
perdagangan, karena sebagian dari kegiatanya adalh kegiatan rekreatif. Bila
kita perhatikan, maka Kawasan Sawangan mempunyai 2 rung kegiatan :
a. Rung
kegiatan perdagangan / perbelanjaan.
Ruang kegiatan ini adalah bagian-bagian orang yang memang
betul-betul berbelanja atau sekedar rekreasi. Ruang kegiatan ini meliputi pasar
konvensional dan sebaginya, dimana kegiatanya adalah kegiatan komersial.
b. Ruang
Kegiatan Terminal
Ruang kegiatan ini adalah tempat dimana dilangsungkan
kegiatan penurunan dan pemberangkatan penumpang.
Dari
kedua pembagian ruang kegiatan ini tampaknya bahwa ada semacam kegiatan Pusat
pertumbuhan yang sifatnya khas yaitu penyangga ekonomi suatu kawasan.
3.3.10.
Daerah Asal Pemakai Kawasan Sawangan.
Kebanyakan dari pemakai Kawasan Sawangan
adalah mereka yang berasal daari SWP IV dan Kabupaten Banjarnegara. Mereka yang
datang ke Kawasan Sawangan dalam rangka mencari kegiatan perdagangan, terminal
dan rekreasi. Pengaruh urban (kota),
sedikit banyak menambah atau mempengaruhi cara hidup dan tuntutan hidup. Satu
diantaranya adalah kebutuhan akan rekreasi/hiburan.
Pengaruh adat dan kebiasaan di lingkungan
rural (perdesaan), tampaknya tidak dapat di hilangkan walupun mereka sudah bersifat
perkotaan. Pengaruh itu adalah menyangkut masalah fasilitas atau sarana yang
diperlukan seperti yang didapatkan di daerah rural. Misalnya dengan cara
berekreasi, terlihat adanya usaha membawa semua kerabat yang datang. Mereka
sekeluarga berbondong-bondong datang ke kawasan Sawangan, berbelanja, rekreasi
dan lain sebagainya.
3.3.11.
Tinjauna Fisik
a. Tata
Guna Lahan
Bahwa tata guna lahan untuk Sawangan Pasar
Buah nantinya merupakan alih fungsi dari lahan bengkok Desa Sawangan yang
berupa lahan pertanian serta lahan kegiatan terminal dan pasar hewan yang pada
akhirnya nanti digunakan untuk berbagai macam kegiatan lainya. Pemanfaatan ini
cenderung pasti dan tidak bisa dirubah. Tetapi dari segi pemanfaatan fungsi
bangunan, bisa menjadi bertambah (fungsi ganda).
Tata guna lahan tersebut ternyata
memberi pengaruh terhadap penggunaan lahan lainya di kawasan Sawangan yang
diprediksi terjadi penyimpangan dari fungsi pertama. Pengaruh dan penyimpangan
itu antar lain untuk penggunaan jalur tranportasi. Peruntukan pertama untuk
jalur pejalan kaki, tetapi dalam perkembanganya terjadi penyimpangan pengguna
untuk pedagang Kaki Lima (PKL). Apabila penyimpangan ini ternyata berkembang
dan penyimpangan ini dibiarkan. Tentu akan menjadi persoalan yang tidak mudah
penanganannya, apabila tidak sedini mungkin penyimpangan ini diarahkan.
Dengan demikian jelaslah bahwa
perkembangan itu mengarah pada penyimpangan peruntukan lahan. Untuk melakukan
tindakan pencegahan, rasanya sulit sebab sifatnya yang kompleks menyangkut
masyarakt banyak. Satu alternatif yang bisa di lakukan adalah usaha
pengendalian untuk mengarahkan terhadap gejala perkembangan yang terjadi di
Kawasan sawangan, dalam hal ini pengendalian terhadap penggunaan lahan.
b. Macam
dan Fungsi Bangunan.
Dalam rencana ini dijelaskan mengenai
macam dan fungsi bangunan yaitu :
1. Sub
Terminal : berfungsi sebagi tempat pergantian moda tranportasi bagi pengunjung
yang datang dan meninggalkan Kawasan
Sawangan Aggricultural
Trade Center.
2. Pasar
Buah : berfungsi sebagai tempat pusat perdagangan hasil bumi berupa buah-buahan
dari kawasan Agropolitan Rojonoto.
3. Bangunan
Pendukung lainya : berfungsi sebagai
bangunan pendukung kegiatan lainya pada Pasar buah Sawangan.
Dalam perencanaan fungsi bangunan-bangunan tersebut
saling berinteraksi / integrasi, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
§ Integrasi
fungsi – fungsi bangunan
Dalam lingkungan kawasan
Sawangan, antara fungsi bangunan satu dengan lainya adalah saling berkaitan
mendukung. Misalnya antaara funsi perdagangan (dalm hal ini pasar konvensional)
dan fungsi terminal serta bangunan pendukung lainya adalah merupakan fungsi
yang saling mendukung. Satu pihak orang dapat bebas berekreasi belanja tanpa
kuatir harus terlambat melanjutkan perjalanan karena sudah ada fasilitas di
dekatnya.
§ Gejala
Perubahan Fungsi
Dalam rencana ini dijelaskan bahwa ada
perubahan fungsi sebagai fungsi bangunan antara lain : Pasar Buah sebagi pusat
perdagangan, tetapi dalm perkembanganya, dari perdagangan ke pameran dan
sebagainya.
c. Transportasi
Gejala perkembangan yang diprediksi
paling terasa pada lingkungan Kawasan Sawangan adalah pada sektor transportasi.
Kelancaran sistem transportasi akan memberikan pengaruh kelancaran pada
sistem-sistem yang lain. Kelancaran sistem transportasi tersebut menyangkut :
1. Sistem
pembagian jalan kendaraan.
2. Keseimbangan
antaara kuantitas kendaraan / pejalan kaki dengan lebar jalan.
3. Rambu-rambu
lalu lintas dan kesadaran masyarakat.
4. Sistem
parkir.
d. Penghijauan
Fungsi penghijaun, seperti dibahas
dimuka adalh berfungsi peneduh, pengarah, pembatas dan menetralisir polusi dari
kendaraan yang ada.
Dalam rencana telah dijelaskan mengenai
macam jalur hijau di Kawasan Sawangan sebagai Pasar Buah adalah :
1. Macam
Vegetasi
Dalam rencana ini dijelaskan macam
vegetasi yang digunakan : rumput, pohon Palm, Pohon Cemara dan lain sebagainya.
2. Vegetasi
sebagi Unsur Peneduh
Kondisi vegetasi Kawasan Sawangan sebagi
peneduh, lebih banyak difungsikan. Hal ini karena macam tumbuhannya yang memang
jenis rindang.
3. Vegetasi
sebagai Unsur pengarah
Fungsi vegetasi sebagai unsur pengarah
misalnya pohon palm atau cemara. Hal ini disebabkan karena kondisinya yang
tinggi dan lurus.
4. Vegetasi
sebagai Unsur Pembatas
Fungsi ini yang dimaksud adalah pembatas
antara jalur cepat dengan jalur lambat. Vegetasi jenis ini direncanakan guna
memberi kesan sebagi pembatas.
5. Vegetasi
sebagai Unsur Menetralisir Polusi Udara
Keberadaan vegetasi jenis ini sebagai
unsur penetral polusi udara. Semakin rindang maka banyak unsur oksigen yang
dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat untuk menetralisir polusi udara
yang terjadi di sekitar kawasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar