Israel masih
berulah. Negeri palestina tak kunjung reda dari konflik. Perdamaian pun masih
jauh dari harapan. Kenapa bisa seperti ini? Siapa yang salah? Untuk menjawab
pertanyaan diatas tak ada yang lebih tepat rasanya tanpa melirik lagi sejarah
masa lalu. Versi Israel tentu saja menganggap mereka yang benar. Versi Islam
pun begitu. Dari sebuah buku yang menyimak bahwa tidak ada yang lebih objektif
rasanya selain menelusuri kembali sejarah tanah yang direbutkan tersebut.
Dari buku
inilah saya akan menuangkan kembali ringkasan sejarah tentang Bani Israel. Buku
yang katanya sudah langka. Buku yang cukup berkesan bagi saya. Bukan karena
pengarangnya ataupun keindahan dalam merangkai katanya. Tapi karena isi dan
teknik penyampaiannya yang berbeda. Yang sudah jarang saya temui saat ini.
Pintu-Pintu Menuju Tuhan oleh Nurcholish Madjid. (Bukan promosi lho…
Alangkah
baiknya jika kita memulai membahas Israel ini dari asal muasalnya. Kita
mengenal Ya’qub merupakan bapak dari orang-orang Israel. Dari Ya’qub inilah
Bani Israel itu ada. Namun begitu, Ya’qub adalah putra Ishaq. Sementara Ishaq
sendiri adalah anak Ibrahim dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Sarah.
Dari Ibrahim inilah kita memulai, menelusuri jejak peradaban bangsa Yahudi.
Ibrahim yang Allah sendiri menyebutnya sebagai “Imam Umat Manusia” (QS.
Al-Baqarah:124).
Penting
rasanya mengetahui siapa tokoh Ibrahim sebenarnya. Sebab tidak dipngkiri lahi,
Ibrahim adalah nenek moyang tiga agama monotheis dan samawi, yaitu Yahudi,
Kristen, dan Islam.
Ibrahim
berasal dari Babylonia dan hidup sekitar tahun 1700 SM. Seorang anak pemahat
patung bernama Azar yang memilki pemikiran tajam dan kritis sejak dia bocah,
tentu saja ini adalah hidayah Ilahi. Masih ingat kisah pembakaran dirinya
karena memberontak terhadap ayahnya yang menyembah patung yang dipahat dari
batu. Setelah diselamatkan oleh Tuhan Ynag Maha Esa itulah, Ibrahim lari ke
Kana’an, Palestina Selatan.
Di Kana’an
inilah Ibrahim memperistri Sarah. Karena wabah paceklik di Kana’an mereka
pindah ke Mesir untuk sementara. Di Mesir inilah Ibrahim menerima hadiah dari
Firaun karena suatu peristiwa yang mengesankan sang raja. Hadiah tersebut
berupa budak perempuan yang cantik, Hajar. Kemudian ketiganya kembali ke
Kana’an. Kini usia Ibrahim semakin lanjut, dan dia sangat mengharapkan seorang
keturunan. Setelah berdoa, memohon kepada Tuhan, akhirnya Sarah berbaik hati
mengizinkan Ibrahim mengawini Hajar. Dari hajar inilah lahir seorang putra yang
diberinya nama Ishmael (Ismail) yang dalam bahasa Ibrani berarti “Tuhan telah
mendengar,” yaitu doa sang ayah yang memohon keturunan.
Ibrahim
sangat mencintai Ismail dan ibunya. Hal ini menyebabkan rasa kurang senang pada
diri Sarah. Maka Sarah meminta Ibrahim untuk membawa Ismail dan ibunya keluar
dari rumah tangga mereka. Dengan petunjuk Tuhan dan bimbingan para malaikat,
Ismail dan Hajar dibawa kearah selatan Kana’an. Sampai pada suatu lembah yang
tandus dan gersang, tiada tumbuhan (QS Ibrahim:37). Masih dengan petunjuk
Tuhannya, Ibrahim kembali ke Kana’an dengan sesekali menjenguk Ismail.
Inilah
rencana Tuhan Yang Maha Bijaksana. Di lembah tempat Ibrahim membawa anaknya
itulah terletak rumah suci (bayt) yang pertama kali didirikan untuk
umat manusia (QS Al-Imran:96). Lembah inilah yang dinamakan Bakkah atau Makkah.
Awalnya rumah suci tersebut belum ada. Baru setelah Ismail dewasa, Tuhan
memerintahkan mereka berdua mendirikan bayt tersebut (QS
al-baqarah:127). Inilah salah satu realisasi rencana bimbinganNya untuk umat manusia.
Karena bentuknya yang persegi
empat, maka bangunan tersebut disebut Ka’bah yang berarti “kubik.” Maka
bangunan tersebut memang Rumah Suci (al-Bayt al-Haram), sebagai pusat
peribadahan dan urusan dunia bagi manusia (QS al-Maidah:97).
Awalnya, pada
masanya, Rasulullah berkiblat ke al-Masjid al-Aqsha yang didirikan Nabi
Sulaiman, sekitar delapan abad setelah Nabi Ibrahim (kisah al-Aqsha akan diulas
pada bagian lain). Ada makna mendalam atas perpindahan kiblat dari Yerusalem ke
Makkah. Yaitu bahwa Nabi Muhammad mengajarkan dan mengajak manusai untuk
kembali ke agama Nabi Ibrahim yang otentik dan asli, yang dilambangkan oleh
Ka’bah, peninggalan yang utama.
Agama Nnabi
Ibrahim itulah yang disebut agama hanafiyah atau ke-hanif-an, dan Nabi Ibrahim
adlah seorang yang hanif, yang berarti bersemangat kebenaran dan muslim,
bersemangat pasrah dan taat kepada Allah Tuhan Sekalian Alam. Pernah Rasulullah
terlibat polemic dengan para penganut Yahudi (agama yang mucul lewat kerasulan
Nabi Musa) dan penganut agama Nasrani. Namun Allah menegaskan: “Ibrahim
bukanlah seorang Yahudi atau seorang Nasrani, melainkan seorang hanif dan
Muslim,” (QS al-Imran:67).Nabi Muhammad dan para pengikutnya pun
diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim yang hanif (QS an-Nahl:123 dan QS al-An’am:161).
Ibrahim dan Keturunannya
Sebelumnya
kita telah membahas perihal Ibrahim yang membawa Ismail dan ibunya ke Makkah.
Disanalah Ismail dibesarkan yang kemudian memperistri seorang Arab dari suku
Jurhum. Dari sinilah bangsa Arab Quraish berasal, penduduk Makkah dan suku Arab
yang paling terkemuka.
Dari sini
pulalah kelak muncul Nabi Muhammad saw, Rasul Allah yang membawa Islam. Pada
akhirnya terjadilah “Ledakan Bangsa Arab” (Arab Exploison), dimana
bangsa Arab dengan bendera Islam berhasil menaklukkan daerah jantung (heart
land) dunia, terbentang dari sisi barat Lautan Atalntik sampai Tembok Cina
di timur.
Kembali ke
Ibrahim. Sementara Ismail dan Hajar tinggal di Makkah dan sesekali ayahnya
menjenguk melaksanakan perintah Tuhan, Ibrahim sendiri tinggal di Kana’an
bersama Sarah. Dengan izin dan kekuasaan Tuhan, mereka pun dikaruniai seorang
putra yang juga menjadi Nabi dan Rasul Allah, Ishaq.
Atas karunia
Tuhan, Ishaq pun diberi putra yang dari keturunannya akan tampil banyak Nabi
dan Rasul Allah. Putra tersebut adalah Ya’qub yang digelari Isra’il yang dlam
bahasa Ibrani berarti “Hamba Allah,” sama dengan arti Abdullah dalam bahasa
Arab. Anak keturunan Nabi Ya’qub atau Israil ini terus berkembang biak dan
menjadi nenek moyang bangsa Yahudi, yang disebut pula Bani Israil (Anak turun
Israil).
Ya’qub
memiliki duabelas anak dari dua istri. Istri keduanya memberinya dua orang
putra. Yusuf dan Benyamin. Ya’qub sangat mencintai Yusuf dibanding anak-anak
lainnya karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki Yusuf. Hal ini menimbulkan
rasa tidak suka dari saudara-saudara lainnya. Akhirnya mereka bersiasat untuk
menyingkirkan Yusuf. Berkat lindunganNya, Yusuf selamat bahkan menjadi mentri
urusan bahan pangan di Mesir kala itu. Yusuf inilah yang secara tidak langsung
membawa keluarganya ke Mesir (QS Yusuf:4-102).
Di Mesir
inilah kelak keturunan Ya’qub atau Israil berkembang biak melalui anak-anak
yang berjumlah duabelas tersebut. Maka Bani Israil atau Yahudi terbagi menjadi
duabelas suku (QS al-A’raf:160).
Sebagian besar keturunan dari
Ya’qub menganut agama tauhid atau monotheisme. Hal ini membuat Fir’aun yang
zhalim merasa kurang senang sebab di Mesir sendiri adalah Politheis atau
musyrik. Meskipun banyak dari Bani Israil ini yang menyeleweng dari agama
moyangnya, Nabi Ibrahim. Namun mereka masih memilki potensi kebenaran dan
keadilan lebih besar dari pada bangsa Mesir di bawah Firaun. Karena itu mereka
selalu menunjukkan gelagat menentang pada Firaun. Sejak saat itulah anak cucu
Ya’qub tersebut yakni bangsa Yahudi mengalami penindasan dari Fir’aun.
Pada
saat-saat seperti inilah diturunkan Musa yang mengemban misi membebaskan Bani
Israil dari penindasan Firaun sekaligus membawanya ke tanah yang dijanjikan,
yaitu Kana’an atau Palestina Selatan. Nabi Musa sebenarnya adalah seorang
yahudi yang ironisnya dibesarkan di kalangan Istana Firaun. Walau akhirnya ia
pun dapat melepaskan diri.
Saat
mengalami kesulitan akibat suatu pekelahian, Musa melarikan diri ke timur,
menyebrangi gurun Sinai sampai tiba di Kota Madyan, di tepi pantai Teluk
Aqabah, Arabia Barat Laut. Disinilah berdiam utusan Allah untuk penduduk
Madyan, Syu’ayb (QS Hud:84).
Musa pun
menuturkan persoalannya kepada Syu’ayb. Nabi Syu’ayb mengerti akan perihal Musa
dan menawarkan perlindungan padanya. Bahkan Musa dikawinkan dengan kedua putri
Syu’ayb. Sebagai mas kawin, Musa tinggal bersama keluarga tersebut selama
delapan tahun (empat tahun untuk masing-masing istrinya) demi membantu
perekonomian keluarga, antara lain dengan menggembalakan kambing (QS
al-Qashash:27).
Genap delapan
tahun, Musa dan kedua istrinya yang kakak beradik pergi menuju Mesir
meninggalkan Syu’ayb yang juga merupakan guru Nabi Musa.dalam perjalanan itulah
Musa kemudian dipilih menjadi Rasul dan ditugaskan untuk menemui Firaun yang
menjalankan tirani. Atas keinginannya sendiri, Musa pun memohon utnuk membawa
serta Harun, saudaranya yang lebih fasih dalam berbicara guna menyampaikan
kebenaran dan keadilan dihadapan Firaun.
Firaun
sendiri adalah gelar untuk raja-raja mesir. Dalam bahasa Inggris berarti pharao.
Firaun yang dihadapi Musa adalah Firaun Ramses II yang berada pada masa
1304-1237 SM. Selain tiranik, Al-Quran juga menggambarkan Firaun sebagai orang
yang mengaku Tuhan dan menindas rakyat. Karena itulah dia disebut musyrik.
Kisah Musa selanjutnya tidak berbeda dengan sejarah yang biasa kita dengar.
Kisah Dawud dan Jalut
Perjuangan
Musa untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan Firaun dan membawanya ke
tanah yang dijanjikan yaitu kana’an atau Palestina Selatan belumlah usai.
Dawudlah yang meneruskan tugas tersebut.
Kisah yang
kita kenal dari Al-Quran terkait Nabi Dawud adalah perjuangannya melawan Jalut
dalam misinya membebaskan Bani Israil. Diceritakan bahwa Dawud dengan jumlah
yang sedikit mampu mengalahkan Jalut dengan jumlah pasukan yang sangat banyak
(QS al-baqarah:251). Cerita ini pun lebih kita kenal dengan nama Inggrisnya,
David melawan Golliath.
Dawud pun
menuntaskan misi Nabi Musa. Dia merebut Yersalem dan kelak bangsa Yahudi akan
berada pada masa keemasannya saat berada dibawah pimpinan Nabi Sulaiman, anak
Nabi Dawud.
Kisah Sulaiman
Sulaiman
adalah raja dari kerajaan Judea-Samaria yang diwariskan dari ayahnya, Dawud. Di
bawah Sulaiman inilah bangsa Yahudi, Bani Israil, keturunan Nabi Ya’qub berada
pada masa kejayaanya.
Pada masa
Sulaiman, Yerusalem dibangun. Di pusat kota didirikanlah sebuah tempat
peribadatan yang megah. Orang Arab menyebutnya Haykal Sulaiman atau Kuil
Sulaiman, dalam bahasa Inggris Solomon Temple.
Temple Mount.
Adalah Bukit Kuil dalam bahasa Indonesia di mana yang dimaksud adalah bukit
yang dahulu berdiri Solomon Temple atau Haykal Sulaiman, yaitu Bukit Moria,
juga biasa disebut Bukit Zaitun. Solomon Temple itu tak lain adalah Masjid
al-Aqsha, dalam bentuk aslinya, yang didirikan Sulaiman, putra Nabi Dawud.
Istilah
Temple Mount atau Bukit Kuil sendiri tidak begitu dikenal kaum Muslim
Indonesia. Banyak koran asing mengambil nama itu tanpa tau implikasinya, bahkan
tanpa tahu bagaimana menerjemahkannya, terutama terjemah maknawiyah yang lebih
luas. Istilah Inggris “Temple Mount” tersebut berkonotasi kuat mengingkari hak
Islam dan Kaum Muslim atas tanah suci tersebut, karena anggapan bahwa dahulu
kaum Muslim merampasnya dari kaum Yahudi. Tegasnya, istilah Temple Mount itu
mengandung isyarat bahwa tanah suci harus dikembalikan kepada “yang berhak,”
yaitu kaum Yahudi yang mempunyai rencana besar membangun kembali Solomon
Temple. Ini sesuai dengan Eskatologi mereka bahwa sebelum Hari Kiamat, Solomon
Temple akan berdiri megah kembali, sama keadannya seperti pada masa Nabi
Sulaiman.
Apakah orang
Yahudi masih berhak atas tanah suci itu? Secara teologis, seorang Yahudi
barangkali akan menjawab, “pasti berhak!” Sebaliknya, secara teologis pula
seorang Muslim juga akan dengan tegas mengatakan, “Sama sekali tidak berhak!”
Di sinilah keneltralan menjadi hilang. Meski demikian, masih terdapat dasar
tinjauan yang netral dan objektif, yaitu sejarah.
Perjalanan Bangsa Yahudi
Bangsa Yahudi
yang tinggal di Kana’an dan Mesir telah melahirkan tidak hanya seorang nabi,
tetapi banyak nabi yang kini nama-nama mereka menghiasi kitab-kitab suci
Taurat, Injil, dan Al-Quran. Tetapi bangsa Yahudi tidak pernah benar-beanr
jaya. Ini disebabkan anak turun Nabi Ya’qub itu terkenal sombong dan suka
memberontak.
Ini
membangkitakn murka Allah, dan mereka harus menerima azabNya. Dalam QS
al-Isra:4-8 digambarkan betapa Bani Israil itu membuat kerusakan di bumi dan
berlaku sombong, angkuh, chauvinis (merasa paling unggul dan benar
sendiri). Allah pun mengazabnya, “Jika saat pertama dari keduanya itu tiba,
maka Kami utus atas kamu hamba-hamba Kami yang gagah perkasa, kemudian
mereka-mereka menerobos rumah kamu. Dan ini adalah peristiwa yang telah
terjadi” (QS al-Isra:5).
Kapan
peristiwa itu terjadi? Yaitu sekitar tujuh abad sebelum Masehi ketika bangsa
Babilonia yang dipim[in Nebukadnezar datang menyerbu Yerusalem dan
menghancurkan kota itu, termasuk Masjid Aqsha-nya. Kaum Yahudi bahkan diboyong
ke Babilonia untuk dijadikan budak. Inilah masa perbudakan (captivity), yang
menurut Bertrand Russel merupakan permulaan kaum Yahudi mengidap Messianisme.
Dan sebagai kompensasi, tumbuh keyakinan pada diri mereka bahwa mereka adalah
“Bangsa Pilihan.”
Kaum Yahudi memang kemudia dapat
kembali ke Yerusalem atas bantuan Persia yang telah mengalahkan Babilonia.
Mereka pun hanya mampu membangun kembali Haykal Sulayman sekedarnya saja,
sampai datangnya Herod, raja Yahudi keturunan Arab yang taat pada Roma. Dengan
kedudukannya, dia membangun kembali Haykal Sulayman, lalu dikenal sebagai The
Second Temple. Bangunan itu megah sekali, namun tanpa makna mendalam.
Sekali lagi,
bangsa Yahudi ini menjadi congkak dan membuat kerusakan di muka bumi. Maka
Allah pun mengazab mereka untuk kedua kalinya, “…Dan bila tiba saat
peristiwa yang kedua, (kami biarkan musuh-musuhmu) menhancurkan martabatmu dan
memasuki, an menghancurkan apa saja yang terjamah tangan mereka” (QS
al-Isra:7). Peristiwa kedua ini terjadi sekitar tahun 70 Masehi karena dosa
mereka menolak kerasulan nabi Isa al-Masih dan menyiksa para pengikutnya.
Kaisar Titus
dari Roma meratakan Yerusalem dengan tanah dan mengahancurleburkan Masjid
al-Aqsho yang kedua yang telah dibangun. Yang tersisa adalah sebuah tembok,
tempat paling suci kaum Yahudi saat ini. Mereka beribadat dengan meratap tembok
itu mengenang nasib mereka, maka dikenal dengan “Tembok Ratap” (wailing wall).
Kaisar Titus
tidak hanya meluluhlantakan Yerusalem dan Solomon Temple-nya. Dia juga menindas
orang-orang Yahudi, kemudia menghalangi mereka tinggal di Kana’an (Palestina
Selatan) umumnya dan Yerusalem khususnya. Inilah permulaan masa Diaspora, yaitu
masa kaum Yahudi mengembara terlunta-lunta ke seluruh penjuru bumi, tanpa tanah
air. Kitab Suci mengisyaratkan kejadian itu dalam firman, “Kehinaan
ditimpakan atas mereka di mana pun mereka berada, kecuali dengan tali dari
Allah dan tali dari manusia, dan mereka kembali mendapat murka dari Allah dan
kenistaan ditimpakan atas mereka. Demikian itu karena mereka dahulu ingkar akan
ajaran-ajaran Allahdan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Itulah
akibat mereka durhaka dan telah melampaui batas” (QS Al-Imran:112).
Sedikit demi
sedikit kaum Yahudi mengumpulkan lagi kekuatan mereka. Bahkan pada tahun 132
mereka masih sempat menantang Roma lagi, yang kemudian dengan sangat kejam
ditindas oleh Kaisar Hadrian, melalui Jendral Severus, sehingga “darah
orang-orang Yahudi sampai mengalir seperti sungai dan harga budak di pasaran
merosot karena banjir lelaki dan perempuan Yahudi yang diperbudak dan diperjual
belikan.”
Karena ingin melenyapkan Bangsa
Yahudi untuk selama-lamanya, termasuk tanah suci mereka, maka Yerusalem
dibersihkan, kemudian dibangun sebuah kota kecil yang diberi nama Aelia
Capitolina, kurang lebih berarti kota suci untuk Dewi Aelia, berhalanya Roma.
Di atas Bukit Moria sendiri, yang semula tempat berdiri Haykal Sulayman,
berdiri patung Kaisar menghadap patung dewa pelindungnya, Jupiter Capitolinus.
Kemudian di Golgota kaisar Hadrian mendirikan kuil untuk berhala Venus, sebagai
penghalang agama Kristen yang mulai tumbuh di tempay itu, yang bagi Hadrian
tidak lebih daripada sebuah sekte kecil baru agama Yahudi.
Begitulah
keadaan Yerusalem selama sekitar tiga abad setelah kehancurannya. Pada abad
keempat Raja Konstantin (Pendiri Konstantinopel, setelah dikuasai orang-orang
Turki Muslim menjadi Istambul) masuk Kristen, dan menjadikan agama itu agama
kekaisaran Romawi. Maka Yerusalem pun dikuasai kaum Kristen dan berbagai tempat
yang diduga ada kaitannya dengan Isa al-Masih diagungkan dengan didirikan
bangunan-bangunan. Yang termegah sampai sekarang ialah gereja Holy Sepulcher.
Dokumen Aelia
Nama Aelia
tetap bertahan sampai ketika dia jatuh ke tangan kaum Muslim pada zaman
Khalifah Umar. Sewaktu kota itu jatuh ke tangan oarang beriman, Yerusalem
adalah kota suci tiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam. Karena pentingnya kota
itu bagi kaum Muslim, patriak Sophronius, penguasa lamanya tidak menyerahkannya
kepada umat Muslim kecuali jika pimpinan tertinggi mereka sendiri, yaitu Umar
bin Khatab datang menerimanya secara pribadi.
Kemudian
dibuatlah perjanjian yang memuat jaminan perlindungan bagi agama dan umat
Kristen. Bunyi bagian pertama perjanjian amat bersejarah itu demikian, “Inilah
yang diberikan oleh hamba Allah, Umar komandan kaum beriman, kepada penduduk
Aelia tentang keamanan: dia memberi mereka keamanan untuk jiwa dan harta
mereka, juga untuk gereja dan salib-salib mereka, untuk sakit dan yang sehat,
dan untuk keseluruhan agamanya. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau
dirusak, dan (bangunan) gereja-gereja itu sendiri ataupun sekelilingnya tidak
akan dikurangi, begitu pula salib mereka dan bagian apa pun dari harta mereka.
Mereka tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak seorang pun dari
mereka akan diganggu. Juga tidak seorang Yahudi pun akan tinggal bersama mereka
di Aelia……” (Muhammad Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq al-Siyasiyyah,
Beirut, Dar al-Irsyad, 1969, H 380).
Sementara
itu, Islam juga membuka kota tersebut untuk kaum Yahudi. Atas permintaan
Kristen yang tidak ingin bercampur, kaum Yahudi pun ditempatkan tersendiri
menempati kaveling tertentu. Kaum Yahudi hidup bebas di zaman kekuasaan Islam
selama berabad-abad. Mereka menjadi penduduk kosmopolit, artinya dengan penuh
kebebasan berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk berbagai
keperluan, terutama berdagang. Dalam pelukan kekuasaan Islam mereka itu
bahagia sekali, lebih-lebih jika dibandingkan dengan keadaan mereka dibawah
kekuasaan Kristen Eropa.
Karena itu,
sungguh ironis bahwa sejak 1948 mereka merebut dan menjajah sewenang-wenang
tanah Palestina, yaitu bangsa yang sejak dahulu telah tinggal di situ. Itulah
kezhaliman Yahudi, yaitu kezhaliman kaum yang tidak tau berterimakasih kepada
bangsa Arab yang telah menyelamatkan dan melindungi mereka yang selama ratusan
tahun terus menerus dihalangi dan ditindas, pertama oleh Romawi yang pagan,
kemudian oleh Romawi yang Kristen.
Hukuman Allah
tidak akan berubah, yaitu bahwa “yang salah pasti seleh (hancur),”
maka dengan kezhalimannya itu bangsa Yahudi sebenarnya sedang menggali kuburnya
sendiri. Ini sejalan dengan peringatan tersirat dari Allah kepada nabi Ibrahim:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan berbagai perintah,
kemudian dipenuhinya dengan sempurna. Lalu Tuhan bersabda: ‘Sesungguhnya Aku
menjadikan engkau (Ibrahim) pemimpin umat manusia,’ Ibrahim menyahut: Dan juga
dari keturunanku? Tuhan menjawab, Perjanjianku ini tidak berlaku untuk mereka
yang zhalim.” (QS al-Baqarah:124).
Sebelumnya
kita telah membahas perihal Ibrahim yang membawa Ismail dan ibunya ke Makkah.
Disanalah Ismail dibesarkan yang kemudian memperistri seorang Arab dari suku
Jurhum. Dari sinilah bangsa Arab Quraish berasal, penduduk Makkah dan suku Arab
yang paling terkemuka.
Dari sini
pulalah kelak muncul Nabi Muhammad saw, Rasul Allah yang membawa Islam. Pada
akhirnya terjadilah “Ledakan Bangsa Arab” (Arab Exploison), dimana
bangsa Arab dengan bendera Islam berhasil menaklukkan daerah jantung (heart
land) dunia, terbentang dari sisi barat Lautan Atalntik sampai Tembok Cina
di timur.
Kembali ke Ibrahim. Sementara
Ismail dan Hajar tinggal di Makkah dan sesekali ayahnya menjenguk melaksanakan
perintah Tuhan, Ibrahim sendiri tinggal di Kana’an bersama Sarah. Dengan izin
dan kekuasaan Tuhan, mereka pun dikaruniai seorang putra yang juga menjadi Nabi
dan Rasul Allah, Ishaq.
Atas karunia
Tuhan, Ishaq pun diberi putra yang dari keturunannya akan tampil banyak Nabi
dan Rasul Allah. Putra tersebut adalah Ya’qub yang digelari Isra’il yang dlam
bahasa Ibrani berarti “Hamba Allah,” sama dengan arti Abdullah dalam bahasa
Arab. Anak keturunan Nabi Ya’qub atau Israil ini terus berkembang biak dan
menjadi nenek moyang bangsa Yahudi, yang disebut pula Bani Israil (Anak turun
Israil).
Lahirnya Bangsa Yahudi
Ya’qub
memiliki duabelas anak dari dua istri. Istri keduanya memberinya dua orang
putra. Yusuf dan Benyamin. Ya’qub sangat mencintai Yusuf dibanding anak-anak
lainnya karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki Yusuf. Hal ini menimbulkan
rasa tidak suka dari saudara-saudara lainnya. Akhirnya mereka bersiasat untuk
menyingkirkan Yusuf. Berkat lindunganNya, Yusuf selamat bahkan menjadi mentri
urusan bahan pangan di Mesir kala itu. Yusuf inilah yang secara tidak langsung
membawa keluarganya ke Mesir (QS Yusuf:4-102).
Di Mesir
inilah kelak keturunan Ya’qub atau Israil berkembang biak melalui anak-anak
yang berjumlah duabelas tersebut. Maka Bani Israil atau Yahudi terbagi menjadi
duabelas suku (QS al-A’raf:160).
Sebagian
besar keturunan dari Ya’qub menganut agama tauhid atau monotheisme. Hal ini
membuat Fir’aun yang zhalim merasa kurang senang sebab di Mesir sendiri adalah
Politheis atau musyrik. Meskipun banyak dari Bani Israil ini yang menyeleweng
dari agama moyangnya, Nabi Ibrahim. Namun mereka masih memilki potensi
kebenaran dan keadilan lebih besar dari pada bangsa Mesir di bawah Firaun.
Karena itu mereka selalu menunjukkan gelagat menentang pada Firaun. Sejak saat
itulah anak cucu Ya’qub tersebut yakni bangsa Yahudi mengalami penindasan dari
Fir’aun.
Kisah Musa dan Firaun
Pada
saat-saat seperti inilah diturunkan Musa yang mengemban misi membebaskan Bani
Israil dari penindasan Firaun sekaligus membawanya ke tanah yang dijanjikan,
yaitu Kana’an atau Palestina Selatan. Nabi Musa sebenarnya adalah seorang
yahudi yang ironisnya dibesarkan di kalangan Istana Firaun. Walau akhirnya ia
pun dapat melepaskan diri.
Saat
mengalami kesulitan akibat suatu pekelahian, Musa melarikan diri ke timur,
menyebrangi gurun Sinai sampai tiba di Kota Madyan, di tepi pantai Teluk
Aqabah, Arabia Barat Laut. Disinilah berdiam utusan Allah untuk penduduk
Madyan, Syu’ayb (QS Hud:84).
Musa pun
menuturkan persoalannya kepada Syu’ayb. Nabi Syu’ayb mengerti akan perihal Musa
dan menawarkan perlindungan padanya. Bahkan Musa dikawinkan dengan kedua putri
Syu’ayb. Sebagai mas kawin, Musa tinggal bersama keluarga tersebut selama
delapan tahun (empat tahun untuk masing-masing istrinya) demi membantu
perekonomian keluarga, antara lain dengan menggembalakan kambing (QS
al-Qashash:27).
Genap delapan
tahun, Musa dan kedua istrinya yang kakak beradik pergi menuju Mesir
meninggalkan Syu’ayb yang juga merupakan guru Nabi Musa.dalam perjalanan itulah
Musa kemudian dipilih menjadi Rasul dan ditugaskan untuk menemui Firaun yang
menjalankan tirani. Atas keinginannya sendiri, Musa pun memohon utnuk membawa
serta Harun, saudaranya yang lebih fasih dalam berbicara guna menyampaikan
kebenaran dan keadilan dihadapan Firaun.
Firaun
sendiri adalah gelar untuk raja-raja mesir. Dalam bahasa Inggris berarti pharao.
Firaun yang dihadapi Musa adalah Firaun Ramses II yang berada pada masa
1304-1237 SM. Selain tiranik, Al-Quran juga menggambarkan Firaun sebagai orang
yang mengaku Tuhan dan menindas rakyat. Karena itulah dia disebut musyrik.
Kisah Musa selanjutnya tidak berbeda dengan sejarah yang biasa kita dengar.
Kisah Dawud dan Jalut
Perjuangan
Musa untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan Firaun dan membawanya ke
tanah yang dijanjikan yaitu kana’an atau Palestina Selatan belumlah usai.
Dawudlah yang meneruskan tugas tersebut.
Kisah yang
kita kenal dari Al-Quran terkait Nabi Dawud adalah perjuangannya melawan Jalut
dalam misinya membebaskan Bani Israil. Diceritakan bahwa Dawud dengan jumlah
yang sedikit mampu mengalahkan Jalut dengan jumlah pasukan yang sangat banyak
(QS al-baqarah:251). Cerita ini pun lebih kita kenal dengan nama Inggrisnya,
David melawan Golliath.
Dawud pun
menuntaskan misi Nabi Musa. Dia merebut Yersalem dan kelak bangsa Yahudi akan
berada pada masa keemasannya saat berada dibawah pimpinan Nabi Sulaiman, anak
Nabi Dawud.
Kisah Sulaiman
Sulaiman
adalah raja dari kerajaan Judea-Samaria yang diwariskan dari ayahnya, Dawud. Di
bawah Sulaiman inilah bangsa Yahudi, Bani Israil, keturunan Nabi Ya’qub berada
pada masa kejayaanya.
Pada masa
Sulaiman, Yerusalem dibangun. Di pusat kota didirikanlah sebuah tempat
peribadatan yang megah. Orang Arab menyebutnya Haykal Sulaiman atau Kuil
Sulaiman, dalam bahasa Inggris Solomon Temple.
Temple Mount.
Adalah Bukit Kuil dalam bahasa Indonesia di mana yang dimaksud adalah bukit
yang dahulu berdiri Solomon Temple atau Haykal Sulaiman, yaitu Bukit Moria,
juga biasa disebut Bukit Zaitun. Solomon Temple itu tak lain adalah Masjid
al-Aqsha, dalam bentuk aslinya, yang didirikan Sulaiman, putra Nabi Dawud.
Istilah
Temple Mount atau Bukit Kuil sendiri tidak begitu dikenal kaum Muslim
Indonesia. Banyak koran asing mengambil nama itu tanpa tau implikasinya, bahkan
tanpa tahu bagaimana menerjemahkannya, terutama terjemah maknawiyah yang lebih
luas. Istilah Inggris “Temple Mount” tersebut berkonotasi kuat mengingkari hak
Islam dan Kaum Muslim atas tanah suci tersebut, karena anggapan bahwa dahulu
kaum Muslim merampasnya dari kaum Yahudi. Tegasnya, istilah Temple Mount itu
mengandung isyarat bahwa tanah suci harus dikembalikan kepada “yang berhak,”
yaitu kaum Yahudi yang mempunyai rencana besar membangun kembali Solomon
Temple. Ini sesuai dengan Eskatologi mereka bahwa sebelum Hari Kiamat, Solomon
Temple akan berdiri megah kembali, sama keadannya seperti pada masa Nabi
Sulaiman.
Apakah orang
Yahudi masih berhak atas tanah suci itu? Secara teologis, seorang Yahudi
barangkali akan menjawab, “pasti berhak!” Sebaliknya, secara teologis pula
seorang Muslim juga akan dengan tegas mengatakan, “Sama sekali tidak berhak!”
Di sinilah keneltralan menjadi hilang. Meski demikian, masih terdapat dasar
tinjauan yang netral dan objektif, yaitu sejarah.
Perjalanan Bangsa Yahudi
Bangsa Yahudi
yang tinggal di Kana’an dan Mesir telah melahirkan tidak hanya seorang nabi,
tetapi banyak nabi yang kini nama-nama mereka menghiasi kitab-kitab suci
Taurat, Injil, dan Al-Quran. Tetapi bangsa Yahudi tidak pernah benar-beanr
jaya. Ini disebabkan anak turun Nabi Ya’qub itu terkenal sombong dan suka
memberontak.
Ini
membangkitakn murka Allah, dan mereka harus menerima azabNya. Dalam QS
al-Isra:4-8 digambarkan betapa Bani Israil itu membuat kerusakan di bumi dan
berlaku sombong, angkuh, chauvinis (merasa paling unggul dan benar
sendiri). Allah pun mengazabnya, “Jika saat pertama dari keduanya itu tiba,
maka Kami utus atas kamu hamba-hamba Kami yang gagah perkasa, kemudian
mereka-mereka menerobos rumah kamu. Dan ini adalah peristiwa yang telah
terjadi” (QS al-Isra:5).
Kapan
peristiwa itu terjadi? Yaitu sekitar tujuh abad sebelum Masehi ketika bangsa
Babilonia yang dipim[in Nebukadnezar datang menyerbu Yerusalem dan
menghancurkan kota itu, termasuk Masjid Aqsha-nya. Kaum Yahudi bahkan diboyong
ke Babilonia untuk dijadikan budak. Inilah masa perbudakan (captivity), yang
menurut Bertrand Russel merupakan permulaan kaum Yahudi mengidap Messianisme.
Dan sebagai kompensasi, tumbuh keyakinan pada diri mereka bahwa mereka adalah
“Bangsa Pilihan.”
Kaum Yahudi
memang kemudia dapat kembali ke Yerusalem atas bantuan Persia yang telah
mengalahkan Babilonia. Mereka pun hanya mampu membangun kembali Haykal Sulayman
sekedarnya saja, sampai datangnya Herod, raja Yahudi keturunan Arab yang taat
pada Roma. Dengan kedudukannya, dia membangun kembali Haykal Sulayman, lalu
dikenal sebagai The Second Temple. Bangunan itu megah sekali, namun tanpa makna
mendalam.
Sekali lagi,
bangsa Yahudi ini menjadi congkak dan membuat kerusakan di muka bumi. Maka
Allah pun mengazab mereka untuk kedua kalinya, “…Dan bila tiba saat
peristiwa yang kedua, (kami biarkan musuh-musuhmu) menhancurkan martabatmu dan
memasuki, an menghancurkan apa saja yang terjamah tangan mereka” (QS
al-Isra:7). Peristiwa kedua ini terjadi sekitar tahun 70 Masehi karena dosa
mereka menolak kerasulan nabi Isa al-Masih dan menyiksa para pengikutnya.
Kaisar Titus
dari Roma meratakan Yerusalem dengan tanah dan mengahancurleburkan Masjid
al-Aqsho yang kedua yang telah dibangun. Yang tersisa adalah sebuah tembok,
tempat paling suci kaum Yahudi saat ini. Mereka beribadat dengan meratap tembok
itu mengenang nasib mereka, maka dikenal dengan “Tembok Ratap” (wailing wall).
Kaisar Titus
tidak hanya meluluhlantakan Yerusalem dan Solomon Temple-nya. Dia juga menindas
orang-orang Yahudi, kemudia menghalangi mereka tinggal di Kana’an (Palestina
Selatan) umumnya dan Yerusalem khususnya. Inilah permulaan masa Diaspora, yaitu
masa kaum Yahudi mengembara terlunta-lunta ke seluruh penjuru bumi, tanpa tanah
air. Kitab Suci mengisyaratkan kejadian itu dalam firman, “Kehinaan
ditimpakan atas mereka di mana pun mereka berada, kecuali dengan tali dari
Allah dan tali dari manusia, dan mereka kembali mendapat murka dari Allah dan
kenistaan ditimpakan atas mereka. Demikian itu karena mereka dahulu ingkar akan
ajaran-ajaran Allahdan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Itulah
akibat mereka durhaka dan telah melampaui batas” (QS Al-Imran:112).
Sedikit demi
sedikit kaum Yahudi mengumpulkan lagi kekuatan mereka. Bahkan pada tahun 132
mereka masih sempat menantang Roma lagi, yang kemudian dengan sangat kejam
ditindas oleh Kaisar Hadrian, melalui Jendral Severus, sehingga “darah
orang-orang Yahudi sampai mengalir seperti sungai dan harga budak di pasaran
merosot karena banjir lelaki dan perempuan Yahudi yang diperbudak dan diperjual
belikan.”
Karena ingin
melenyapkan Bangsa Yahudi untuk selama-lamanya, termasuk tanah suci mereka,
maka Yerusalem dibersihkan, kemudian dibangun sebuah kota kecil yang diberi
nama Aelia Capitolina, kurang lebih berarti kota suci untuk Dewi Aelia,
berhalanya Roma. Di atas Bukit Moria sendiri, yang semula tempat berdiri Haykal
Sulayman, berdiri patung Kaisar menghadap patung dewa pelindungnya, Jupiter
Capitolinus. Kemudian di Golgota kaisar Hadrian mendirikan kuil untuk berhala Venus,
sebagai penghalang agama Kristen yang mulai tumbuh di tempay itu, yang bagi
Hadrian tidak lebih daripada sebuah sekte kecil baru agama Yahudi.
Begitulah
keadaan Yerusalem selama sekitar tiga abad setelah kehancurannya. Pada abad
keempat Raja Konstantin (Pendiri Konstantinopel, setelah dikuasai orang-orang
Turki Muslim menjadi Istambul) masuk Kristen, dan menjadikan agama itu agama
kekaisaran Romawi. Maka Yerusalem pun dikuasai kaum Kristen dan berbagai tempat
yang diduga ada kaitannya dengan Isa al-Masih diagungkan dengan didirikan
bangunan-bangunan. Yang termegah sampai sekarang ialah gereja Holy Sepulcher.
Dokumen Aelia
Nama Aelia
tetap bertahan sampai ketika dia jatuh ke tangan kaum Muslim pada zaman
Khalifah Umar. Sewaktu kota itu jatuh ke tangan oarang beriman, Yerusalem
adalah kota suci tiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam. Karena pentingnya kota
itu bagi kaum Muslim, patriak Sophronius, penguasa lamanya tidak menyerahkannya
kepada umat Muslim kecuali jika pimpinan tertinggi mereka sendiri, yaitu Umar
bin Khatab datang menerimanya secara pribadi.
Kristen. Bunyi bagian pertama perjanjian amat
bersejarah itu demikian, “Inilah yang diberikan oleh hamba Allah, Umar
komandan kaum beriman, kepada penduduk Aelia tentang keamanan: dia memberi
mereka keamanan untuk jiwa dan harta mereka, juga untuk gereja dan salib-salib
mereka, untuk sakit dan yang sehat, dan untuk keseluruhan agamanya.
Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dirusak, dan (bangunan)
gereja-gereja itu sendiri ataupun sekelilingnya tidak akan dikurangi, begitu
pula salib mereka dan bagian apa pun dari harta mereka. Mereka tidak akan
dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak seorang pun dari mereka akan diganggu.
Juga tidak seorang Yahudi pun akan tinggal bersama mereka di Aelia……” (Muhammad
Hamidullah, Majmu’at al-Watsa’iq al-Siyasiyyah, Beirut, Dar al-Irsyad,
1969, H 380).
Sementara
itu, Islam juga membuka kota tersebut untuk kaum Yahudi. Atas permintaan
Kristen yang tidak ingin bercampur, kaum Yahudi pun ditempatkan tersendiri
menempati kaveling tertentu. Kaum Yahudi hidup bebas di zaman kekuasaan Islam
selama berabad-abad. Mereka menjadi penduduk kosmopolit, artinya dengan penuh
kebebasan berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk berbagai
keperluan, terutama berdagang. Dalam pelukan kekuasaan Islam mereka itu
bahagia sekali, lebih-lebih jika dibandingkan dengan keadaan mereka dibawah
kekuasaan Kristen Eropa.
Karena itu, sungguh ironis bahwa
sejak 1948 mereka merebut dan menjajah sewenang-wenang tanah Palestina, yaitu
bangsa yang sejak dahulu telah tinggal di situ. Itulah kezhaliman Yahudi, yaitu
kezhaliman kaum yang tidak tau berterimakasih kepada bangsa Arab yang telah
menyelamatkan dan melindungi mereka yang selama ratusan tahun terus menerus
dihalangi dan ditindas, pertama oleh Romawi yang pagan, kemudian oleh Romawi
yang Kristen.
Hukuman Allah
tidak akan berubah, yaitu bahwa “yang salah pasti seleh (hancur),”
maka dengan kezhalimannya itu bangsa Yahudi sebenarnya sedang menggali kuburnya
sendiri. Ini sejalan dengan peringatan tersirat dari Allah kepada nabi Ibrahim:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan berbagai perintah,
kemudian dipenuhinya dengan sempurna. Lalu Tuhan bersabda: ‘Sesungguhnya Aku
menjadikan engkau (Ibrahim) pemimpin umat manusia,’ Ibrahim menyahut: Dan juga
dari keturunanku? Tuhan menjawab, Perjanjianku ini tidak berlaku untuk mereka
yang zhalim.” (QS al-Baqarah:124).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar