Jumat, 21 Desember 2012

Makalah Pancasila


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul, mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan, bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi, di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. Desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Tujuan utama adalah untuk mengembangkan prosedur kebijakan sekolah, memecahkan masalah-masalah umum, memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi, juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat, ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat, hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat, sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan, kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi, keduanya saling membutuhkan, Masyarakat adalah pemilik sekolah, sekolah ada karena masyarakat memerlukannya.
  1. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian yang telah pemakalah kemukakan di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.      Apa pengertian Manajemen Pendidikan Formal?
2.      Isu – isu manajemen pendidikan formal di lembaga Pendidikan Ma’arif?
BAB I
PENGERTIAN MANAJEMEN
PENDIDIKAN FORMAL
Dalam ilmu-ilmu sosial, bukanlah merupakan hal yang aneh bila kita menjumpai beberapa definisi mengenai suatu konsep. Hal ini juga berlaku bagi definisi manajemen. Seperti juga istilah lain dalam ilmu sosial, ada lebih dari satu definisi me-ngenai manajemen.
Salah satu definisi manajemen sebagaimana dicatat Encyclopedia Americana berbunyi " the art of coordinating the ele-ments of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization". Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui penggunaan manusia (men), bahan produksi (materials) dan mesin ( machines )
Namun demikian, benang merah pengertian manajemen adalah bahwa manajemen merupakan proses koordinasi berbagai sumberdaya organisasi (men, ma-terials, machines) dalam upaya mencapai sasaran organisasi.Koordinasi menjadi isu penting karena pencapaian sasaran organisasi harus dilakukan secara efisien. Efisiensilah yang memicu berkembangnya manajemen se-bagai suatu disiplin ilmu yang terpisah dari disiplin ilmu lainnya. Efisiensi merupakan the gospel of scientific management. Perkembangan manajemen kontemporer meng-haruskan manajemen untuk dapat memenuhi harapan berbagai pihak (stake-holders) yang mempunyai kepentingan organisasi. Walaupun manajemen pertama kali dikaitkan dengan usaha bisnis, pandangan kontemporer menyatakan validitas manajemen bagi usaha non bisnis. Manajemen diperlukan bukan hany2a bagi usaha yang mengejar laba (bisnis) namun juga bagi usa-ha nirlaba (seperti sekolah) sejauh usaha tersebut mempunyai sasaran.
Dalam arti luas, pendidikan adalah setiap proses di mana seseorang memperoleh pengetahuan (knowledge acqui-sition), mengembangkan kemampuan/keterampilan (skills developments) sikap atau mengubah sikap (attitute change). Pendidikan adalah suatu proses trans-formasi anak didik agar mencapai hal _hal tertentu sebagai akibat proses pendidikan yang diikutinya.
Pendidikan mempunyai fungsi sosial and individual. Fungsi sosialnya adalah untuk membantu setiap individu menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif dengan memberikan pengalaman kolektif masa lampau dan kini. Fungsi individualnya adalah untuk memungkinkan seorang menempuh hidup yang lebih memuaskan dan lebih produktif dengan menyiapkannya untuk menghadapi masa depan (pengalaman baru). Proses pendidikan dapat berlangsung secara formal seperti yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan. Ia juga berlangsung secara informal lewat berbagai kontak dengan media komunikasi seperti buku, surat kabar, majalah, TV, radio dan sebagainya.  Suatu sistem pendidikan bukan hanya terdiri dari lembaga pendidikan (sekolah, perguruan tinggi), tetapi juga meliputi per-pustakaan, museum, penerbit, dan berbagai agen yang melakukan transmisi pengetahuan dan keterampilan.Manajenen Pendidikan, walaupun awalnya manajemen diperlukan bagi organisasi bisnis, dalam per-kembangnya manajemen juga diperlukan dalam upaya upaya nir laba seperti sekolah, lembaga keagamaan, dan sebagainya. Saat ini literatur mengenai manajemen untuk organisasi nirlaba cukup banyak tersedia. Bahkan pada beberapa sekolah bisnis ada matkuliah bahkan spesialisasi dalam manajemen organisasi nirlaba. [1]
Dalam pendidikan, seorang manajer pendidikan mempunyai tugas mengkoor-dinasikan berbagai sumber daya yang dipunyainya seperti guru, sarana dan prasarana sekolah (perpustakaan, laboratorium, dsb.) untuk mencapai sasaran dari lembaga pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya      
Berdasarkan observasi, dapat dihipotesakan bahwa kualitas manajemen ter-baik berada dalam sektor bisnis. Mana- jemen non bisnis masih jauh dari baik. Dalam hal ini manajemen sekolah/ pendidikan, saya berpendapat secara umum bahwa hal ini masih jauh dari baik. Sekolah yang menyelenggarakan manajemen pendidikan yang baik mungkin dapat dihitung dengan jari.
Pendidikan dapat belajar banyak dari para praktisi manajemen (manajer) di dunia bisnis. Para manajer bisnis dapat mentransfer kemampuannya untuk mem-perbaiki manajemen pendidikan. [1] 



[1] .Prof. Dr. Sutrisna Hadi, Metodologi Research, Yayasan Penerbit, UGM Yogyakarta: 1987, hal 35.

BAB II
ISU- ISU MANAJEMEN PENDIDIKAN FORMAL
DI LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF

  1. Sasaran Pendidikan: Aspek afektif
Yang menjadi isu umum bagi sekolah-sekolah adalah tidak adanya upaya sungguh-sungguh untuk mengukur sasaran afektif. Dari seorang anak yang masuk sekolah, perubahan afektif apakah yang diharapkan terjadi. Apakah sang anak didik akan menjadi lebih saleh, lebih berbudi pekerti, memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan? Maraknya tawuran, konsumsi narkoba dan jual beli ujian di sekolah termasuk di Lembaga Pendidikan Ma’arif membuktikan bahwa sasaran afektif masih banyak dilupakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Perilaku dan sikap anak di berbagai lembaga pendidikan Ma’arif amat mungkin tidaklah berbeda signifikan dengan mereka yang bersekolah di sekolah non agama. Kalau demikian, di manakah beda sekolah berbasis agama?
Banyak sekolah berbasis agama Islam, Katolik, maupun Kristen yang berhasil menempatkan anak didiknya dalam posisi terhomat dari segi skolastik, namun, di balik sukses ini justru terjadi kegagalan besar dalam membentuk anak sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kepedulian besar terhadap orang lain, masyarakat sekitar dan isu-isu sosial yang berkembang dalam masyarakat. Kita hanya berhasil mencetak manusia cerdas yang berhati dingin.
Hal ini disebabkan karena tidak adanya sasaran afektif yang dijabarkan secara nyata.
  1. Manajemen Guru.
Sebagai salah satu sumber daya terpenting pendidikan, guru merupakan sumber daya yang undermanaged atau bahkan mismanaged. Pimpinan pendidikan maupun yayasan penyelenggara pendidikan masih melihat guru sebagai faktor produksi belaka. Manajemen guru meliputi proses seleksi dan rekrutmen guru dengan kriteria objektif dan relevan, proses pengembangan kemampuan guru sebagai tenaga pengajar dan proses motivasi guru agar dapat mempunyai komitmen tinggi.
Parahnya guru diperlakukan dapat kita ketahui di berbagai media masa. Mulai dari gaji yang tidak cukup untuk hidup layak sampai tidak adanya jaminan kesehatan apalagi jaminan hari tua. Tidak sedikit guru yang kemudian bekerja sambilan sebagai tukang ojek. Tidaklah juga mengherankan kalau ada di antara mereka yang melakukan tindakan tidak terpuji seperti menjual soal ujian dan sebagainya. Pihak penyelenggara pendidikan lebih mementingkan surplus sekolah ketimbang meningkatkan kesejahteraan guru. Padahal pendidikan dan keberhasilan sekolah mencapai sasaran amat ditentukan oleh guru. Bukankah ada pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari"?
 Mengenai pentingnya peran guru dalam suatu masyarakat mungkin kita bisa belajar dari legenda berikut:. Konon kabarnya di suatu negeri antah berantah timbul perang antarkerajaan. Ketika dilapori mengenai banyaknya korban akibat perang konon sang kaisar bertanya "Berapakah guru yang meninggal akibat perang" dan bukan berapa serdadu yang meninggal dalam perang. Himne guru menyebutkan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa memang tepat. Tidaklah heran kalau profesi guru bukanlah merupakan profesi yang amat diminati oleh anak-anak kita. Tidak ada yang dapat mengangkat dada dan berkata "Saya adalah seorang guru".
  1. Peningkatan Pengawasan
Dari berbagai fungsi manajemen, mungkin fungsi pengawasan merupakan titik terlemah. Berdasarkan pengalaman penulis, intensitas fungsi kontrol yang amat nyata dalam organisasi bisnis, merupakan titik lemah (Achilles' heel) banyak lembaga pendidikan kita. Hampir tidak ada upaya untuk menganalisis misalnya mengapa NEM terus merosot dari tahun ke tahun, mengapa jumlah siswa merosot padahal uang sekolah sudah murah.
 Kalau toh ada kegiatan pengawasan, hal tersebut lebih difokuskan kepada absensi guru dan murid. Walaupun ini penting, namun ada banyak aspek pendidikan yang berkaitan dengan pencapaian sasaran yang luput dari pengawasan. Demikian juga follow up berbagai rencana sekolah.
  1. Manajer Pendidikan
Dunia pendidikan kita masih kurang memiliki manajer-manajer pendidikan yang handal. Manajemen pendidikan yang baik harus dikelola oleh para manajer sebagaimana laiknya organisasi bisnis. Sulit sekali berbicara mengenai manajemen pendidikan tanpa menyentuh isu manajer pendidikan. Para pengelola pendidikan haruslah terdiri dari manajer pendidikan dan bukan sekedar guru. Tugas pengelola pendidikan dan guru jelas berbeda.
Yang terjadi selama ini adalah promosi seorang guru yang baik menjadi manajer pendidikan (kepala sekolah) tanpa melewati persiapan memadai seperti pelatihan dan penyiapan mind set baru. Tidaklah heran, banyak guru baik yang lalu menjadi kepala sekolah (manajer pendidikan) mediocare sesuai prinsip Peter (Peter Principle).
Prinsip Peter menyatakan bahwa seorang dipromosikan mencapai tingkatan inkom-petensinya. Tidak banyak penyelenggara pendidikan (yayasan) yang sadar akan hal ini dan mengirimkan para manajer pendidikan mereka untuk belajar manajemen pendidikan.
Kerberhasilan penyelenggara pendidikan amat ditentukan oleh tersedianya manajer-manajer pendidikan handal. Isu ini menjadi lebih relevan mengingat persaingan dalam setiap jenjang dunia pendidikan kita makin intens. Tanpa manajemen dan manajer handal, akan banyak lembaga pendidikan yang gulung tikar karena tidak berhasil memuaskan para stakeholders.
  1. Aliansi Antar sekolah
Walaupun secara umum good management practice masih elusif di Lembaga Pendidikan Ma’arif kita masih belum baik, namun tidak dapat kita sangkal ada lembaga-lembaga pendidikan yang sudah menerapkan manajemen pendidikan dengan cukup baik. Lewat koordinasi asosiasi lembaga pendidikan (seperti MDPK/MPPK), suatu lembaga pendidikan dapat belajar dari good management practice lembaga pendidikan lain. Lewat proses benchmarking, suatu lembaga dapat belajar dari pengalaman lembaga lain.
  1. Partisipasi Manajer Bisnis
Isu terakhir adalah bagaimana penyelenggara pendidikan memanfaatkan keterampilan menajerial para manajer bisnis. Pengalaman di manca negara membuktikan keefektifan pendekatan ini. Karena fungsi manajemen bersifat universal dan keterampilan manajemen dapat ditransfer dari satu bidang ke bidang lain, maka jalan pintas yang dapat diambil, sambil menyiapkan manajer pendidikan, adalah memanfaatkan tenaga manajer bisnis yang tersedia.
Kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai sekolah bisnis di Amerika Serikat yang merekrut para manajer bisnis yang ternyata berhasil meningkatkan kinerja sekolah bisnis. Saya kira para manajer bisnis akan dengan senang hati dapat memberikan kontribusi mereka setidaknya secara paruh waktu untuk meningkatkan manajemen pendidikan di berbagai lembaga pendidikan.
2



2 . Sandra A. Howard (1999) Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom.
BAB III
PEMECAHAN MASALAH ISU- ISU MANAJEMEN PENDIDIKAN FORMAL
DI LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF

  1. Sasaran Pendidikan: Aspek afektif
Dengan membentuk sasaran pendidikan yang efektif melalui komitmen antara seluruh stakeholder yang ada dilingkungan pendidikan lembaga Ma’arif
  1. Manajemen Guru.
Diperlukan adanya pelatihan dan pengawasan guru yang dilakukan secara kontinyu demi terciptanya sumber daya guru yang mampu memanajemen dengan baik.
  1. Peningkatan Pengawasan
Melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap segala sesuatu yang masuk kedalam kegiatan pendidikan.Pengawasan sendiri dapat dilakukan oleh pemerintah, warga, aktifis  pendidikan dll.
  1. Manajer Pendidikan
Mengkombinasikan antara manajemen dan pendidikan dengan maksimal.Pendidikan layaknya memiliki manajer yang mampu memanajemen pendidikan agar berjalan dan mampu meningkatkan mutu pendidikan secara signifikan.
  1. Aliansi Antar sekolah
Antara lembaga pendidikan Ma’arif hendaknya saling berkoordinasi baik ditingkat RA, MI, MTs maupun MA.Semua saling berbagi informasi dan manajemen agar bisa meningkatkan kinerja Madrasah.
  1. Partisipasi Manajer Bisnis
Penyelenggara pendidikan memanfaatkan keterampilan menajerial para manajer bisnis. Karena fungsi manajemen bersifat universal dan keterampilan manajemen dapat ditransfer dari satu bidang ke bidang lain, maka jalan pintas yang dapat diambil, sambil menyiapkan manajer pendidikan, adalah memanfaatkan tenaga manajer bisnis yang tersedia
BAB IV
PENUTUP
Mengubah manajemen merupakan suatu proses yang panjang dan melibatkan seluruh komponen yang bersangkutan dan banyak pihak. Perubahan ini memerlukan penyesuaian-penyesuaian, baik sistem strukturnya, kulturnya, maupun figurnya, dengan tuntutan-tuntutan baru. Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan sekolah, dalam pernyusunan program, sekolah harus menetapkan indikator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi program yang telah direncanakan sesuai dengan pendanaannya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang dicapai serta melaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah pada umumnya. Oleh karena itu, kita tidak bermimpi bahwa perubahan ini akan berlangsung sekali jadi dan baik hasilnya. Dengan demikian, fleksibiltas dan eksperimentasi-eksperimentasi yang menghasilkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam penyelenggaraan manajemen perlu didorong.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 200. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif; Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah
Sandra A. Howard (1999) Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom.
Yadi Haryadi (tt). Team Work. (Bahan Presentasi Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar