BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Sekolah
adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan
output yang unggul, mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan,
bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi, di mana terdapat sejumlah orang
yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai
tujuan instruksional. Desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim
administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam
rangka mencapai tujuan organisasi.
Tujuan utama adalah untuk
mengembangkan prosedur kebijakan sekolah, memecahkan masalah-masalah umum,
memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Sehingga
sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi, juga
dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Oleh karena itu perlu diketahui
pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan
kita. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat, ia bukan merupakan
lembaga yang terpisah dari masyarakat, hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah
bergantung pada masyarakat, sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk
melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan, kemajuan sekolah
dan masyarkat saling berkolerasi, keduanya saling membutuhkan, Masyarakat
adalah pemilik sekolah, sekolah ada karena masyarakat memerlukannya.
- RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian yang telah pemakalah kemukakan
di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah
ini adalah:
1. Apa pengertian Manajemen Pendidikan
Formal?
2. Isu – isu manajemen pendidikan
formal di lembaga Pendidikan Ma’arif?
BAB I
PENGERTIAN
MANAJEMEN
PENDIDIKAN
FORMAL
Dalam
ilmu-ilmu sosial, bukanlah merupakan hal yang aneh bila kita menjumpai beberapa
definisi mengenai suatu konsep. Hal ini juga berlaku bagi definisi manajemen.
Seperti juga istilah lain dalam ilmu sosial, ada lebih dari satu definisi
me-ngenai manajemen.
Salah satu definisi manajemen sebagaimana dicatat Encyclopedia Americana berbunyi " the art of coordinating the ele-ments of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization". Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui penggunaan manusia (men), bahan produksi (materials) dan mesin ( machines )
Salah satu definisi manajemen sebagaimana dicatat Encyclopedia Americana berbunyi " the art of coordinating the ele-ments of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization". Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui penggunaan manusia (men), bahan produksi (materials) dan mesin ( machines )
Namun
demikian, benang merah pengertian manajemen adalah bahwa manajemen merupakan
proses koordinasi berbagai sumberdaya organisasi (men, ma-terials, machines)
dalam upaya mencapai sasaran organisasi.Koordinasi menjadi isu penting karena
pencapaian sasaran organisasi harus dilakukan secara efisien. Efisiensilah yang
memicu berkembangnya manajemen se-bagai suatu disiplin ilmu yang terpisah dari
disiplin ilmu lainnya. Efisiensi merupakan the gospel of scientific management.
Perkembangan manajemen kontemporer meng-haruskan manajemen untuk dapat memenuhi
harapan berbagai pihak (stake-holders) yang mempunyai kepentingan organisasi. Walaupun
manajemen pertama kali dikaitkan dengan usaha bisnis, pandangan kontemporer
menyatakan validitas manajemen bagi usaha non bisnis. Manajemen diperlukan
bukan hany2a bagi usaha yang mengejar laba (bisnis) namun juga bagi usa-ha
nirlaba (seperti sekolah) sejauh usaha tersebut mempunyai sasaran.
Dalam
arti luas, pendidikan adalah setiap proses di mana seseorang memperoleh
pengetahuan (knowledge acqui-sition), mengembangkan kemampuan/keterampilan
(skills developments) sikap atau mengubah sikap (attitute change). Pendidikan
adalah suatu proses trans-formasi anak didik agar mencapai hal _hal tertentu
sebagai akibat proses pendidikan yang diikutinya.
Pendidikan
mempunyai fungsi sosial and individual. Fungsi sosialnya adalah untuk membantu
setiap individu menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif dengan memberikan
pengalaman kolektif masa lampau dan kini. Fungsi individualnya adalah untuk
memungkinkan seorang menempuh hidup yang lebih memuaskan dan lebih produktif
dengan menyiapkannya untuk menghadapi masa depan (pengalaman baru). Proses
pendidikan dapat berlangsung secara formal seperti yang terjadi di berbagai
lembaga pendidikan. Ia juga berlangsung secara informal lewat berbagai kontak
dengan media komunikasi seperti buku, surat kabar, majalah, TV, radio dan
sebagainya. Suatu sistem pendidikan
bukan hanya terdiri dari lembaga pendidikan (sekolah, perguruan tinggi), tetapi
juga meliputi per-pustakaan, museum, penerbit, dan berbagai agen yang melakukan
transmisi pengetahuan dan keterampilan.Manajenen Pendidikan, walaupun awalnya
manajemen diperlukan bagi organisasi bisnis, dalam per-kembangnya manajemen juga
diperlukan dalam upaya upaya nir laba seperti sekolah, lembaga keagamaan, dan
sebagainya. Saat ini literatur mengenai manajemen untuk organisasi nirlaba
cukup banyak tersedia. Bahkan pada beberapa sekolah bisnis ada matkuliah bahkan
spesialisasi dalam manajemen organisasi nirlaba. [1]
Dalam
pendidikan, seorang manajer pendidikan mempunyai tugas mengkoor-dinasikan
berbagai sumber daya yang dipunyainya seperti guru, sarana dan prasarana
sekolah (perpustakaan, laboratorium, dsb.) untuk mencapai sasaran dari lembaga
pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya
Berdasarkan
observasi, dapat dihipotesakan bahwa kualitas manajemen ter-baik berada dalam
sektor bisnis. Mana- jemen non bisnis masih jauh dari baik. Dalam hal ini
manajemen sekolah/ pendidikan, saya berpendapat secara umum bahwa hal ini masih
jauh dari baik. Sekolah yang menyelenggarakan manajemen pendidikan yang baik
mungkin dapat dihitung dengan jari.
Pendidikan
dapat belajar banyak dari para praktisi manajemen (manajer) di dunia bisnis.
Para manajer bisnis dapat mentransfer kemampuannya untuk mem-perbaiki manajemen
pendidikan. [1]
[1]
.Prof. Dr. Sutrisna Hadi, Metodologi Research, Yayasan Penerbit, UGM
Yogyakarta: 1987, hal 35.
BAB II
ISU- ISU MANAJEMEN
PENDIDIKAN FORMAL
DI
LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF
- Sasaran Pendidikan: Aspek afektif
Yang menjadi isu umum bagi
sekolah-sekolah adalah tidak adanya upaya sungguh-sungguh untuk mengukur
sasaran afektif. Dari seorang anak yang masuk sekolah, perubahan afektif apakah
yang diharapkan terjadi. Apakah sang anak didik akan menjadi lebih saleh, lebih
berbudi pekerti, memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan? Maraknya
tawuran, konsumsi narkoba dan jual beli ujian di sekolah termasuk di Lembaga
Pendidikan Ma’arif membuktikan bahwa sasaran afektif masih banyak dilupakan
dalam penyelenggaraan pendidikan. Perilaku dan sikap anak di berbagai lembaga
pendidikan Ma’arif amat mungkin tidaklah berbeda signifikan dengan mereka yang
bersekolah di sekolah non agama. Kalau demikian, di manakah beda sekolah
berbasis agama?
Banyak sekolah berbasis agama Islam, Katolik, maupun Kristen yang berhasil menempatkan anak didiknya dalam posisi terhomat dari segi skolastik, namun, di balik sukses ini justru terjadi kegagalan besar dalam membentuk anak sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kepedulian besar terhadap orang lain, masyarakat sekitar dan isu-isu sosial yang berkembang dalam masyarakat. Kita hanya berhasil mencetak manusia cerdas yang berhati dingin.
Hal ini disebabkan karena tidak adanya sasaran afektif yang dijabarkan secara nyata.
Banyak sekolah berbasis agama Islam, Katolik, maupun Kristen yang berhasil menempatkan anak didiknya dalam posisi terhomat dari segi skolastik, namun, di balik sukses ini justru terjadi kegagalan besar dalam membentuk anak sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kepedulian besar terhadap orang lain, masyarakat sekitar dan isu-isu sosial yang berkembang dalam masyarakat. Kita hanya berhasil mencetak manusia cerdas yang berhati dingin.
Hal ini disebabkan karena tidak adanya sasaran afektif yang dijabarkan secara nyata.
- Manajemen Guru.
Sebagai salah satu sumber daya
terpenting pendidikan, guru merupakan sumber daya yang undermanaged atau bahkan
mismanaged. Pimpinan pendidikan maupun yayasan penyelenggara pendidikan masih melihat
guru sebagai faktor produksi belaka. Manajemen guru meliputi proses seleksi dan
rekrutmen guru dengan kriteria objektif dan relevan, proses pengembangan
kemampuan guru sebagai tenaga pengajar dan proses motivasi guru agar dapat
mempunyai komitmen tinggi.
Parahnya guru diperlakukan dapat
kita ketahui di berbagai media masa. Mulai dari gaji yang tidak cukup untuk
hidup layak sampai tidak adanya jaminan kesehatan apalagi jaminan hari tua. Tidak
sedikit guru yang kemudian bekerja sambilan sebagai tukang ojek. Tidaklah juga
mengherankan kalau ada di antara mereka yang melakukan tindakan tidak terpuji
seperti menjual soal ujian dan sebagainya. Pihak penyelenggara pendidikan lebih
mementingkan surplus sekolah ketimbang meningkatkan kesejahteraan guru. Padahal
pendidikan dan keberhasilan sekolah mencapai sasaran amat ditentukan oleh guru.
Bukankah ada pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari"?
Mengenai pentingnya peran guru dalam suatu
masyarakat mungkin kita bisa belajar dari legenda berikut:. Konon kabarnya di
suatu negeri antah berantah timbul perang antarkerajaan. Ketika dilapori
mengenai banyaknya korban akibat perang konon sang kaisar bertanya
"Berapakah guru yang meninggal akibat perang" dan bukan berapa serdadu
yang meninggal dalam perang. Himne guru menyebutkan guru sebagai pahlawan tanpa
tanda jasa memang tepat. Tidaklah heran kalau profesi guru bukanlah merupakan
profesi yang amat diminati oleh anak-anak kita. Tidak ada yang dapat mengangkat
dada dan berkata "Saya adalah seorang guru".
- Peningkatan Pengawasan
Dari berbagai fungsi manajemen,
mungkin fungsi pengawasan merupakan titik terlemah. Berdasarkan pengalaman
penulis, intensitas fungsi kontrol yang amat nyata dalam organisasi bisnis,
merupakan titik lemah (Achilles' heel) banyak lembaga pendidikan kita. Hampir
tidak ada upaya untuk menganalisis misalnya mengapa NEM terus merosot dari
tahun ke tahun, mengapa jumlah siswa merosot padahal uang sekolah sudah murah.
Kalau toh ada kegiatan pengawasan, hal
tersebut lebih difokuskan kepada absensi guru dan murid. Walaupun ini penting,
namun ada banyak aspek pendidikan yang berkaitan dengan pencapaian sasaran yang
luput dari pengawasan. Demikian juga follow up berbagai rencana sekolah.
- Manajer Pendidikan
Dunia pendidikan kita masih
kurang memiliki manajer-manajer pendidikan yang handal. Manajemen pendidikan
yang baik harus dikelola oleh para manajer sebagaimana laiknya organisasi
bisnis. Sulit sekali berbicara mengenai manajemen pendidikan tanpa menyentuh
isu manajer pendidikan. Para pengelola pendidikan haruslah terdiri dari manajer
pendidikan dan bukan sekedar guru. Tugas pengelola pendidikan dan guru jelas
berbeda.
Yang terjadi selama ini adalah promosi seorang guru yang baik menjadi manajer pendidikan (kepala sekolah) tanpa melewati persiapan memadai seperti pelatihan dan penyiapan mind set baru. Tidaklah heran, banyak guru baik yang lalu menjadi kepala sekolah (manajer pendidikan) mediocare sesuai prinsip Peter (Peter Principle).
Yang terjadi selama ini adalah promosi seorang guru yang baik menjadi manajer pendidikan (kepala sekolah) tanpa melewati persiapan memadai seperti pelatihan dan penyiapan mind set baru. Tidaklah heran, banyak guru baik yang lalu menjadi kepala sekolah (manajer pendidikan) mediocare sesuai prinsip Peter (Peter Principle).
Prinsip Peter menyatakan bahwa
seorang dipromosikan mencapai tingkatan inkom-petensinya. Tidak banyak
penyelenggara pendidikan (yayasan) yang sadar akan hal ini dan mengirimkan para
manajer pendidikan mereka untuk belajar manajemen pendidikan.
Kerberhasilan penyelenggara pendidikan amat ditentukan oleh tersedianya manajer-manajer pendidikan handal. Isu ini menjadi lebih relevan mengingat persaingan dalam setiap jenjang dunia pendidikan kita makin intens. Tanpa manajemen dan manajer handal, akan banyak lembaga pendidikan yang gulung tikar karena tidak berhasil memuaskan para stakeholders.
Kerberhasilan penyelenggara pendidikan amat ditentukan oleh tersedianya manajer-manajer pendidikan handal. Isu ini menjadi lebih relevan mengingat persaingan dalam setiap jenjang dunia pendidikan kita makin intens. Tanpa manajemen dan manajer handal, akan banyak lembaga pendidikan yang gulung tikar karena tidak berhasil memuaskan para stakeholders.
- Aliansi Antar sekolah
Walaupun secara umum good management
practice masih elusif di Lembaga Pendidikan Ma’arif kita masih belum baik,
namun tidak dapat kita sangkal ada lembaga-lembaga pendidikan yang sudah
menerapkan manajemen pendidikan dengan cukup baik. Lewat koordinasi asosiasi
lembaga pendidikan (seperti MDPK/MPPK), suatu lembaga pendidikan dapat belajar
dari good management practice lembaga pendidikan lain. Lewat proses
benchmarking, suatu lembaga dapat belajar dari pengalaman lembaga lain.
- Partisipasi Manajer Bisnis
Isu terakhir adalah bagaimana
penyelenggara pendidikan memanfaatkan keterampilan menajerial para manajer
bisnis. Pengalaman di manca negara membuktikan keefektifan pendekatan ini.
Karena fungsi manajemen bersifat universal dan keterampilan manajemen dapat
ditransfer dari satu bidang ke bidang lain, maka jalan pintas yang dapat diambil,
sambil menyiapkan manajer pendidikan, adalah memanfaatkan tenaga manajer bisnis
yang tersedia.
Kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai sekolah bisnis di Amerika Serikat yang merekrut para manajer bisnis yang ternyata berhasil meningkatkan kinerja sekolah bisnis. Saya kira para manajer bisnis akan dengan senang hati dapat memberikan kontribusi mereka setidaknya secara paruh waktu untuk meningkatkan manajemen pendidikan di berbagai lembaga pendidikan. 2
Kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai sekolah bisnis di Amerika Serikat yang merekrut para manajer bisnis yang ternyata berhasil meningkatkan kinerja sekolah bisnis. Saya kira para manajer bisnis akan dengan senang hati dapat memberikan kontribusi mereka setidaknya secara paruh waktu untuk meningkatkan manajemen pendidikan di berbagai lembaga pendidikan. 2
2 . Sandra A. Howard (1999) Guiding
Collaborative Teamwork in The Classroom.
BAB III
PEMECAHAN
MASALAH ISU- ISU MANAJEMEN PENDIDIKAN FORMAL
DI
LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF
- Sasaran Pendidikan: Aspek afektif
Dengan membentuk sasaran
pendidikan yang efektif melalui komitmen antara seluruh stakeholder yang ada
dilingkungan pendidikan lembaga Ma’arif
- Manajemen Guru.
Diperlukan adanya pelatihan dan
pengawasan guru yang dilakukan secara kontinyu demi terciptanya sumber daya
guru yang mampu memanajemen dengan baik.
- Peningkatan Pengawasan
Melakukan pengawasan yang lebih
ketat terhadap segala sesuatu yang masuk kedalam kegiatan pendidikan.Pengawasan
sendiri dapat dilakukan oleh pemerintah, warga, aktifis pendidikan dll.
- Manajer Pendidikan
Mengkombinasikan antara manajemen
dan pendidikan dengan maksimal.Pendidikan layaknya memiliki manajer yang mampu
memanajemen pendidikan agar berjalan dan mampu meningkatkan mutu pendidikan
secara signifikan.
- Aliansi Antar sekolah
Antara lembaga pendidikan Ma’arif
hendaknya saling berkoordinasi baik ditingkat RA, MI, MTs maupun MA.Semua
saling berbagi informasi dan manajemen agar bisa meningkatkan kinerja Madrasah.
- Partisipasi Manajer Bisnis
Penyelenggara pendidikan memanfaatkan
keterampilan menajerial para manajer bisnis. Karena fungsi manajemen bersifat
universal dan keterampilan manajemen dapat ditransfer dari satu bidang ke
bidang lain, maka jalan pintas yang dapat diambil, sambil menyiapkan manajer
pendidikan, adalah memanfaatkan tenaga manajer bisnis yang tersedia
BAB IV
PENUTUP
Mengubah manajemen merupakan
suatu proses yang panjang dan melibatkan seluruh komponen yang bersangkutan dan
banyak pihak. Perubahan ini memerlukan penyesuaian-penyesuaian, baik sistem
strukturnya, kulturnya, maupun figurnya, dengan tuntutan-tuntutan baru. Dalam
rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh
sekolah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisis kekuatan dan
kelemahan sekolah, dalam pernyusunan program, sekolah harus menetapkan
indikator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tak kalah
pentingnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi program yang telah
direncanakan sesuai dengan pendanaannya guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang dicapai serta
melaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah pada umumnya. Oleh karena
itu, kita tidak bermimpi bahwa perubahan ini akan berlangsung sekali jadi dan baik
hasilnya. Dengan demikian, fleksibiltas dan eksperimentasi-eksperimentasi yang
menghasilkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam penyelenggaraan manajemen perlu
didorong.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal
Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan
Nasional. 200. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai
Organisasi Belajar yang Efektif; Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon
Kepala Sekolah/Kepala Sekolah
Sandra A. Howard
(1999) Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom.
Yadi Haryadi (tt). Team Work. (Bahan
Presentasi Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar