Label
Akhmad Suherman
(50)
Album Foto
(21)
Arsip
(9)
Artikel
(34)
BDR TVRI
(3)
Bedaly Zone
(20)
BERITA & SOSIAL POLITIK
(10)
BLOG & ORANG
(10)
Brenkoque
(46)
CARA & GAYA
(11)
Den Herman
(41)
Desa Mergosari
(53)
DIARI KIAI
(49)
Etti Mayasari
(31)
GALERI ALBUM FOTO
(5)
Kab Banjarnegara
(3)
Kabupaten Wonosobo
(52)
Kecamatan Sukoharjo
(38)
KELUARGA PUCUK MERAH
(5)
MOBIL & OTOMOTIF
(1)
Mourin Villia Ghaisani Suherman
(56)
Mouza Shaquille Umaro Suherman
(3)
MUSIK
(12)
NARASI IKLAN PROMO
(1)
PENDIDIKAN
(7)
PERJALANAN & ACARA
(5)
pkh wonosobo
(49)
Teknik Arsitektur
(26)
WISATA KULINER
(1)
Selasa, 18 Maret 2014
Profil Kholiq ARif Wonosobo (Mantan Bupati Wonosobo)
Abdul Kholiq Arif – Tokoh yang khasrismatik ini dilahirkrkan disebuah kota kecil di Jawa Tengah, Kabupaten Wonosobo 47 tahun yang lalu atau tepatnya pada 16 September 1968. Sosok yang akrab di panggil Kholiq ini dilahirkan dari rahim ibu kandungnya yang bernama Hj. Ruqoyah. Kholiq merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara dan menjadi salah satu anak yang paling menonjol dalam biang politik, terlihat Kholiq mampu menjadi orang nomor satu di Wonosobo dengan menjabat sebagai Bupati Wonosobo. Kholiq kecil yang sudah terbiasa hidup dipesantren menjadikanya dirinya sebagai pribadi yang sederhana dan mampu berinteraksi dengan berbagai lingkungan, tak hanya dengan kaum pelajar, Kholik kecil bahkan mampu bergaul dengan para anak jalanan dan pengamen, hal ini dilakukanya untuk melatih kepekaan social terhadap sesama teman-temanya, disamping untuk menambah lebih banyak teman. Kholiq remaja, telah banyak mendapat tempaan yang cukup membuatnya menjadi orang hebat di Wonosobo, H Umar Sholeh sang ayahlah yang mengajarkanya. Kholiq remaja oleh ayahnya ini diajarkan untuk menjadi pribadi yang berkarakter, sederhana, dan mandiri. Untuk mendapatkan kepribadian yang demikian, pada saat remaja Kholiq dipondokan dipesantren. Salah satu Pesantren yang menjadi rujukanya adalah sebuah Pesantren yang berada di kawasan Magelang. Pesantren Darussalam Muntilan Magelang dibawah asuhan KH Abdul Haq inilah sebagai salah satu tonggak awal pembentukan karakter si Kholiq remaja. Kholiq remaja, mengenyam awal pendidikan formalnya di MI AL Falah Jaraksari, sekolah yang tidak begitu jauh dari Rumahanya, setamat di MI AL Falah Jaraksari tersebut, Kholiq melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di MTs Negeri Banjarnegara, lagi-lagi Kholiq berani mengambil resiko dengan mengambil dua jalur pendidikan sekaligus, yakni pendidikan fomal dan pendidikan non formal, selama ia menjadi siswa di MTs Negeri Banjarnegara, Kholiq juga menjadi salah satu santri di Pesantren Al Fallah Parakancanggah Banjarnegara, sebuah pesantren yang didirikan oleh eyang buyutnya. Setelah masa sekolahnya selesai di MTs Negeri Banjarnegara, H Umar Sholeh yang merupakan salah satu tokoh Nahdlotul Ulama (NU) di Wonosobo mengirimkan Kholiq muda ke tebuireng Jombang Jawa Timur sebuah kota yang menjadi tanah leluhur para pendiri NU, dengan harapan kelak Kholiq akan mampu meneruskan perjuangan para Alim Ulama pendiri NU. Saat menjadi santri di Tebuireng Jombang, Kholiq Kholi1 juga melanjutkan sekolah di SMA Wahid Hasyim, salah satu sekolah yang didirikan oleh pendiri pesntren tersebut. Namun naas bagi Kholiq, gangguan kesehatan banyak menyita waktu belajar di negeri pejuang kemerdekaan Indonesia, akibatnya, Kholiq muda harus kembali ketanah kelahiran (Wonosobo) meski demikian, setibanya di Wonosobo Kholiq yang memiliki keinginann belajar yang kuat berkeinginan keras untuk tetap melanjutkan sekolahnya. Beberapa saat setelah kepulanganya dari Tebuireng Jombang, Kholiq melanjutkan sekolahan formalnya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonosobo dibawah asuhan KH Muntha Al-Hafidz, salah seorang tokoh Ulama besar yang pesantrenya berdiri di kawasan Kalibeber, Mojotengah Wonosobo. Setelah lulus dari MAN Wonosobo, Kholik melanjutkan kuliahnya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kalijaga Yogykarta (sekarang UIN Yogyakarta) dengan mengambi Fakultas Syari’ah. Saat kuliah, Kholiq aktif diberbagai kegiatan kemahasiswaan, Kholiq juga memiliki hobi membaca dan menulis, oleh karnanya masa-masa kuliahnya ini dijadikan sebagai salah satu moment penting untuk belajar dengan para senior-seniornya yang ahli dalam Jurnalistik, tercatat beberapa nama ‘guru jurnalistik-nya” antara lain Imam Azis, Humaidi Abusami, Cholidy Ibhar, dan Ahmad Suady, dari para gurunya inilah yan menghantarkan Kholiq untuk menjadi salah satu Jurnalis yang handal. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari para guru jurnalistiknya inilah yang mampu mengantarkan Kholiq menjadi jurnalanalis, selain kepiawainya tentang menulis, Kholiq juga pandai dan lihai dalam mebaca realitas social, sehingga dengan keahlinya ini pulalah yang menjadi salah satu modal awal untuk meniti karier dalam mewarnai dunia politik di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Wonosobo. Tabloid Tebuireng Post, merupakan awal kariernya sebagai jurnalis selain menjadi Frelance dibeberapa media massa sehingga ia memilih untuk focus dan lebih mendalami sebagai Jurnalis murni dan terjun sebagai wartawan Harian Umum Jawa Post untuk wilayah Jawa Tengah dan Derah Istimewa Yogyakarta. Gayung-pun bersambut, atas konsistensi dan kinerjanya yang memuasakan, pada tahun 1997-1999 Pimpinan Jawa Pos Dahlan Iskan, mempercayai Kholik dengan memberikan tugas yang lebih besar yakni menjadi General Manager sekaligus menjadi Pimpinan Redaksi Harian Umum Satria Pos untuk wilayah Banyumas. Dua tahun kemudian, Kholiq bersama teman-temanya kembali ditarik kembali kedalam “kandang” managemen Jawa Post dan mendirikan Jateng Post serta beberapa Koran radar yang didirikan Jawa Post. Tahun 2000an, merupakan awal Kholiq meluai menjajaki dunia politik di Kabupaten Wonosobo, atas amanat dari Muhaimin Iskandar ketua umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Ketua DPC PKB Wonosobo (saat iru Idam Kolid) Kholiq diberi mandate untuk mendampingi H Trimawan Nugrohadi untuk menjadi Wakil Bupati 2000-2005. Proses karir politiknya pun cukup cemerlang, setelah lima tahun menjabat sebagai wakil Bupati Wonosobo, Kholiq, atas anamah dari guru spiritualnya Kyai Nastir Dalhar (Mbah Nastir) Tieng Kejajar Wonosobo menjabat sebagai ketua DPC PKB Wonosobo seklaigus sebagai ‘ancang-ancang’ untuk menjadi Bupati pada periode selanjutnya mengggantikan Bupati sebelumnya Trimawan Nugrohadi. Walhasil, pada tahun 2005-1010 jabatan Bupati Wonosobo menjadi milik Kholik dan Drs. Mutohar, MM sebagai wakil Bupatinya. Kholik yang memiliki prinsip “Melayani dan Bermanfaat untuk Orang Banyak” adalah kata kunci yang selalu dipegangnya sejak usia masil kecil, sehingga tugasnya sebagai pelayan masyarakat Wonosobo ia jalani dengan sebaik-baiknya dengan penuh ketulusan. Karirnya adalam bidang politiknya pun kian melambung tinggi, atas visi misi dan progamnya yang mampu mendorong dan mendukung masyarakat Wonosobo, Kholik kembali dipercaya oleh para Kyai dan mayarakat untuk kembali memimpin Kabupaten Wonosobo pada periode 2010-2015 dan Maya Rosyida sebagai wakil bupatiya. Kini, Kholik bersama wanita kelahiran Banjarmasin 24 Januarai 1979 Aina Liza telah dikaruniani anak-anak yang sholeh-sholehah. Anak pertamanya dilahirkan saat gejolak bangsa Indonesia dalam keadaan revormasi, Mikail Omar Ma’roov yang dilahirkan di Purwokerto, 6 Agustus 1998 saat Kholik masih menjadi wartawan. Anak keduanya bernama Omar Laits Asfa yang dilahirkan di Wonosobo, 20 Oktober 2001 saat Kholik menjadi Wakil Bupati. Anak ketiga yang lahir di Surabaya, 13 Agustus 2010 diberinama Siti Nuur Khadijah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar